Quote 2

Masa yang akan datang hanya menakutkan bagi orang yang lebih suka hidup di masa lalu

Advertisements

Polisi Mutilasi Anak Kandung karena Didorong Halusinasi

​Sabtu, 27 Februari 2016 | 12:07 WIB

KOMPAS.com – Brigadir Petrus Bakus, anggota Satuan Intel dan Keamanan Kepolisian Resor Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, memutilasi Fabian (5) dan Amora (3), anak kandungnya, Jumat (26/2). Hasil pemeriksaan sementara, pelaku diduga mengidap skizofrenia.
Menurut pengakuan istri pelaku, Windri Hairin Yanti, sekitar seminggu sebelum peristiwa naas tersebut suaminya sering marah-marah sendiri di rumah karena merasa ada makhlus halus yang mendatanginya. Suaminya juga sering mendapat bisikan.

Hasil pemeriksaan sementara diketahui bahwa hal serupa dialami pelaku sejak berusia empat tahun. Saat masih kecil, saat muncul gejala marah dan mendengar bisikan, badan pelaku langsung demam.

“Dari laporan Kapolda, memang yang bersangkutan mengalami semacam kemasukan atau kerasukan sejak umur empat tahun. Penjelasan istrinya, pembunuhan didasari karena ia mengalami kerasukan,” ujar Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Badrodin Haiti, seperti dikutip dari Harian Kompas (27/2/2016).

Untuk memperjelas penyebab pembunuhan itu, Badrodin mengatakan, pihaknya tengah memeriksa kondisi psikologis Petrus melalui tes kejiwaan.

Halusinasi

Bisikan yang sering didengar oleh Petrus Bakus, menurut dr.Andri, spesialis kedokteran jiwa dari RS Omni Alam Sutera, Tangerang, Banten, mungkin termasuk dalam kategori halusinasi.

“Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa berat yang biasanya dijumpai pada pasien psikotik seperti skizofrenia, skizoafektif, bipolar dengan ciri psikotik, atau depresi dengan ciri psikotik,” kata Andri dalam tulisannya di situs Kompasiana .

Pada pasien skizofrenia, halusinasi pendengaran tersebut bisa bersifat menyeluruh atau berkomentar tentang pasien. Misalnya saja pasien merasa ada suara-suara di kupingnya atau hanya terdengar seperti siaran radio tanpa ada hubungannya dengan pasien.

Sementara itu, halusinasi yang bersifat menyuruh bisa membuat pasien melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya dan hal tersebut tidak bisa ditahan oleh pasien, termasuk melakukan pembunuhan.

Pada pasien depresi dengan ciri psikotik atau pasien skizoafektif sering kali gejala halusinasi sesuai dengan kondisi gangguan mood-nya.

Artinya, pasien depresi misalnya akan mengalami gejala halusinasi yang sifatnya berkomentar hal yang buruk tentang pasien, pasien bisa mencium seperti adanya bau busuk atau bau mayat, atau ada juga suara halusinasi yang menyuruh pasien untuk mengakhiri hidupnya.

Bisa diobati

Andri menjelaskan, gejala gangguan jiwa pada dasarnya bisa diobati dan hasilnya baik. Tetapi pasien sering tidak berobat karena tidak memiliki kesadaran untuk berobat.

“Halusinasi pendengaran merupakan gejala yang biasanya dapat ditangani dengan pemberian obat-obat antipsikotik secara adekuat. Jika membahayakan diri pasien dan orang lain, maka pasien yang mengalami halusinasi apapun diagnosinya perlu mendapatkan perawatan inap. Hal ini tentunya harus disadari oleh keluarga,” katanya.

Diagnosis yang tepat dan pengenalan yang dini akan gejala gangguan jiwa akan banyak bermanfaat bukan hanya untuk pasien tetapi juga untuk lingkungan sekitarnya. Pengobatan yang tepat dan segera akan menghindarkan kita dari kemungkinan kasus-kasus seperti Petrus Bakus terulang.

Posisi Manajer, Bolehkah Di-Outsource?

​Pertanyaan Saudara singkat tapi sangat luas, jadi agak sulit menangkap arah pertanyaan Saudara dan fokus pada (kira-kira) jawaban seperti apa yang Saudara harapkan. Saya berasumsi, mungkin maksudnya, adalah suatu -job – Manajer dijabat oleh tenaga kerja outsource (sumberdaya dari luar) yang Saudara istilah kan subkon atau -maksudnya- sub-kontraktor.

