Meteor Hajar Aswad

Americana menulis: Sekiranya orang2 Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun sholat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik. 

Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada. Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang sangat terang memancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka’bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya. 

Prof Lawrence E. Yoseph –menulis: “Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, karena thawaf dan sholat tepat waktu menjaga super konduktor itu.”

Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar. Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya gerakan thawaf haji dan umroh.

Subhanallah.

Advertisements

Nano Tech

Pencapaian teknologi manusia abad 21 telah sampai perekayasaan materi berskala mikro yang dahulu kala mungkin disebut ilmu sihir. Teknologi Nano telah berkembang pesat untuk mewujudkan segala keajaiban yang memudahkan hidup manusia. Dunia kini mulai dialiri produk-produk berbasis nano dan tak lama lagi akan membanjiri pasar dan mempengaruhi kebudayaan. Mulai pengering rambut yang sekaligus membasmi ketombe, plester penutup luka yang bisa merangsang pertumbuhan kulit sampai oli mesin yang mengandung molekul pintar supaya mesin awet. 

Para ahli rekayasa nano meramalkan sebelum abad 21  berakhir ,manusia sudah menikmati mobil yang bisa memperbaiki catnya sendiri apabila tergores dan ban yang menyesuaikan medan jalan.

Teknologi nano penggunaannya pun tidak hanya untuk rekayasa pengembangan material anorganik namun merambah pula pada materi organik.Para pakar menamakannya Bionanoteknologi,memadukan kecanggihan nano untuk perekayasaan bioteknologi di level gen atau sel makhluk hidup. Produk yang dihasilkan adalah varietas tanaman unggulan,terapi sel kanker dan lain-lain. Suatu saat fantasi manusia untuk menciptakan manusia bionik akan benar-benar terwujud dengan dibuatnya mesin-mesin berukuran nano yang bisa beradaptasi dengan tubuh manusia.

Pemanfaatan Teknologi nano dalam dunia farmasi dapat berperan dalam meningkatkan kualitas produksi dan keamanan.  Menurut pakar teknologi nano ITB, Prof. Dr. Heny Rachmawati dalam siaran persnya pada tahun 2011, “teknologi nano merupakan salah satu teknologi yang mampu mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi di segala bidang, teknologi ini memungkinkan suatu produk dipecah menjadi skala nanometer atau sepermilyar meter. Produk yang berteknologi nano akan lebih cepat diserap sehingga dari segi penggunaan lebih efisien. Teknologi nano di bidang farmasi saat ini banyak digunakan untuk ekstrak obat-obatan tradisional seperti ginseng, juga kandungan kosmetik seperti krim tabir surya. Ginseng yang diolah teknologi nano mampu diserap tubuh dan menjadikan Ginsenosides (kandungan Ginseng untuk menghasilkan stamina) lebih tinggi dibanding ginseng lain”.

“Terkadang senyawa obat tertentu mengalami kesulitan untuk larut dan melakukan penetrasi. Di sinilah Teknologi nano dapat mengambil peranan,teknologi ini memungkin kan obat bekerja lebih efisien walau dengan dosis rendah”,jelas Heny. 

Penggunaan nanotech juga untuk meningkatkan serapan kandungan gizi makanan, Contohnya kandungan Kalsium dalam susu yang juga harus dibuat menggunakan teknologi nano agar dapat efektif terserap ke dalam tulang. 

Revolusi dahsyat di bidang farmasi dengan pemanfaatan teknologi nano untuk menciptakan obat berbasis gen atau sel bisa mengendalikan sel-sel kanker,bisa menolong menyembuhkan penyakit kanker yang susah diobati tanpa operasi. Vaksin-vaksin bisa dibuat untuk penyembuhan penyakit yang disebabkan bakteri atau virus yang kuat karena bermutasi. Pemanfaatan nanotech di bidang farmasi dan gizi bisa memanjangkan umur manusia.

Teknologi nano adalah penemuan terkini setelah sebelumnya dikenal dengan teknologi mikro untuk farmasi, makanan dan kosmetik. Teknologi ini bisa diterapkan untuk berbagai sektor industri. Mengingat untuk memproduksinya bukan hal yang mudah, membutuhkan keahlian, evaluasi, modifikasi, dan tentu infrastruktur yang mahal sehingga tercipta produk berskala nano. 

Manfaat teknologi nano memang membantu kualitas hidup manusia, namun di sisi lain manusia harus waspada agar kasus seperti bencana material nuklir tidak menimpa pula pada nano. Karena manusia belum pernah mengalami dampak yang serius dari teknologi nano. 

Novel : Out Thing

Satu

Maksum membuka mata pelan-pelan untuk keluar dari tabir maya yang memisahkan alam mimpi dan alam nyata. Matanya masih panas. Kepalanya pening. Baru dua jam dia tidur setelah bergumul dengan Nikmah,istrinya, dua babak.

Maksum bertekat untuk bangun karena harus kerja. Sepengetahuan orang lain, dari senin hingga sabtu Maksum ke pabrik adalah untuk bekerja.Orang lain tidak tahu bahwa sejak tiga bulan lalu pabrik menghentikan sementara produksinya karena kesulitan pemasaran dan gonjang-ganjing pergantian pemilik dan juga manajemen pabrik. 

