1 orang terpapar TB,15 orang di dekatnya harus periksa juga 

Pengidap Tuberculosis (TB) di Ponorogo jumlahnya meningkat setiap tahun. Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo menyebut ada 814 kasus pada tahun 2016 dan meningkat menjadi 977 kasus pada tahun 2017.

Peningkatan jumlah penderita ini pun jadi perhatian khusus Dinkes Ponorogo untuk menekan penularan penyakit TB di Bumi Reog. Salah satunya dengan gerakan 115. Jika ditemukan satu penderita TB maka 15 orang di sekitarnya juga harus diperiksa karena khawatir tertular.

“Deteksi dini penting untuk menekan jumlah penderita TB di Ponorogo,” tutur Kepala Dinkes Ponorogo, Rahayu Kusdarini saat ditemui detikHealth di Alun-Alun Ponorogo, Jumat (23/3/2018).

Irin sapaannya menambahkan selain adanya gerakan 115 tadi, ada pula penderita TB kebal obat yang kini tengah jadi perhatian khusus Dinkes Ponorogo. Pasalnya, jika penderita TB kebal obat menularkan penyakitnya maka korban juga menderita TB kebal obat juga.

“Ada enam Puskesmas yang memiliki pasien TB kebal obat, di Kecamatan Sukorejo, Babadan, Jambon, Jenangan, Balong dan Jetis,” jelas Irin.

Sementara itu, Wakil Bupati Ponorogo, Soedjarno menambahkan guna mengantisipasi penularan penderita TB maka warga diimbau untuk selalu memakai masker di tempat-tempat tertentu. Terutama di pasar atau pusat perbelanjaan serta tempat umum lainnya.

“Ini untuk menghindari kita tertular virus, kita harus mengenakan masker. Meski tidak lazim, harus sudah mulai dibiasakan,” ujar Soedjarno.

Soedjarno juga menegaskan agar warga peduli hidup sehat serta menjaga kebersihan lingkungan. Melalui peringatan hari TB se-dunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret, Soedjarno pun mengimbau warganya untuk ikut serta berperan aktif memeriksakan keluarganya yang dicurigai TB.

Tuberkulosis (TB/TBC) merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan ada lebih dari 1 juta kasus TB baru setiap tahunnya.

Ketua Kelompok Kerja TB, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr dr Erlina Burhan, SpP(K), mengatakan TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Mudah menular, pasien TB bisa sembuh total dalam waktu 6 bulan jika melakukan pengobatan rutin.

“Tapi bila pengobatan tidak tuntas, tidak teratur, dosis tidak tepat, maka kuman akan bermutasi menjadi kuman yang resisten atau kebal, yang pengobatannya makin lama dan makin berat,” ungkap dr Erlina saat temu media Hari TB Sedunia di Rumah PDPI, Jalan Cipinang Bunder, Rawamangun, Jakarta Timur.

Karena itu, pencegahan dini merupakan faktor penting dalam penanganan TB di Indonesia. dr Erlina menyebut TB memiliki beberapa gejala khas yang bisa terlihat oleh kerabat dan anggota keluarga, di antaranya:

1. Batuk berdahak lebih dari 2 minggu

2. Batuk darah

3. Sesak napas dan nyeri dada

4. Nafsu makan berkurang

5. Berat badan turun drastis

6. Keringat di malam hari

7. Demam tidak terlalu tinggi.

Ketika gejala sudah dikenali dan pengobatan sudah dilakukan, penting bagi keluarga untuk mengawasi pasien. Pentingnya pengobatan pasien TB bukan hanya agar pasien sembuh, namun juga untuk mencegah terjadinya penularan penyakit ke orang lain.

“Misalnya pasien TB MDR bersin dan batuk, itu risikonya besar banget untuk menular ke orang lainnya,” tutupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s