Berkenaan dengan itu, pada bagian awal yang perlu dipahami, bahwa Manajer adalah salah satu jenjang jabatan di suatu organisasi perusahaan –pada level- top management yang –pada umumnya- diposisikan setingkat di bawah Direksi (Board of Directors). Kalau masih ada (dibentuk) level jabatan di atas Manajer tersebut, biasanya diistilahkan

Senior Manager atau General Manager atau bisa juga dengan nomenklatur lain yang sederajat.

Dalam kamus disebutkan:

Manager, is a person who administers or supervises the affairs of a business, office, or other organization (Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary , 2004 p. 979).

Dengan begitu, seorang Manajer sangat dekat dengan Direksi, sehingga sering disebut “orang dalam”, orang kepercayaan , atau istilah lain “ management committee ” (committee-man ), bahkan masuk dalam tim “ board of management ” atau dewan pengurus/badan pengelola. Oleh karena kedekatannya, seorang Manajer lebih lazim direkrut langsung oleh Direksi melalui perjanjian kerja (dalam hubungan kerja ), sehingga -tentunya- memiliki rasa tanggung-jawab yang tinggi, punya kepedulian, dan punya rasa memiliki yang sangat kuat. Kalau tenaga kerja outsource , pasti tidak sedemikian itu, atau setidaknya sangat kurang.

Namun dalam perkembangannya, memang ada manajer-manajer tertentu yang tidak lagi direkrut langsung oleh pengusaha –employer – dalam hubungan kerja (berdasarkan perjanjian kerja ). Sebaliknya, ada beberapa perusahaan tertentu yang memang spesialis menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan profesional di bidangnya. Ada yang menyediakan jasa konsultan, jasa manajemen, jasa pemasaran, jasa hukum dan lain-lain, yang lazimnya mereka ini direkrut bukan dalam hubungan kerja (berdasarkan perjanjian kerja ,arbeidsovereenkomst), akan tetapi dilakukan atas dasar perjanjian melakukan jasa-jasa (overeenkomst tot het verrichten van enkelediensten), bisa secara personal, namun umumnya diperjanjikan secara korporat. Kalau melalui suatu perusahaan, maka perjanjian melakukan jasa-jasa dilakukan (diperjanjikan) atas dasar perjanjian kerja sama atau kemitraan (partnership agreement) antara business to business sesuai asas kebebasan berkontrak (beginsel der contractsvrijheid dengan prinsip pacta sunt servanda ).

Sebagai contoh, suatu perusahaan (user entity) membutuhkan seseorang yangpaham dan mengerti atau pakar mengenai strategi marketing and advertising untuk memperkenalkan dan menjual -hasil- produknya.

Perusahaan (user ) tersebut tidak perlu harus merekrut tenaga kerja profesional (SDM) secara langsung (berdasar employment relation), akan tetapi dapat bermitra dengan suatu perusahaan (lembaga) yangmenggeluti bidang dimaksud (melalui perjanjian jasa-jasa ) yang -bersedia- menyediakan SDM yang andal dan profesional untuk menjadi leader of excellence pada perusahaan user , khususnya pada divisi sales departement .

Demikian juga dengan jasa hukum bila suatu perusahaan (user ) membutuhkan SDM untuk menangani beberapa persoalan hukum yang (mungkin) sifatnya -hanya-sporadis dan fluktuatif . Dalam kaitan ini perusahaan ( user ) juga tidak harus merekrut (para) sarjana hukum –profesional – dengan segala macam spesialisiasi yang ada. Tetapi, cukup dilakukan melalui perjanjian (layanan )jasa-jasa hukum dengan suatu kantor konsultan hukum ( law firm) yang memiliki SDM profesional dengan berbagai spesialisasi personil yang kompeten dan berkualifikasi guna memberikan advis .

Dalam konteks yang lebih luas (makro), praktik seperti itu memang termasuk dalam kategori outsourcing . Karena Perusahaan (Kantor) Konsultan Pemasaran atau Konsultan Hukum tadi, akan mengirim personelnya (out-source) untuk menjadi leader dan me- manage (para)marketing officer /sales , atau (dalam konteks hukum) memberikan advis kepada para legal officer yang direkrut langsung oleh perusahaan (user ) melalui perjanjian kerja . Dengan demikian, tenaga kerja outsource dari perusahaan vendor/provider, hanya memberikan jasa-jasa konsultasi atau jasa advis atas dasar profesionalisme serta wawasan yang dimiliki. Sedangkan, teknis operasionalnya tetap dijalankan oleh pekerja/buruh perusahaan user yang bersangkutan.