Dengan mengerahkan segala daya dia mengusir kantuk yang menggelayuti mata dan punggungnya. Di luar, corong masjid melantunkan ayat-ayat Alquran kemudian diteruskan dengan azan subuh.

Maksum bangkit dari ranjang dan menguap lebar. Turun dari ranjang kemudian berjalan tersuruk-suruk seperti zombie sambil merem-melek. Langkahnya menuju tembok sisi selatan dimana dia menggantungkan handuk. Sekali jurus handuk yang tergantung bersama celana kerja dan beberapa stel pakaian sudah di pundaknya lalu dia membuka pintu yang dekat dengan tangan kanannya. Sebelum keluar kamar, dia menengok istrinya yang masih pulas di ranjang, hanya tertutup kain sarung. Nikmah masih menikmati tidurnya padahal biasanya dia yang bangun lebih dulu. Mungkin kecapekan setelah melayani birahi Maksum yang meluap-luap semalam.

Terbayang kedamaian di wajah Nikmah yang membuat Maksum tersenyum. Dan Maksum keluar ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandi jinabat agar dapat menunaikan sholat.

Di lorong rumah indekos keadaan masih lengang. Di dapur, juga di petak cucian, para penghuni rupanya belum pada bangun. Nggak biasanya begini ,pikir Maksum. Setiap subuh biasanya sudah ada yang sibuk masak atau nyuci. Otak Maksum jadi plong merasakan bisa melenggang bebas ke kamar mandi.

Selesai mandi , Maksum membangunkan istrinya supaya mandi jinabat juga. Saat istrinya mandi , Maksum kembali rebah di ranjang, menunggu sang istri selesai mandi untuk menunaikan solat berjamaah. Di saat penantiannya itu, Maksum lagi-lagi diserang setan kantuk. Dia berjuang keras membuka mata. Dua mata. Ketika dua matanya tak bisa dipertahankan berbarengan , dia mencoba membuka satu mata bergantian. Apa saja dilakukan seperti mengerjap-ngerjap dan memijit-mijit sekitar mata. Tapi setan lebih digdaya, Maksum pun terlelap.

Beberapa saat kemudian dia terbangun . Rasanya ada yang mengguyur mukanya. Saat matanya terbuka, dilihatnya Nikmah sedang memegang gelas berisi air. Sebagian isinya telah mendarat di muka Maksum, membuatnya tergagap seperti habis tenggelam.

” Maahh, kalau ngasih air kira-kira yoo..!”

Nikmah tersenyum ,” ya sudah aku kira-kira Mas, kalau nggak , kasurnya basah semua yoo..”.

Sebenarnya Maksum sendiri yang memberi mandat kepada Nikmah supaya menyiram mukanya jika dia susah melek. Meski begitu dia tetap dongkol juga.

Jam lima, rumah indekos mulai gaduh. Ada yang sibuk dengan alat dapur, ada yang membunyikan musik , dan ada yang momong anak. Suara pria dan wanita bersahutan, rupanya membicarakan acara tivi semalam. Maksum sendiri tidak nonton tivi , habis isyak dia sibuk di ranjang.

Rumah indekos memiliki sepuluh kamar dengan posisi berhadap-hadapan antara lima kamar. Dipisahkan koridor selebar satu meter. Seluruhnya dihuni oleh para buruh pabrik . Dan sebagian besar adalah buruh yang bekerja di pabrik yang sama dengan Maksum.

Tempat itu tergolong paling bagus. Kamar-kamarnya besar dan berlantai keramik putih yang selalu tampak bersih.Di luar kamar dilengkapi fasilitas dapur yang lapang, tiga kamar mandi , kakus dan petak untuk menyuci pakaian. Tuan rumah juga menyediakan tempat untuk menampung sepuluh sepeda motor. Tempat itu juga dekat dengan pabrik. Rata-rata para penghuni mengaku betah tinggal di situ.

Semua fasilitas itu harus dibayar sembilanpuluh ribu rupiah per bulan. Ongkos segitu tergolong murah bagi buruh yang mendambakan kenyamanan indekos di daerah pinggiran Surabaya. Di tempat lain biasanya hanya dapat kamar kecil minim fasilitas. Tak jarang dikenakan biaya tambahan untuk pemakaian listrik menurut barang elektronik yang dibawa ke kamar indekos.

Pemakaian listrik bagi para penghuni di tiap kamarnya los karena berdaya besar, tapi harus pandai membagi pemakaian, kalau tidak ,listrik akan gampang njeglek. Para penghuni rata-rata membawa televisi, video player, magic jar, kipas angin plus setrika listrik. Kalau semua diaktifkan berbarengan pastilah overload sehingga arus listrik putus. Mau tidak mau mereka harus saling tenggang rasa dan tidak mementingkan keperluan sendiri.

