Category Archives: Aparat Hero

Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA (2)

​05:05 WIB

Setelah mengamuk dan membisanakan seluruh orang Jepang di dalam dan luar Kota Blitar, pasukan pemberontak berpencar menjadi tiga ke arah pegunungan dan membentuk benteng pertahanan.

Supriyadi memimpin pasukan di timur dan membuat perbentengan di Kali Putih-Kali Menjangan Kalung. Suparjono ke Barat dan Muradi ke Utara. Keduanya kemudian bertemu di Candi Panataran.

Markas Militer Jepang yang mengetahui adanya pemberontakan langsung mengerahkan seluruh kekuatan militernya ke Blitar. Namun mereka tidak langsung menggempur pertahanan pemberontak.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah memblokade pintu keluar bagi para pemberontak agar tidak bisa melarikan diri. Daidan-daidan yang ada di sekitar Blitar langsung dikerahkan.

Daidan Kediri diperintahkan menjaga perbatasan di Blitar-Tulungagung dan Sungai Brantas di Lodoyo, Kademangan dan Ngunut. Daidan Malang di perbatasan Blitar-Malang dan Kali Lohor.

Operasi militer Jepang ini dipimpin langsung oleh perwira-perwira Jepang yang tangkas di medan perang, dibantu Gyugun Sidubo, Syodanco Yugetikai, dan disaksikan Somubuco Yamato Shojo.

Meski pasukan pemberontak melawan mati-matian, mereka akhirnya bisa dilumpuhkan. Kelompok yang pertama ditumpas adalah pasukan Supriyadi, disusul dengan pasukan Suparjono dan Muradi.

Para pemimpin pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian diseret ke Pengadilan Militer Jepang. Dalam sidang di Jakarta, pada 14-16 April 1945, para pemimpin pemberontak dijatuhi vonis mati.

Mereka yang diadili dan divonis mati dengan jalan dipenggal kepalanya berjumlah enam orang, tanpa Supriyadi, terdiri dari Dr Ismail, Muradi, Suparjono, Sunanto, Sudarno, dan Halir.

Sejumlah pemberontak juga dikabarkan tewas dalam penjara Cipinang dan Sukamiskin. Mereka yang tewas tanpa diadili itu berjumlah empat orang, yakni Sumardi, Sunardjo, Atmadja, dan Sukaeni.

Karena lolos dari hukuman mati dan dianggap masih hidup, Supriyadi diangkat Menteri Keamanan Rakyat pada 6 Oktober 1945 dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 20 Oktober 1945.

Tetapi karena sosoknya tidak pernah terlihat, maka posisi Panglima TKR diserahkan kepada Jenderal Soedirman. Tidak diketahuinya keberadaan Supriyadi membuat sosoknya misterius.

Pada Juni 1965, salah satu laporan pers menyebutkan pada 28 Mei 1965 Letnan R Sain kesurupan roh Supriyadi dan menceritakan bahwa dia sudah mati dan kepalanya dipenggal oleh Jepang.

05:05 WIB

Namun kabar itu tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Pencarian terhadap diri Supriyadi mulai dilakukan. Jika sudah mati, di mana kuburnya? Jika masih hidup, di mana keberadaannya.

Saat pencarian dilakukan, sedikitnya sudah lima orang lebih yang mengaku sebagai Supriyadi. Di antaranya bahkan telah menemui ayah Supriyadi, mantan Bupati Blitar 1945-1956 Darmadi.

Adik tiri Supriyadi, Ki Utomo Darmadi mengaku pernah ditelepon Wakil Presiden Try Sutrisno yang mengatakan ada orang tua di Yogyakarta mengaku sebagai Supriyadi dan diminta menemuinya.

Setelah ditemui, ternyata orang itu bukan Supriyadi. Dia tidak bisa bahasa Belanda dan Jepang. Supriyadi pernah bersekolah di MULO dan MOSVIA, serta ikut dalam latihan militer Jepang.

Untuk memutus mata rantai pencarian itu, pada 9 Agustus 1975 Presiden Soeharto secara resmi mengangkat Supriyadi sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan surat keterangan No 063/TK/Tahun 1975.

Diangkatnya Supriyadi sebagai pahlawan nasional, gelar yang kerap diberikan kepada orang yang telah meninggal, tidak serta merta memutus pencarian terhadap Supriyadi.