Berkenaan dengan itu, praktik hubungan hukum antara Perusahaan Konsultan dengan SDM profesional yang “dikirim” (didistribusikan) ke perusahaan user dimaksud, tentunya dilakukan bukan dan tidak melalui perjanjian kerja (hubungan kerja), akan tetapi bisa jadi dilakukan -juga- atas dasar perjanjian melakukan jasa-jasa . Karena jika dilakukan melalui perjanjian kerja , maka terkesan “kantor konsultan” dimaksud berperilaku selaku “ outsourcing company” (perusahaan alih daya).

Kalau kita mencermati ketentuan alih daya dalam Pasal 64 UU No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”), bahwa suatu perusahaan (perusahaan pemberi pekerjaan, termasuk perusahaan pengguna jasa pekerja/buruh ) dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan (-nya) kepada perusahaan lainnya, yakni dengan perusahaan penerima pemborongan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan , atau dengan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh melalui perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh , maka konteksnya tentu saja berbeda.

Makna dari ketentuan Pasal 64 UU Ketenagakerjaan tersebut, bahwa yang diserahkan pada “ outsourcing agreement” adalah (paket) pekerjaan , yakni pekerjaan tertentu yang profesionalismenya ada pada pihak perusahaan. Dalam arti bukan hanya sekadar menghadirkan orangnya. Demikian juga, bahwa pekerjaan yang diserahkan tersebut, hanya sebagian, yakni pekerjaan penunjang (supporting ) ataukah kegiatan jasa penunjang (non-core business) dan tidak seluruhnya (sesuai “alur”) serta tidak boleh pekerjaan pokok (core business).

Dengan demikian, kalau ada perusahaan-perusahaan tertentu yang secara profesional “menyewakan” manajer-manajer tertentu -yang memang profesional dan kompeten di bidangnya- untuk ditempatkan dan dipekerjakan pada (suatu) perusahaan lain, sepanjang dilakukan atas dasar profesionalisme, dan hubungan hukumnya dilakukan atas dasar perjanjianperjanjian melakukan jasajasa (Pasal 1601 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ) dalam arti bukan atas dasar perjanjian kerja, maka hemat saya, sah-sah saja dilakukan. Akan tetapi, kalau itu diperjanjikan atas dasar perjanjian kerja dan bukan pada pekerjaan yang profesional, hemat saya itu adalah semacam sewa-menyewa manusia (human trafficking ) yang hampir-hampir sama dengan perbudakan ( modern slavery ) walaupun dalam konteks bisnis dan dalam bingkai yang lebih rapi, sehingga -mungkin- dianggap sudah lazim.

Semestinya praktik-praktik (tenaga kerja non-profesional ) semacam itu ditiadakan, dengan merekrut langsung kebutuhan tenaga kerjanya melalui perjanjian kerja (dalam hubungan kerja) di antara para pihak sesuai ketentuan alih-daya dalam Pasal 64, Pasal 65 dan Pasal 66 UU Ketenagakerjaan .

Blue Bird Tampik Go-Blue Bird Mengkanibal Aplikasinya Sendiri

​Jakarta, CNN Indonesia —

Kerja sama Blue Bird dengan Gojek dalam layanan Go-Blue Bird menyisakan satu pertanyaan: bagaimana nasib aplikasi MyBlueBird selanjutnya?

Pada September 2016 lalu, Blue Bird mengemas ulang aplikasi pemesanan taksi miliknya sendiri menjadi My Blue Bird. Aplikasi itu muncul beberapa bulan setelah pecah konflik antara pengemudi taksi konvensional dengan pengemudi angkutan daring.

Kala itu, Blue Bird juga memperkenalkan sistem pembayaran non-tunai mereka untuk pertama kalinya. Aplikasi My Blue Bird memberikan opsi pembayaran mulai dari tunai, kartu kredit, kartu debit, dan layanan saku elektronik e-voucher.