Setelah solat Nikmah beranjak ke dapur membuatkan sarapan dan wedang kopi untuk Maksum. Sementara Maksum masih duduk bersila di lantai beralas sajadah dengan kedua tangannya menadah dengan khusyuk. Setelah mengajukan segala permohonan kepada Tuhan, Maksum melipat sajadah , menyampirkannya di mahkota ranjang lalu duduk di kursi plastik dan menyetel radio untuk mendengarkan program favoritnya. Suara berat agak serak keluar dari speaker tape recorder merek Polytron yang diletakkan di meja dekat tembok sisi timur, menyapa para pendengar, “Assalaamualaikum warohmatullohi wa barokatuh, sohib muslim, pendengar Radio LABORA Fm yang dimuliakan Allah, ucapan syahadat , aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang aku sembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah, adalah deklarasi kemenangan bagi umat manusia yang telah keluar dari dunia kegelapan…”

Maksum terpaku di samping meja menyimak program radio yang berjuluk ‘Pedoman Hati ‘, program ini berisi tausyiah dan tanya-jawab soal agama yang diasuh oleh lima ustadz secara bergantian . Hari selasa ini diisi oleh ustadz Tanzil . Terdengar suaranya yang khas meyakinkan pendengarnya , ” syahadat adalah sumpah pusaka yang lebih agung dari sumpah-sumpah yang lain. Ini pernyataan takluk kepada Sang Khalik, Pencipta, Pemilik dan sekaligus Penggerak alam semesta dan segala jenis makhluk.

Syahadat merupakan pijakan dasar untuk membuka jalan ke derajat kemuliaan yang paling tinggi di sisi Tuhan yang hakiki. Sohib muslim, jalan hidup yang mesti ditempuh oleh orang yang telah bersyahadat tidaklah mudah. Memang , setelah dia mengambil syahadat, Alloh mengangkat derajatnya di atas umat manusia yang lain. Lantas apakah sudah selesai urusan syahadat ini ?, lantas memperoleh kesenangan hidup begitu saja, dan bisa lenggang kangkung lalu meloncat mulus ke surga ?.

Apabila kita beranggapan seperti itu maka kita tersesat kembali setelah mengambil jalan yang benar. Sohib muslim, setelah bersyahadat kita telah menjadi seorang muslim yang artinya orang yang menyerahkan diri dengan tunduk kepada hukum-hukum Allah. Apa konsekuensinya?, seluruh jiwa raga, seluruh lelaku dan sikap, apa-apa yang ada pada diri kita, kita persembahkan hanya untuk Allah. Tak ada Tuhan lain, berhala atau dewa yang patut disembah dan menjadi tujuan kita mencurahkan seluruh hidup dan ibadah kecuali hanya kepada Allah…”

Nikmah kembali ke kamar mengantarkan sepiring nasi dengan mi goreng instan plus irisan bawang putih lalapan kesukaan Maksum dan segelas kopi ke meja. Maksum menerimanya dengan sorot mata yang mengatakan terima kasih dan segera melahapnya. Nikmah biasanya ikut makan tapi kali ini dia keluar lagi sambil membawa bak berisi baju-baju kotor. Sementara suara ustadz Tanzil yang mengisi ruang kamar mereka masih terus tersiar…

” kehidupan kita sepenuhnya milik Allah, karena asalnya dari Allah maka semuanya akan kembali kepada Allah. Tak ada yang lebih indah bagi seorang muslim selain kembali kepada Tuhannya dengan membawa keimanan dan amal soleh serta beroleh kebahagiaan surga di sisiNya.

sebagai muslim kita tidak bisa senantiasa hidup enak atau setiap hari bisa berleha-leha dan berhura-hura, tapi sebaliknya kita ditantang oleh Allah untuk melewati bermacam ritual seperti solat , puasa, mengeluarkan sebagian harta, berqurban dan berhaji serta amalan-amalan lainnya seperti yang dicontohkan nabi…”.

Selesai sarapan dan minum air dari botol plastik, ganti wedang kopi yang digasak. Kemudian dia menukar bajunya dengan seragam kerja, kaos biru dan celana hitam. Setelah merapikan rambutnya di depan cermin, dia kembali duduk di samping meja, menyimak lagi ceramah radio dengan ditemani sebatang rokok.

Dari radio terdengar ustadz Tanzil membacakan ayat 214 surah Al Baqara dan sampai pada ujung ayat ,”…mata nashrullah, ala inna nashrullah koribun, ataukah kamu kira bahwa kamu akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepadamu seperti yang pernah datang menimpa orang yang telah lalu sebelum kamu : telah menimpa mereka malapetaka dan kesengsaraan dan mereka digoncangkan sehingga berkata rasul dan orang-orang beriman bersamanya : kapankah pertolongan Allah datang ?, ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat “.

Maksum merinding mendengar bunyi ayat itu. Ustadz di radio itu seolah tahu situasi yang dihadapinya saat ini dan menujukan ayat itu khusus kepada dirinya. Saat ini nasib hidupnya memang sedang digoncang. Pekerjaannya terancam dan hari demi hari dibayangi kesengsaraan. Walaupun malapetaka hebat belum benar-benar datang seperti yang pernah dirasakan oleh rasul dan pengikutnya dulu, namun kecemasan telah menggerogoti Maksum selama tiga bulan ini. Dan dia berharap apabila kesengsaraan itu benar-benar terjadi , pertolongan Allah segera datang .

Allah punya rencana bagi setiap makhlukNya dan tak jarang rencanaNya itu berbeda dengan keinginan makhlukNya . Apapun rencanaNya kini yang pasti sangat memusingkan . Hidup sebagai pekerja dengan upah minimum sudah sulit ditambah tanggung jawab sebagai ketua serikat pekerja yang harus memperjuangkan rekan-rekan sekerja semakin menambah beban hidup Maksum.

