Kontemplasi Tahun 2016 (1)

Sehebat-hebatnya pengurus SPSI/Serikat Buruh pada akhirnya semua tergantung pada kondisi ekonomi perusahaan dan kondisi mental-fisik seluruh anggota 

Periode Tahun 2013- 2016 adalah  tahun penuh dinamika dalam sejarah ikut andil dalam kepengurusan SPSI karena jadi Ketua. Dianggap layak dan terpilih dengan suara terbanyak dalam Musnik menjadikan sedikit tersanjung juga terbebani tanggung jawab yang berat. Menatap tantangan yang kelak menjadikan diri ini dipuji atau dicaci. 

Kukatakan pada diri sendiri jadi Pemimpin harus siap segalanya. Apa artinya?  Siap kehilangan, siap berkorban, bahkan sampai siap mati pun. Ya ini harus dipersiapkan jadi pengurus organisasi Serikat Pekerja atau pengurus organisasi apapun, kebetulan dulu juga pernah jadi ketua RT yang bertugas untuk melayani keperluan warga. Jadi pengurus Serikat bebannya agak lebih berat dibanding jadi ketua RT karena kita dihadapkan pada hubungan INDUSTRIAL. 

Di satu sisi kita adalah pengurus Serikat yang punya tugas mengayomi anggota tapi disisi lain kita juga karyawan yang tunduk pada order perusahaan, beruntung Serikat Pekerja RTMM Manohara telah menjalin kemitraan yang baik. Tercatat hanya 1 x ada gejolak Karyawan vs manajemen itu pun saat Serikat baru lahir di Manohara yaitu Gejolak menuntut Persoanalia mundur hingga berujung unjuk rasa dan berakhir dengan pembubaran paksa karena unjukRasa menutup Jalan Raya Surabaya-Mojokerto dan lagi saat itu ada perhelatan penting di Jatim yakni PON 2000 yang pembukaannya di Sidoarjo. 

Apakah aku hebat?  Bagus saja tidak, tapi lumayanlah ada yang bisa aku banggakan sekaligus ada yang aku prihatinkan. 

Jadi Ketua PUK SPSI Manohara sebenarnya tantangannya tidak terlalu menyeramkan. Ini dampak kemitraan yang dibangun oleh pengurus2 terdahulu. Namun tahun 2016 benar2 tahun sulit bagi perusahaan dan itu jadi dilema buat pengurus periode 2013-2016. Perusahaan telah mengalami kegoncangan hebat akibat cash flow mengalami turbulensi. Ini seperti Pesawat terbang dalam cuaca buruk di angkasa mendadak naik lalu turun tajam. Keadaan yang terjadi di tahun 2016 adalah akumulasi kondisi turbulensi sejak tahun 2012. 

Pengurus SPSI &  Manajemen telah berusaha menahan2 agar tdk terjadi PHK Massal tapi pemasukan dan pengeluaran yang hampir seimbang bahkan kas perusahaan isinya cuma Lembaran2 tagihan dari pihak suplier bahan baku produksi. 

Hebatnya Manajemen masih mengakui bahwa ada lonjakan profit yang didapat untuk periode tertentu, tapi seakan tak ada artinya buat nutupi defisit dan mencicil hutang. 

General Manajer Mahaghora Grup yang membawahi manajemen Manohara menjlentrehkan semuanya melalui lembaran panjang agar PUK mengerti kondisi perusahaan. 

Inilah yang aku ingat omongan pak Belly waktu itu pas acara buka puasa bersama tahun 2015 :” Saya tidak keberatan upah pekerja berapa pun, malah secara pribadi saya senang upah pekerja tinggi karena dampaknya daya beli juga tinggi, orang akan membelanjakan uangnya dan ekonomi jalan, tapi orang2 jaman sekarang uangnya banyak untuk beli gadget, HP, PS, Laptop, dan kendaraan,alokasi untuk jajan sedikit akibatnya mereka cari jajanan yang murah, dan produk Manohara kategori jajanan yang mahal”

Bersambung…. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s