Lihat juga:

Go-Blue Bird, Bentuk Kemesraan Baru Gojek dan Blue Bird

Menanggapi nasib My Blue Bird, Direktur PT Blue Bird Adrianto Djokosoetono menampik tudingan akan menelantarkan aplikasi mereka sendiri dan beralih fokus ke layanan Go-Blue Bird saja.

“Kami mengedepankan omnichannel. Bagi kami ini kanal akses yang lebih luas ke masyarakat,” ujar Adrianto dalam perkenalan Go-Blue Bird di Jakarta, Kamis (30/3).

Ia menegaskan aplikasi My Blue Bird akan tetap bertahan meski layanan Go-Blue Bird meluncur.

Adrianto pun terang-terangan berencana membidik pengguna setia aplikasi Gojek yang berjumlah besar. Sejauh ini pengunduh aplikasi Gojek di Play Store mencapai lebih dari 10 juta kali.

Lihat juga:

Ojek Online Harus Tunduk Aturan Baru Kota Depok

Pada layanan baru bersama Gojek itu, pelanggan bisa memesan taksi Blue Bird di opsi layanan Go-Blue Bird. Secara prinsip, cara kerjanya sama dengan layanan Go-Car. Konsumen pun bisa memakai GoPay sebagai alat pembayaran taksi Blue Bird yang mereka tumpangi.

Namun ada satu perbedaan besar di layanan ini yaitu tarif yang ditentukan oleh argometer taksi, bukan dari aplikasi seperti halnya GoCar.

Layanan ini sudah bisa diakses pengguna ponsel Android dengan jumlah terbatas di lima kota yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Medan. Dalam beberapa pekan, layanan ini bisa diperoleh seluruh pengguna aplikasi Gojek.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kerja sama antara Go-Jek dan Blue Bird nampaknya bakal segera terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya, sebuah aplikasi bernama GoBird Driver sudah muncul di toko aplikasi Google Play Store.
Di dalam aplikasi tersebut, terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa aplikasi itu merupakan aplikasi khusus pengemudi taksi Blue Bird yang ingin mengambil pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Pantauan KompasTekno , Senin (14/11/2016), aplikasi GoBird Driver dibuat oleh PT Go-Jek Indonesia. Dengan kata lain, aplikasi tersebut besar kemungkinannya adalah aplikasi resmi.

Ada juga keterangan yang menyebutkan bahwa pengemudi taksi Blue Bird yang memakainya bisa mengaktifkan atau menon-aktifkan aplikasi sesuka hati. Saat aktif, maka pengemudi bisa menerima pesanan dari pengguna aplikasi Go-Jek.

Namun keterangan di aplikasi GoBird Driver tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara konsumen melakukan pemesanan, apakah bakal terintegrasi dengan aplikasi Go-Jek atau melalui aplikasi Blue Bird sendiri yang terpisah.

BACA JUGA :

Apa Bentuk Kerja Sama Antara Blue Bird dan Go-Jek?

Taksi BlueBird Perbarui Aplikasi MyBlueBird

Go-Jek Uji Coba Layanan Antar Obat

Begitu juga saat KompasTekno , mengecek aplikasi Go-Jek versi 2.9.0 di Android, sama sekali tidak terlihat adanya tombol atau fitur baru. Sedangkan fitur lama yang bisa dipakai memesan kendaraan roda empat untuk penumpang hanyalah Go-Car.

Public Relations Manager Go-Jek, Rindu Ragilia mengonfirmasi bahwa GoBird Driver memang dibuat untuk pengemudi taksi Blue Bird yang nantinya bisa dipesan lewat aplikasi Go-Jek. Menurutnya, aplikasi itu saat ini belum bisa digunakan.

“Aplikasi itu (GoBird Driver) untuk mitra pengemudi Blue Bird yang akan digunakan nantinya ketika layanan kerja sama antara Blue Bird dan Go-Jek sudah jalan. Sekarang masih dalam proses sinkronisasi sistem, nanti kalau sudah mulai jalan kita akan memberikan informasi kepada pelanggan,” terang Rindu saat dihubungi

KompasTekno , Senin (14/11/2016).

Sebelumnya, Go-Jek dan BlueBird memang telah menandatangani kesepakatan kerja sama khusus yang diumumkan Mei tahun ini. Kerja sama yang dimaksud dilakukan dalam aspek teknologi, sistem pembayaran, hingga promosi.