Maksum dan kawan sesama pekerja di PT. Gramianfood tengah menghadapi dilema . Sebuah konsorsium investor yang selama ini memberi dana pinjaman pada PT. Gramianfood mengambilalih manajemen perusahaan demi menyelamatkan aset-aset perusahaan yang telah diklaim menjadi milik mereka karena pemilik Gramianfood gagal memberikan keuntungan dan tak bisa melunasi hutang-hutang yang jatuh tempo.

Semula akuisisi itu dianggap cara yang baik oleh serikat pekerja . Harapan mereka perusahaan kembali sehat dan itu berarti masih ada pekerjaan . Tapi kenyataannya , perusahaan berpindah ke tangan orang-orang kapitalis tulen yang menerapkan cara-cara seperti pengusaha perkebunan jaman kolonial. Mengelola perusahaan dengan prinsip ekonomi paling rakus di bawah bendera NEOCAP. Sebuah grup investasi yang banyak mengambilalih perusahaan teknologi, farmasi dan makanan di berbagai negara.

Dibawah kendali manajemen baru, serikat pekerja disodori proposal dengan dalih untuk menyehatkan perusahaan. Kebijakan itu mungkin strategis bagi NEOCAP , tapi tragis bagi serikat pekerja. Bagaimana tidak tragis, begitu Ryo, si GM baru masuk kantor tiga bulan yang lalu, tanpa basa-basi atau beramah tamah dengan serikat pekerja langsung menyodorkan dua opsi kepada para pekerja. Kedua opsi itu tidak ada yang enak untuk dipilih. Pertama, PHK dengan pesangon dua kali gaji sebulan atau kedua, tetap bekerja tapi dengan status pekerja baru, itu sama dengan masa kerja kembali nol.

Ryo memberi waktu dua bulan agar para pekerja berpikir untuk menentukan pilihan. Oleh Maksum diulur ulur sampai tiga bulan ini sambil dia berusaha melobi GM baru itu agar tetap menggunakan perjanjian kerja bersama sebagai acuan untuk menelorkan kebijakan.

Ryo menganggap PKB itu sudah tidak relevan dengan kondisi perusahaan sekarang yang sudah ganti pemilik dan butuh restrukturisasi untuk membangun kembali perusahaan agar tidak kolaps. Salah satu upayanya adalah mengurangi ongkos buruh yang rata rata memiliki masa kerja 15 tahun.

Padahal jelas undang-undang ketenagakerjaaan menyatakan bahwa PKB tetap berlaku sampai berakhir jangka waktunya meski ada pengalihan kepemilikan perusahaan.

Maksum stress. Tapi sestress stressnya Maksum, dia masih pegang teguh petuah ibunya : jadikanlah solat dan sabar sebagai penolongmu.

Sejak lama Maksum tahu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang abadi kecuali perubahan, dan menyikapinya dengan menerima setiap perubahan dengan belajar beradaptasi. Belajar apa saja demi menyocokkan diri dengan kondisi. Tapi tetap saja perasaannya sungguh meradang begitu menghadapi perubahan yang hampir mendekati kenyataan, karena kenyataannya sangat membuat gentar. Menit demi menit bergeliur menggores-goreskan gambar perubahan hingga tampak lebih kentara. Tampak seperti lukisan yang didominasi warna kelabu…

Ustadz Tanzil masih meneruskan ceramahnya, “…berjuang, berjuang dan bersabar itulah yang harus dilakukan seorang muslim. Kalau umat lain berjuang untuk kejayaan yang berarti menangguk kekayaan jutaan dollar dan simbol-simbol kesuksesan lainnya, tidak dengan umat muslim. Umat muslim berjuang untuk menegakkan keyakinan dan syariat islam demi merengkuh ridho Ilahi. Umat muslim tidak dilarang untuk kaya dan sukses. Umat harus kaya dan bermartabat, beradab, berbudaya, tapi yang lebih penting adalah sukses meraih ridho Allah, sukses membantu sesama sukses membina akhlak istri dan anak-anak, sukses mendapatkan dipan-dipan yang dikelilingi pelayan dan jamuan abadi di surga. Sohib muslim selamat berjuang, tentunya tanpa pamrih duniawi , hanya mengharap ganjaran dari Allah. Semoga sukses beramal hari ini…”.

Setelah ustadz Tanzil mengucapkan salam untuk undur diri, Maksum lantas berdiri dengan dada mantap. Jiwanya bergolak setelah dipanasi tausyiah dari radio. Dia ingin segera keluar ke jalan dan teriak-teriak membakar emosi teman-temannya,’ jangan takut, rejeki di tangan Allah, maut di tangan Allah, ayo maju ambil hak-hak kita !’.

Dia pamit pada Nikmah di petak cucian dengan menyembunyikan tekat ,’Nikmah masmu mau berjuang sampai kaki putus atau sampai mampus demi Allah untuk kebahagiaanmu juga sayang !’. Seolah membaca pikiran suaminya, Nikmah yang sedang mengucek kaos t-shirt di bak cucian ,berkata, ” hati-hati ya mas !”.

Matahari telah mengganti keadaan gelap menjadi terang dengan sinarnya yang masih sejuk saat Maksum keluar dari rumah indekos. Diteras dia menjumpai dua orang sesama penghuni yang juga rekan sekerja di pabrik,meluncur meninggalkan teras.