Foto yang dimiliki Supriyadi semasa hidup dan tersebar di publik juga hanya satu. Itu pun mulai mengundang tanda tanya, apakah benar orang yang ada dalam foto itu Supriyadi, tidak jelas.

Sampai di sini ulasan Cerita Pagi tentang Supriyadi dan Pemberontakan Tentara PETA di Blitar, pada 14 Februari 1945 diakhiri. Semoga memberikan manfaat kepada pembaca.

Sumber Tulisan

* Baskara T Wardaya, Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, Galang Press, Cetakan I, 2008.

* Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Penerbit Pustaka Pena, Juli 2000.

* Anton Lucas, Radikalisme Lokal, Oposisi dan Perlawanan Terhadap Pendudukan Jepang di Jawa 1942-1945, Syarikat, 2012.

* Ben Anderson, Revoloesi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, Pustaka Sinar Harapan, jakarta 1988.

* Soehoed Prawiroatmodjo, Perlawanan Bersendjata Terhadap Fasisme Djepang, Jakarta, Merdeka Pres, 1965, dikutip dalam Sidik Kertapati.

Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA (1)

​PEMBERONTAKAN tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, pada 14 Februari 1945, memiliki nilai historis yang sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan fasisme Jepang.

Dalam peristiwa itu, sejumlah tentara PETA yang dipimpin tiga orang perwira dan seorang bintara, terdiri dari Muradi, Supriyadi, Suparjono, dan Sunanto melakukan gerakan bersenjata.
Gerakan ini pada awalnya akan dilakukan secara serempak oleh Daidan Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Namun rencana itu diketahui oleh Jepang dan pemberontakan akhirnya dibatalkan.

Tetapi informasi itu tidak sampai ke Daidan Blitar. Sulitnya komunikasi masa itu, membuat para pemimpin PETA di Blitar tetap melanjutkan rencana mereka untuk melakukan pemberontakan.

Percakapan para pemimpin pemberontak di ruang jaga Kesatrian Daidan Blitar sesaat sebelum pemberontakan di bawah ini membuktikan tidak sampainya informasi tentang rencana pembatalan itu.

“Jadikah malam ini?” tanya Muradi yang langsung dijawab oleh Supriyadi, “Menunggu apalagi? Penderitaan rakyat sudah sampai dipuncak dan sudah tidak tertahankan lagi.”

“Bagaimana bapak-bapak dan saudara-saudara lainnya?” sambung Muradi menyangsikan persiapan yang dilakukan daidan lainnya. “Mereka sudah mengetahui semuanya,” timpal Suparjono cepat.

“Kalau kita mulai, mereka akan dengan sendirinya mengikuti gerakan kita. Harus ada yang berani memeloporinya,” terang Suparjono meyakinkan para pemimpin pemberontakan untuk bergerak terus.

“Dalam perang Bratayuda, Sang Kresna memuji para kesatria yang berani mengorbankan jiwa-raganya dengan tidak menanyakan lebih dahulu, untuk apa?” tambah Supriyadi dengan bersemangat.

“Kresna, Arjuna dan seluruh Bratayuda tidak ada hubungannya dengan kita ini. Bagaimana rencana yang sesungguhnya,” sela Sunanto menenangkan suasana yang mulai emosional itu.

“Kita bunuh semua orang Jepang yang ada di sini. Selanjutnya bersama dengan daidan lainnya menyerang tiap pasukan tentara Jepang yang digerakkan untuk menindas kita,” terang Supriyadi.

“Apakah daidan lainnya akan mengikuti kita dan mengetahui apa yang kita mulai?” sela yang lainnya dengan cemas. “Tentu!” jawab Supriyadi dengan sangat yakin.

“Kita sudah mengadakan hubungan dengan mereka. Kita harus mengambil siasat yang terbaik, ialah siasat mendahului menyerang,” tegas Supriyadi. “Risikonya terlalu besar,” sela yang lainnya.

“Risiko apa? Apakah kita mau disamakan dengan orang-orang yang mengaku dan menamakan diri sebagai pemimpin rakyat, tetapi hanya bisa bicara saja?” tanya Supriyadi. “Kita tidak mengetahui bagaimana kekuatan musuh kita,” tanya yang lainnya.