Baca: Apa Bentuk Kerja Sama Antara Blue Bird dan Go-Jek

Selain itu, Head of Public Relation Blue Bird, Teguh Wijayanto saat itu mengatakan akan ada kerja sama dalam hal pemesanan kendaraan. Bentuknya berupa sebuah tombol pemesanan taksi Blue Bird yang dimasukkan dalam aplikasi Go-Jek.

Menggandeng Blue Bird merupakan langkah cerdas Go-Jek. Pasalnya Blue Bird sudah memiliki izin operasi sebagai taksi resmi. Mobil-mobilnya pun berplat kuning dan rutin menjalani uji kir. Dua hal itulah yang selama ini masih menjadi perdebatan di layanan ride sharing , seperti Uber, Grab, atau Go-Car milik Go-Jek sendiri.

Di sisi lain, dari segi jumlah pengguna, aplikasi Blue Bird juga masih kalah populer jika dibandingkan dengan Go-Jek. Langkah ini bisa membuat Blue Bird menjangkau para pelanggan Go-Jek.

Ekspor Hasil Pangan Daerah

 Jakarta – Tak banyak orang tahu, produk pangan lokal kita banyak diburu di pasaran luar negeri. Beberapa pangan lokal dibuat para petani di pedesaan ini bahkan bisa dibilang kurang populer di masyarakat Indonesia sendiri. Namun siapa sangka, pangan-pangan lokal ini punya harga mahal di luar negeri.

Helianti Hilman, lewat perusahaan yang dirintisnya sejak 8 tahun lalu, PT Kampung Kearifan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Javara, mengubah stigma pangan dari pedesaan menjadi komoditas bernilai di tinggi saat diekspor.

Beragam pangan lokal mulai dari kelapa, rempah-rempah, madu, mie dari ubi, gula jawa, sampai garam yang tak banyak dilirik industri besar, jadi produk yang laris manis di luar negeri di tangan Heliati. Sejumlah panganan lokal ini sudah menembus pasar 21 negara di 4 benua.

Menariknya, semua pangan lokal yang sudah mendunia itu bukanlah produk pabrikan perusahaannya, melainkan produk lokal yang dikembangkan dan diproduksi sendiri oleh petani yang bermitra dengan perusahaannya di berbagai daerah.

Berikut petikan wawancara

detikFinance dengan Helianti di kantor yang juga jadi tokonya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (28/8/2017).

Apa sebenarnya Javara, dan bagaimana Anda merintisnya?

Javara perusahaan yang punya tagline Indigenous Indonesia, jadi artinya memang kita angkat dari pangan tradisional dan budaya Indonesia. Background saya pendidikan hukum, saya banyak melakukan perjalanan ke pedesaan saat saya bekerja sebagai konsultan di lembaga asing. Saya pikir banyak produk lokal ini yang potensial.

Kita mulai dari beras, kemudian kacang-kacangan, kemudian tepung. Kemudian tambah lagi gula kelapa, kemudian rempah-rempah. Jadi bertahap, kita mulai dari 8 petani dengan 8 produk, sekarang 52 ribu dengan 750-an produk, dan 250 sudah standar organik Jepang dan Eropa. Perusahaan saya rintis 8 tahun lalu.

Kenapa memilih pangan lokal?

Bisnis ini awalnya tidak didesain as business, karena saya banyak berkenalan dengan jaringan pertanian yang masih berbasiskan kearifan lokal, dan mereka (petani pedesaan) masih pertahankan warisan pangan kuno, kayak beras kuno, dan memang tantangannya mem-branding lagi makanan-makanan ini.

Bagaimana menjadikan pangan lokal jadi komoditas ekspor?

Saya banyak travelling kebetulan. Saya hobi itu masak dan makan. Setiap saya travelling ke luar negeri yang pasti saya datangin itu pasar atau toko-toko yang menjual makanan gormey atau premium, saya lihat oh kalau produk premium kemasannya begini, style kayak begini, jadi kita punya wawasan.

Jadi dari situ kita dapat inspirasi kalau produk premium harus begitu kemasannya, saya sudah ke sekitar 40 negara, jadi sudah punya gambaran, di sisi lain saya punya jaringan pertanian yang masih pelihara dan harta karun keanekaragaman hayati Indonesia.