Maksum memanggil keduanya,”Long ! Her !”.

Membuat mereka berhenti untuk menoleh kepada Maksum yang menyusul mereka untuk jalan bareng, jalan pelan-pelan melewati gang yang ada diantara rumah indekos dan rumah Abah Basori, pemilik rumah indekos.Posisi rumah indekos ada di belakang rumah Abah Basori. Selanjutnya mereka memintas tanah kosong,juga milik Abah Basori menuju jalan kampung berpaving.

Ketiga pekerja yang sama-sama mengenakan seragam pabrik berupa kaos T-Shirt biru yang depan-belakangnya ada logo perusahaan dan celanahitam itu seolah pergi tanpa tujuan yang jelas,tanpa semangat kerja yang bergas. Seperti terlihat dari sandal jepit mereka.

Orang yang dipanggil Long, berjuluk Plolong, karena memiliki mata lebar dan bola matanya tampak seakan mau meloncat. Nama aslinya Marsudi, usianya sebaya dengan Maksum, 36 tahun. Plolong berjalan diantara Maksum dan Heri. Berjalan dengan gaya seperti Shaggy, rekan Scooby Doo yang selalu tampak santai.

Plolong memulai percakapan dengan nada ogah-ogahan diikuti bayangan tubuhnya yang memanjang ke arah barat.

” Nanti mulai produksi lagi ya ?”, katanya pada Maksum di sisi kanannya.

” Ya, aku dengar begitu “, jawab Maksum.

” Apa masalah opsi itu sudah beres ?”.

” Belum ini nanti ada meeting lagi membahas masalah itu, nanti kita akan didampingi orang PC “. Yang dimaksud orang PC adalah Dewan Pengurus Cabang Serikat Pekerja Makanan dan Minuman Kabupaten Sidoarjo.

” Jadi belum ada keputusan ? “.

” Belum , kita masih terus berunding, mereka gak bisa seenaknya”.

Heri yang bertampang pendiam ikut nimbrung,” kita nanti mau mogok Long,masak kita disuruh ikut menanggung hutang perusahaan !”.

Plolong kaget,” Hah , gimana kok sampai begitu Sum ?”.

” Mereka memelintir isi PKB, Long “.

” isi yang mana ?”.

” Di PKB ada tertera pasal : bersama-sama ikut mengembangkan perusahaan dan mengatasi masalah-masalah perusahaan,tapi gak ada undang-undang yang menguatkan bahwa pekerja diharuskan ikut menanggung hutang-hutang perusahaan akibat salah urus manajemen perusahaan ” .

Percakapan pun jadi panas. Plolong lantas ngoceh tentang resiko yang memang seharusnya ditanggung pengusaha.

Tindak tanduk mereka di awasi oleh sekumpulan ibu- ibu yang merubung dagangan tukang sayur keliling. Mereka pun sadar obrolan mereka memancing perhatian ibu-ibu karena ramai banget. Mereka mengalihkan mulut untuk menyapa ibu-ibu RT 1 RW 2, Desa Karangbungitu. Mereka kenal baik dengan ibu -ibu itu dan keluarganya hasil sosialisasi mereka kos di RT 1 RW 2, Desa Karangbung selama belasan tahun.

Sejak awal bekerja di Gramianfood hingga kini, berarti Maksum telah berinteraksi dengan lingkungan desa itu sekitar limabelas tahun lebih. Dia masuk bareng Plolong. Daerah asal Maksum Waru Sidoarjo, sedangkan Plolong Mojosari Mojokerto. Tapi Plolong indekos lebih dulu setelah menikah, disusul Maksum dua tahun kemudian. Sedangkan Heri yang bertampang dingin mirip Ariel Peterpan tapi berkulit gelap, asalnya dari Madiun. Masa kerjanya lebih muda daripada Maksum. Seperti kebanyakan anak-anak Madiun lainnya , dia juga berlatih pencak silat. Itu membuat tubuhnya gempal. Usianya kini 30 tahun dan masih betah membujang.

Pagar tembok pabrik setinggi tiga meter sudah kelihatan saat mereka berbelok ke kanan mengikuti alur jalan. Mereka harus melewati lagi sebuah belokan ke kiri untuk menuju pintu pabrik khusus karyawan yang ada di dekat jalan raya by pass Krian. Masih 800 meter lagi dari tempat mereka berjalan sekarang. Perusahaan membangun pagar tembok cor mengelilingi tanah seluas 486 meter kali 124 meter persegi. Dulunya merupakan lahan persawahan milik keluarga abah Basori. Pada era 90-an perkembangan industri di Sidoarjo yang pesat membutuhkan lahan yang sangat luas. Dengan cepat industri telah mencaplok lahan-lahan di wilayah timur dan selatan Sidoarjo. Para pengusaha pun berbondong-bondong mencari lokasi di wilayah barat, kawasan Krian dan Balongbendo, baik pemain lama maupun baru.

Entah kebetulan atau tidak, pemerintah pada pertengahan dekade 90-an membuka jalan bypass Krian. Pembukaan bypass itu bertujuan untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi di jalur lama yang melewati pasar Krian. Dengan cepat lahan yang ada di kanan-kiri jalan bypass pun mendadak laris. Harganya pun menjulang. Padahal sebelum bypass dibuat, orang yang mau beli tanah disitu berpikir seribu kali walau harganya murah. Dengan cepat lahan-lahan itu pun beralih fungsi menjadi pabrik, garasi truk, pom bensin , rumah sakit dan tempat pelatihan calon TKI.

