Ini yang Terjadi Ketika Orang Alami Fenomena Kesurupan

​- Di masyarakat, fenomena kesurupan beberapa kali terjadi. Nah, ketika seseorang disebut mengalami fenomena ini, sebenarnya dari sisi kajian psikiatri, apa yang dialami oleh yang bersangkutan?

“Secara psikiatri ada splitting secara personalitas. Terjadi disosiasi atau kehilangan asosiasi antara dirinya dengan kenyataan,” kata dr Tun Bastaman, SpKJ(K) dari RS Jiwa Dharmawangsa saat dihubungi detikHealth, Jumat (7/4/2017).

Dengan kata lain, disosiasi adalah kondisi di mana seseorang dalam keadaan tidak sadar dan dia menjadi orang lain. Setelah peristiwa itu terjadi, lanjut dr Tun, yang bersangkutan akan mengalami amnesia. Nah, amnesia inilah yang disebut sebagai ciri khas dari fenomena kesurupan ini.

Sebab, pada orang yang disebut kesurupan, setelah peristiwa itu selesai dia akan mengalami amnesia. Soal apa faktor yang menyebabkan terjadinya splitting, menurut dr Tun umumnya karena faktor emosi. Misalnya trauma yang berat. Ketika mengalami trauma berat, seseorang tidak bisa menanggung beban akibat trauma tersebut.

Baca juga: Seseorang Kesurupan Sampai Meninggal, Benarkah Bisa Terjadi?

“Kemudian diputus traumanya terus dia jadi diri yang lain. Trauma juga bisa muncul karena pengalaman masa kecil yang menyakitkan sehingga sangat berat bagi orang tersebut untuk menanggungnya,” tutur dr Tun.

“Kayak mendapat kekerasan saat kecil, karena terlalu berat traumanya, dia nggak mau mengingat. Terlebih, saat mengalami trauma yang berat ada defense mecchanism mental untuk memutus trauma berat itu dari ingatannya. Kemudian dia berubah jadi orang lain sehingga dia lebih happy,” imbuh dr Tun.

Nah, pada kasus yang menimpa seorang mahasiswa bernama Fabianus di Kupang yang meninggal setelah disebut mengalami kesurupan, dilaporkan Fabianus sudah sering mengalami kesurupan. Apakah hal ini bisa terjadi?

“Kalau terjadi berulang, dia bisa saja hilang timbul, fluktuatif. Bisa jadi pada kasus ini, ada hubungan dengan tekanan di dalam otak (tekanan intrakranial). Atau mungkin ketika tekanan di otaknya agak longgar, dia sadar, jadi kumat-kumatan. Ini tergantung posisi dan kondisi gangguan fisik. Misal tumor atau infeksi yang bisa mengakibatkan tekanan intrakarnial di dalam otak. Atau bisa juga ada gangguan pembuluh darah terus aliran darahnya tersumbat,” kata dr Tun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s