Saya pikir bagaimana saya jadi terpikir kalau dikemas begini, diolah begini, dilempar ke pasar laris, jadi kami mulai desain kemasan, tapi juga desain konsep produknya, makanya kalau lihat pertama, kita lebih banyak pakai bahasa Inggris dalam kemasan, karena ini jadi bagian dari branding.

Foto: Muhammad Idris

Apa penyebab pangan lokal sulit masuk pasar ekspor?

Sebenarnya isunya bukan di raw material, tapi entepreneurship. Artinya kita punya harta karun sebanyak apa pun kalau tidak ada yang menggali potensi itu, kemudian kelola supaya produksinya bisa memenuhi standar. Lacking di Indonesia hanya entepreneurship-nya.

Ini bicara menajemen produksi, inovasi, standarisasi, sertifikasi, dan lainnya. Jadi kalau punya harta karun tapi enggak ada pengelolaan itu semua tak akan sampai ke pasar. Itu yang membedakan kita dengan negara lain seperti Thailand, karena memang di sana dikelola dan ditargetkan mendunia. Sementara kalau kita yang tradisional begitu ya berpikirnya untuk kita saja di dalam negeri.

Javara bukan perusahaan produsen makanan, kami perusahaan yang melahirkan usaha di tingkat pedesaan, di daerah terpencil, misi kami melahirkan entepreneur. Jadi kami rancang konsep produknya, kemudian inovasi, branding, markering, sertifikasi. Produksinya tetap dari mitra-mitra kami.

Strategi marketing Javara membuat pangan lokal mendunia?

Pertama itu paling mudah dari kemasan, di mana ada cerita proses di balik produk itu ada di kemasan. Kalau lihat di produk-produk kita ada (keterangan) ceritanya, karena itu paling cepat (laku), kemasan bisa menceritakan dia sendiri.

Istilahnya bermain dengan komunitas untuk melakukan consumer education, karena ini produk-produk kita kalau enggak di-educate akan susah. Yang paling efektif yaitu lewat para chef atau koki, baik di dalam maupun luar negeri, kita approach duluan, jadi kalau kita punya barang yang aneh-aneh, kami suka kirim ke mereka duluan.

Kirim ke chef hotel-hotel di Jakarta dan luar negeri. Supaya mereka kasih respons balik, ini (produk) rupanya bisa dibuat ini dibuat itu, jadi peran dari keberadaan chef-chef sangat membantu endorse ingredient produk itu sendiri.

Jadi untuk endorsing ingredient tadi juga kita lakukan banyak demo, workshop, ikut event-event, bikin buku, dan tulisan di media sosial. Jadi memang perlu effort yang harus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat.

Sudah ke berapa negara ekspor?

Sudah 21 negara di 4 benua, tinggal Afrika yang belum, Insya Allah kita akan mulai dengan Afrika Selatan tahun depan.

Pasar paling besar yang sudah digarap?

AS dan Eropa paling dominan, kalau yang lain menyusul kayak Jepang, Australia, dan lainnya.

Itu pengiriman rutin?

Rutin sekali. Berapa ton agak sulit, karena kami ada 750-an produk yang tidak berdasarkan volume.

Bagaimana membangun jaringan pasar pangan lokal di luar negeri?

Jaringan kami macam-macam ya, ada yang suplai langsung ke jaringan supermarket tanpa agen, adapula yang distributor importir. Ada pula yang ke pabrik coklat untuk bahan baku mereka di Belanda dan Ekuador, rupanya mereka suka pakai gula kami buat coklat mereka. Ada pula yang konsorsium yang ordernya bareng-bareng satu kontainer, begitu sampai kontainernya, dibagi-bagi 200 toko.

Apa saja produk yang dijual Javara?

Kalau makanan yang trending sangat kuat adalah coconut based product, jadi produk-produk yang berbasis kelapa, kalau di kami ada gula kelapa, biskuit kelapa, minyak kelapa, selai kelapa, kemudian ada keripik kelapa. Untuk coconut based saja ada 37 produk yang sudah kami kembangkan dan bersertifikasi organik.

Kemudian produk rempah-rempah, Indonesia dulu dijajah juga karena rempah-rempah. Walaupun rempah-rempah ini diproduksi di negara lain, tapi yang namanya produk pertanian atau produk alam, enggak bisa dilepaskan dari ekologinya, jadi misalnya lada Vietnam beda dengan rasanya lada yang ditanam di Bangka dan Lampung yang lebih enak.