Adanya jalan bypass yang lebih lebar dan terbagi dua jalur banyak membantu kelancaran arus kendaraan , baik yang menuju Mojokerto maupun arah sebaliknya menuju Surabaya. Tidak harus tertahan lama-lama di kawasan pasar Krian. Kecepatan arus kendaraan itu membantu percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sidoarjo bagian barat. Tidak cuma itu, berpengaruh juga bagi perkembangan kota-kota seperti Mojokerto dan Jombang.

Sebelum kawasan jalan by pass berubah menjadi kawasan industri,beberapa spekulan tanah mengendus rencana para investor yang ingin membangun pabrik atau membuka usaha di kawasan itu. Mereka pun berlomba -lomba membeli tanah warga di sepanjang jalan by pass, atau hanya jadi makelar dengan mengutip komisi gede. Hingga membuat harga tanah jadi lebih mahal dari NJOP. Peluang bisnis ini tak dilewat kan oleh Abah Basori. Dia berhasil mengumpulkan modal untuk membeli tanah- tanah persawahan milik saudara-saudaranya. Lantas bersama tanah sawah warisan jatahnya sendiri,dia jual semuanya kepada pemilik Gramianfood yang lama, langsung tanpa perantara. Harganya lebih murah daripada tanah-tanah yang dikuasai spekulan,tapi Abah Basori masih mengantongi untung berlipat-lipat.Tanah itu diperuntukkan bagi proyek relokasi pabrik Gramianfood yang semula berada di Surabaya.

Transaksi tanah itu membuat Abah Basori menjadi jutawan baru. Dia yang semula sopir angkot berpenghasilan seratus ribu per hari berubah jadi juragan di desa Karangbung. Dia bisa menunaikan ibadah haji dan membeli armada angkutan, mulai angkot,mobil sewa, juga truk untuk disewakan.

Era pertanian pun berakhir.

Para pekerja Gramianfood terlihat menyemut di jalan berpaving yang menuju arah jalan bypass. Jalan itu tampak dipenuhi warna biru seragam pekerja. Di samping kiri mereka tembok pabrik sepanjang setengah kilometer lebih,sedang di sisi lainnya berupa tanah kosong milik pabrik sebelah. Tujuan mereka adalah pintu khusus karyawan di ujung tembok sana. Bayang-bayang mereka di tembok seakan diikuti oleh bayang-bayang PHK yang membikin resah. Rona-rona penasaran dan kuatir menyelinap dalam riasan wajah para pekerja wanita. Gincu-gincu keluh kesah menyisip di bibir mereka. Gimana nasibku nanti jadi penganggur,gimana nasib cicilan yang belum terlunasi, gimana nasib anak-anakku ?.

Maksum,Plolong, dan Heri ikut renyuh mendengar dan merasakan keluhan mereka seperti menghayati nasib mereka sendiri. Sepeda motor yupiter berhenti di depan mereka. Iwan, anak bagian packing, membuka kaca helmnya dan mengajak Maksum naik ke boncengan. Plolong dan Heri rela Maksum berjalan lebih dulu mendahului mereka karena dia sedang dibutuhkan untuk urusan yang mahapenting, yaitu mengkordinasi aksi mogok yang siap dilakukan beberapa menit lagi. Iwan yang menawarkan boncengan termasuk kordinator aksi. Dia pagi-pagi telah pergi ke rumah salahsatu pengurus cabang SPMM untuk meminta bantuan menguruskan perijinan aksi ke polisi .

“MInggir,minggir,minggir..”, teriak Iwan sambil mengklakson para pekerja yang menyemut di gerbang checklock. Mereka pun membelah seperti domba- domba yang digesah penggembala. Iwan membawa motornya sampai ke depan pos satpam,berhenti di depan pintu supaya Maksum bisa cepat masuk ke pos untuk menemui Udin,satpam yang sedang bertugas.

Maksum meloncat turun dari boncengan dan menemui Udin di mejanya yang sedang membuat catatan di buku besar.

“Din nanti jangan dibunyikan belnya ya,kita mau demo”.

“Oke Sum,aku dukung!”, kata Udin semangat.

“oke,terima kasih,kamu solider Din”.

“iya sih, nasib kita sama Sum, sama-sama terzolimi”.

Maksum menepuk nepuk pundak satpam Udin lantas bergegas keluar menuju kantor sekretariat serikat pekerja perusahaan yang ada dibelakang bangunan utama pabrik. Berjalan lagi sekitar lima menit ke arah selatan. Di luar tadi Maksum jalan dari selatan ke utara menuju pos cheklock, kini di dalam pagar pabrik, Maksud jalan balik ke arah selatan. 

Bangunan utama pabrik merupakan rumah raksasa dengan atap segitiga setinggi duapuluh meter. Membujur dari utara ke selatan dengan panjang dua ratus meter lebih . Dari arah tempat Checklock dalam jarak seratus meter, para pekerja dapat melihat pintu geser besar berwarna hijau yang menjadi pintu gudang penyimpanan barang produksi yang telah dipacking. Bagian ini memiliki teras setinggi satu meter dari muka tanah. Dibuat untuk mengimbangi ketinggian bak truk yang berguna dalam memudahkan pemindahan barang kiriman dari gudang ke truk. Untuk memudahkan identifikasi lokasi, terutama untuk pengecekan keamanan,bagian ini biasa disebut Pintu Utara.