“Lebih baik begitu! Sejarah perang penuh dengan contoh yang membuktikan bahwa dalam keadaan yang jelek sekalipun dapat juga dicapai kemenangan-kemenangan,” timpal Supriyadi lagi.

“Tanah Air menunggu kapan kita mulai memenuhi kewajiban,” katanya menutup pertemuan rahasia itu.

Setelah percakapan itu, masing-masing pemimpin pemberontakan langsung bergerak ke gudang senjata dan misiu, serta peluru-pelurunya dibagi-bagikan kepada masing-masing pasukan pemberontak.

Pembagian senjata pada masa itu merupakan hal yang biasa bagi daidan, karena sering melakukan latihan perang dengan peralatan dan perbekalan lengkap hingga tidak mencurigakan.

Akhirnya, pada 14 Februari 1945 pukul 03.00 Wib, saat Kota Blitar tengah tertidur lelap, para tentara PETA Blitar melakukan sejumlah serangan terhadap orang-orang Jepang.

Warga yang mengetahui adanya suara letusan di pagi buta itu awalnya mengira berondongan senapan yang datang dari timur kesatriyan dan terus mendekat ke Hotel Sentrum sebagai latihan perang.

Namun saat terdengar teriakan “Merdeka! Merdeka!” perkiraan warga langsung berubah. Apalagi setelah terdengar suara lonceng lima kali, warga langsung keluar berhamburan ke luar rumah.

“Salah seorang tetangga mendekat dengan nada setengah berbisik. Di Hotel Sakura ada Jepang yang terbunuh. PETA-PETA menyerukan Merdeka, ikut Jepang atau ikut PETA,” cerita salah seorang saksi.

Di sepanjang jalan raya terdapat mayat-mayat tergeletak. Mereka adalah para serdadu Jepang yang tewas dibunuh saat tengah mabuk sake dan mereka yang dianggap sebagai mata-mata Jepang.

Dari Hotel Sakura, para tentara PETA bergerak menuju rumah penjara. Sebanyak 285 narapidana yang terdiri dari para kriminal dibebaskan. Mereka teriak kegirangan “Merdeka! Merdeka!”

Selain menyasar para tentara Jepang dan mereka yang dituduh mata-mata dan kaki tangan Jepang, serangan tentara PETA juga mengarah kepada orang-orang Tionghoa dan orang-orang Indo Belanda.

Dari alun-alun, para tentara PETA bergerak ke kecamatan-kecamatan. Saat di Kecamatan Nglegok, para tentara PETA menemui rakyat yang telah berkumpul dan menyampaikan tujuannya untuk merdeka.

Pembunuh Toko Klontong di Surabaya Terungkap Gara-gara Status Facebook

Potongan gambar dari CCTV saat Go Hong Boen disabet perampok (Istimewa)

JawaPos.com – Dalang perampokan dan pembunuhan terhadap Go Hong Boen, pemilik toko klontong di Jalan Kapas Krampung, Surabaya pada 12 Mei lalu akhirnya terkuak. Setelah memburu selama dua bulan lebih, Tim Antibandit Polrestabes Surabaya berhasil mengungkapnya. Mereka telah meringkus dua orang dari total empat kawanan bandit yang membawa golok tersebut.

Informasi yang dihimpun JawaPos.com dari sumber internal kepolisian, dua pelaku yang ditangkap masing-masing bernama Darhuji alias Cong Muji dan Syaiful alias Sipul. Mereka ditangkap di waktu dan tempat yang berbeda. Cong Muji dibekuk di Jalan Kubis, Bumiayu, Kedungkandang, Malang pada Selasa malam (25/7). Sedangkan, Sipul ditangkap pada Rabu pagi (26/7). “Mereka ini memang pelaku curas. Ke mana-mana bawa celurit,” sebut salah seorang polisi yang namanya enggan ditulis kepada JawaPos.com, Jumat (28/7).

Jejak para pelaku tersebut sudah diketahui sejak bulan lalu. Sebelum ini, polisi sempat menduga bahwa pelakunya termasuk ke dalam kawanan spesialis perampokan nasabah bank. Korps seragam cokelat sempat mengira bahwa salah seorang pelaku yang bermain di Kapas Krampung itu berinisial MZ.