Banyak produk yang kita jual kita tekankan karakteristik originalnya, misalnya garam Bali, ada kemiri Flores, ada ikan gabus dari Kalimantan, kita tekankan itu, terutama origin yang sangat pengaruh ke kualitas, karena di tempat lain akan beda rasanya

Produk Javara dari banyak pelosok daerah di Indonesia, bagaimana mengonsolidasikannya?

Javara bukan perusahaan produsen makanan, kita perusahaan yang melahirkan usaha di tingkat pedesaan, di daerah terpencil, misi kita melahirkan entepreneur.

Jadi kami rancang konsep produknya, kemudian inovasi, branding, marketing sertifikasi, kita yang lakukan. Tapi produksinya dari mitra-mitra kami. Ini wilayah operasi kita dari Aceh sampai papua, jadi ada mitra-mitra champion yang kita perkuat. Kalau enggak punya mesin kami belikan mesin, kalau enggak punya kapasitas kami training, kalau enggak punya akses keuangan kami beri fasilitas modal.

Berapa omset Javara saat ini?

Kami tahun lalu Rp 30 miliar, tahun ini target Rp 40 miliar.

Porsi penjualan ekspor Javara saat ini?

Kalau suruh memilih saya sebenarnya lebih ke domestik, margin bisa besar karena mata rantai pendek dan distribusi mudah, kami mulai ekspor 2011 waktu itu komposisi ekspor 20% dan 80% domestik, ternyata growing ekspor 2014 itu tinggi sehingga membalik ekspor menjadi 90%, dan 10% domestik.

Tapi kami mulai gencar nih domestik, kami tertolong ada online seperti ojek online. Jadi kami sangat terbantu sekali dengan online untuk penjualan domestik. Mereka datang ke toko saya sekali saja, order berikutnya dikirim via ojek online. Sekarang domestik sudah naik jadi 40%, kami kan juga banyak suplai ke supermarket yang premium di dalam negeri, sisanya 60% ekspor. 

Deadline hingga Akhir Bulan, Pengembalian Mobdin Anggota DPRD

​Mobil Dinas DPRD Lamongan (Anjar Dwi Pradipta/Radar Lamongan)

KOTA – Pemkab Lamongan memberikan batas akhir pengembalian mobil dinas (mobdin) DPRD Lamongan hingga akhir Agustus ini.

Berarti menyisakan tiga hari ini, mobil pelat merah segera dikembalikan.

Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18/2017, anggota DPRD sebelumnya mendapatkan pelayanan mobdin, mulai bulan depan sudah tak boleh menggunakan mobil pelat merah lagi.

’’Deadline-nya akhir bulan ini (Agustus),’’ kata Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris DPRD (Sekwan) Lamongan Budi Irawan kemarin (28/8).

Budi mengatakan, sesuai perda tentang kenaikan tunjangan DPRD sebagai turunan regulasi PP Nomor 18/2017, jika anggota DPRD masih menggunakan mobdin dan menerima tunjangan transportasi, tentu ada double anggaran.

Sehingga, dikhawatirkan saat ada audit BPK, anggota DPRD yang tak mengembalikan mobdin hingga bulan depan, diminta mengembalikan uang negara.

Langkah ini agar ke depan tidak ada persoalan hukum, dan diharapkan semua anggota DPRD patuh regulasi.

’’Ini sudah mulai ada yang mengembalikan, tapi belum semua,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, semua anggota sudah dikirimi surat untuk pengembalian mobdin.

Sisa waktu yang ada ini untuk digunakan sebaik-baiknya untuk persiapan pengembalian mobdin.

Freddy Wahyudi, salah satu anggota DPRD mengaku belum menerima surat permintaan pengembalian mobdin.

Meski begitu, pihaknya patuh regulasi dan siap mengembalikan mobdin jenis Innova itu. ’’Belum menerima, tapi tetap nanti saya kembalikan,’’ katanya.

Semua anggota DPRD Lamongan sebanyak 46 politisi sebelumnya mendapatkan fasilitas mobdin. Dan, setelah perda disetujui, mereka tetap mendapatkan fasilitas, namun sistemnya pinjam pakai. Dan, semua operasionalnya dibiayai sendiri, bukan dianggarkan APBD.

Berbeda dengan unsur pimpinan (empat orang) tetap mendapat fasilitas mobdin.