Maksum menyisir jalur berbatu paving selebar lima meter, berjalan lebih dekat di sebelah area bangunan bengkel dan kantor, tempat tangki penyimpan minyak goreng,ruang kompresor dan mushola.Area itu berada di seberang timur pabrik. Beberapa mobil staf perusahaan pun mulai berdatangan .

Satu mobil yang pertama muncul melewati gerbang untuk kendaraan adalah mobil panther hijau yang dikemudikan Winardi, kepala bagian personalia. Kemudian mobil kedua menyusul masuk, AVANZA warna krem, yang disopiri sendiri oleh Gondo, kepala bagian produksi. Avanza lainnya mengekor di belakang mobil Gondo,mobil jemputan untuk staf akunting. Mobil-mobil dinas itu menuju tempat parkir khusus mobil staf yang ada di sisi barat.

Winardi yang paling dulu keluar dari mobilnya. Buru buru dia menutup pintu, berjalan ke arah para pekerja yang masih bergerombol di tempat parkir sepeda motor di sisi timur. Sebelum Winardi mendekat ke kerumunan pekerja, Iwan yang sudah memarkir sepeda motornya,menyongsong Winardi. Mereka pun terlibat pembicaraan singkat dan tampak jelas raut wajah Winardi jadi gusar. Winardi berjalan lagi menuju arah yang sama seperti yang diambil Maksum tadi, diikuti Iwan di belakangnya.

Sinar matahari belumlah panas terik, tapi sudah bikin kepala Winardi cenut-cenut begitu mengetahui aksi demo benar-benar dilaksanakan. Maksum telah merencanakan aksinya jauh-jauh hari. Segala prosedur sudah ditempuh. Upaya bipartit pun akan ditingkatkan menjadi tripartit,tapi sebelumnya manajemen harus ditekan lebih dulu dengan sebuah aksi.

Di dalam ruang kantor sekretariat PUK, yang biasa hanya disebut PUK,Maksum memeriksa ponselnya, barangkali ada SMS yang masuk. Setelah tak ada SMS , dia menerawangi ruang PUK, sebuah ruang 2X6 meter yang disediakan perusahaan untuk mengkoordinasikan segala macam kegiatan serikat. Hawanya pengap karena jarang dibuka. Di dalamnya terdapat perangkat satu buah meja,satu kursi plastik dengan sandaran,satu bangku kayu panjang dan sebuah lemari plastik tempat menyimpan arsip.Maksum duduk di kursi plastik di belakang meja seperti satpam, tapi bagi Maksum tetep saja seperti duduk di kantor, padahal pos satpam lebih bagus dari kantor sekretariatnya.

Di ruangan sempit itulah Maksum membicarakan permasalahan permasalahan rekan sekerja bersama para pengurus serikat pekerja yang lain dan dalam beberapa minggu ini semakin intens. Ruang PUK itu jadinya sering disambangi Maksum. Di ruang sempit itu Maksum merencanakan aksi mogok kerja, walaupun sudah beberapa bulan para pekerja tidak melakukan pekerjaan apapun karena adanya peralihan status perusahaan. Namun karena mereka akan dipekerjakan kembali dengan kondisi yang berbeda, maka dirasa perlu untuk menolak perintah bekerja itu.

Sementara itu para pekerja berangsur-angsur merapat di sisi timur bangunan pabrik. Jumlahnya sekitar empat ratus,bergerombol di seberang pintu ruang produksi atau pintu timur. Sebagian memilih duduk-duduk di teras mushola. Maksum akan hadir di meja perundingan mewakili mereka semua membawa misi suci seperti nabi Isa yang memintakan makan bagi bangsa israil. Mata mereka sedang tertuju pada Winardi yang berjalan menuju ruang PUK & empat orang kordinator mogok yang membuntutinya, mereka adalah Iwan,Amin,Tomo dan seorang wanita bernama Karti . Empat orang yang disebut terakhir itu bersama Maksum adalah lima serangkai tulang punggung PUK.

Mereka berlima bersama satu orang dari PC SPMM adalah delegasi yang akan maju berunding dengan orang -orang manajemen. Ini adalah pertemuan ketiga kalinya yang apabila gagal mencapai kata sepakat akan dilanjutkan ke tingkat tripartit atau mediasi. Maksum sendiri berharap kalau bisa permasalahan para pekerja Gramianfood tidak berlanjut ke tripartit atau sampai ke pengadilan, tapi bisa diselesaikan hari ini juga di dalam kantor pabrik sendiri . Kedua pihak bisa mencapai win-win solution dengan iktikad baik dan perusahaan segera berproduksi kembali. Tak ada syarat yang merugikan hak-hak pekerja dan tak ada PHK. Maksum akan berupaya keras mempertahankan pekerjaan di pabrik ini karena para pekerja masih punya tanggungan menyekolahkan anak-anak mereka yang rata-rata masih SD-SMP.

Apalah artinya uang pesangon 30 juta di tengah ekonomi negara yang himpit lilit seperti sekarang. Pasti pesangon yang tidak seberapa itu akan habis dalam waktu singkat. Itupun jika manajer yang baru sudi memberikan pesangon sebesar itu. Orangnya sungguh licin memelesetkan PKB. Bagi yang bisa berdagang, tak akan susah melamar pekerjaan lagi . Tapi bagi yang tidak berketrampilan dagang akan bersaing dengan angkatan kerja baru yang lebih fresh. Umur mereka rata-rata di atas 30,bukan termasuk syarat ideal dalam lowongan kerja seperti pada umumnya.

Maksum sedang melongok ke jendela ketika orang yang dipanggil Pak Win atau lengkapnya Winardi Prasetyo tampak berjalan dengan lambaian yang cepat,tegang, gusar menuju ke arah kantor PUK di depan para rekan rekan pengurusnya. Saat masuk ke kantor PUK mukanya seakan maumeledak.

“Sum,kok mogok begini, katanya kemarin mau meeting?”.

Maksum segera berdiri mencoba mengontrol emosi. “Ini tuntutan anak-anak Pak,mereka minta kejelasan masalah opsi itu dulu”.

“Tapi kamu bilang kemarin..”.

“Mereka mau bekerja kalau kami sudah berunding dengan manajemen untuk memutuskan solusi yang sama-sama enak”.

Iwan yang tinggi,kurus, keriting ikut unjuk bicara, “iya,Pak Win,pertemukan kami dengan Pak Ryo. Kami terpaksa mogok karena kebijakannya yang seenaknya sendiri. Ini Indonesia Pak,bukan India”.

Winardi geleng-geleng. Dadanya sesak menghadapi urusan mogok kerja ini. Sebagai kabag personalia dirinya telah lama akrab dengan urusan serikat. Dia telanjur kenal baik dengan jajaran pengurusnya. Semua

pekerja tahu siapa dia dan Winardi juga tahu semua person-person di pabrik ini. Asal usulnya dia hapal semua. Dia dari dulu tak berharap menghadapi mereka seperti dalam situasi saat ini. Selama 15 tahun jadi kabag personalia baru kali ini dia merasakan menghadapi pekerja Gramianfood demo mogok kerja.

Sebenarnya sejak awal Winardi tidak setuju dengan kebijakan Ryo yang menawarkan opsi dilematis pada pekerja. Membuat mereka serba sulit. Dirinya yang sejak lama komit dengan kesejahteraan pekerja juga dihinggapi dilema. Tapi sebagai bagian dari manajemen dia harus mendukung atasan seratus persen walau hati nuraninya menentang.

Sempat dia mengungkapkan pada Maksum betapa gilanya ide dari Ryo.Ekstrim dan menabrak aturan. Tapi Winardi juga berpesan pada Maksum agar sebisa mungkin tidak sampai menempuh jalur hukum. Sebab para pekerja akan kalah dana dan kalah waktu. Jalur hukum tidak bisa ditempuh sehari dua hari tapi bisa sampai bertahun-tahun. Di situlah para pekerja akan tidak tahan berurusan dengan hukum tanpa dana yang cukup. Apa mereka tidak butuh biaya untuk keluarga mereka? Bagaimana mereka dapat penghasilan kalau terus-terusan mengurusi kasus ketenagakerjaan yang mereka hadapi?.Winardi menghimbau agar Maksum melakukan pendekatan kooperatif untuk melunakan hati Ryo, bila perlu para investor yang ada dibelakang Ryo. Cukup bipartit. Namun upaya merayu manajemen tidak jua ketemu titik yang melegakan.

Manajemen selalu berdalih punya dasar hukum yang kuat untuk menawarkan opsi itu kepada para pekerja. Dasarnya adalah PKB yang ditafsirkan secara tidak patut dan tidak mengindahkan peraturan yang lain.

Ketika hanya 1 kata untuk “Hidup”

Anda baru sadar hidup,maksudnya menyadari anda adalah manusia yang hidup butuh makan, minum, nafas dan kasih sayang sejak kapan?. Anda pasti lupa kapan bahkan mungkin sampai jam ini anda belum sadar kalau anda adalah makhluk hidup yang dihidupkan dengan tujuan apa. 

Aku juga lupa kapan aku mulai sadar, mungkin sejak aku diajarkan ibuku membaca : Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi . Aku lantas sadar aku ada karena ada Bapak dan Ibu. Atau mungkin ilmu kehidupan aku dapatkan waktu aku mengaji di mesjid saat pak Ustadz menerangkan tentang Tuhan yang menciptakan kehidupan. 

Ya kehidupan tak bosan-bosan dibahas manusia sejak dulu kala. Bahkan sampai ada manusia yang mengaku sebagai Tuhan hingga manusia yang tidak setuju dengan gagasan adanya Tuhan yang menciptakan kehidupan. 

Manusia jaman sekarang sudah pada taraf pemahaman yang kompleks tentang Kehidupan. Kata orang dari jaman jahiliyah menuju jaman ilmiah. Orang jaman sekarang paham dan percaya petir tidak dikirim Dewa tapi karena tumbukan dua kekuatan awan yang berbeda. Dan orang jaman sekarang lebih percaya Google daripada Bibel. 

Orang jaman sekarang bisa disebut Relijius Teknologia atau menjadi Sekuler seutuhnya tanpa/percaya adanya Tuhan.