Bahkan, polisi juga sempat mengunci (menahan) istri MZ. Tujuannya agar dia menyerah. “Ternyata pelakunya bukan dia (MZ, red). Dia memang salah satu buronan kasus curas, tapi ada informasi baru yang masuk bulan lalu bahwa pelaku di Kapas Krampung itu bukan dia,” imbuh sumber tersebut.

(Istimewa)

Setelah mendapat informasi gres itu, polisi menyusun ulang strategi pencarian para pelaku. Mereka mengantongi nama Cong Muji setelah mengamati ciri-ciri fisiknya melalui rekaman CCTV. Hanya saja, saat itu mereka belum mengetahui di mana Cong Muji bersembunyi.

Kesabaran polisi akhirnya menemui titik terang pekan lalu. Mereka berhasil mendeteksi keberadaan pelaku. Tim Antibandit melacak akun Facebook Cong Muji yang bernama Mis Ter Jbooz. “Di FB itu ada temannya yang nanya sekarang dia tinggal di mana. Cong Muji lalu jawab ada di Bumiayu, Malang,” lanjutnya.

Polisi lantas mencari tahu lebih lanjut temuan itu. Mereka mendapati fakta bahwa Cong Muji biasa berjualan aksesoris handphone di Bumiayu. Hal itu diperkuat dengan foto FB yang diunggahnya, latar belakang foto itu memang cocok dengan area jual beli aksesoris handphone yang ada di Malang.

Penangkapan dilakukan selasa malam sekitar pukul 20.00. Saat ditangkap, Cong Muji tidak melawan. “Dia ditangkap pas baru saja menggelar dagangannya,” kata sumber tadi.

Setelah menangkap Cong Muji, polisi langsung kembali ke Surabaya untuk meringkus Siful. Siful diketahui tinggal di Jalan Wonokusumo Jaya XI. Rabu dini hari, sekitar pukul 03.00, polisi mendatangi rumah Siful. Namun saat itu dia tidak berada di tempat. Polisi nyaris tidak membuahkan hasil.

Meskipun gagal ditangkap saat itu, polisi masih berjaga-jaga di sekitar rumah Sipul. Kesabaran tersebut membuahkan hasil setelah sekitar pukul 11.00, batang hidung Sipul nongol di rumahnya. Tanpa banyak perlawanan, Sipul ditangkap.

Tertangkapnya dua pelaku tersebut sedikit melegakan polisi, sebab kasus perampokan yang mengakibatkan korban tewas itu menjadi salah satu atensi besar Satreskrim Polrestabes Surabaya. Meskipun demikian, Tim Antibandit masih punya dua nama kawanan Cong Muji yang masih lolos. Dua DPO tersebut masing-masing berinisial FZ dan WF.

Sementara itu, polisi masih belum memberikan keterangan resmi. Saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Leonard M. Sinambela hanya membenarkan penangkapan tersebut. Kepolisian memastikan bahwa pihaknya sudah menghubungi korban atas penangkapan itu.

“Kasus masih belum komplit, kami tetap harus melakukan validasi kepada semua saksi yang berada di TKP. Siapa yang membuka pagar, siapa yang melakukan perlawanan, dan apakah benar itu tersangkanya,” tegas alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2000 tersebut.

Perampokan yang menewaskan Go Hong Boen itu terjadi pada 12 Mei, dua pekan menjelang bulan puasa. Saat itu, pria yang disapa Awen itu berusaha menghalangi empat orang bandit yang merampas tas milik istrinya, Lely Suryani. Di dalam tas tersebut, terdapat uang senilai Rp 50 juta, hasil penjualan toko klontong.

Saat berusaha menangkap pelaku, Awen terkena sabetan pisau di bagian ketiak kanan. Awen lalu tersungkur dan ditolong istrinya.  Empat orang pelaku berhasil kabur. Nyawa Awen melayang dalam perjalanan ke rumah sakit setelah dirinya kehabisan banyak darah.

Kopaska Tembak Pelaku Curanmor, Kapolda: Tertangkap Tangan Boleh Saja


​Surabaya – Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin mendukung upaya anggota TNI yang menjadi korban dan menembak pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di rumahnya Jalan Simorejo.

“Ya mungkin, karena tertangkap tangan. Ya silahkan saja (menembak) nggak apa-apa,” kata Irjen Pol Machfud Arifin kepada wartawan di sela mengunjungi dan menyantuni santri anak yatim piatu di Pesantren Al Mustaqim, Rabu (5/7/2017).

Kapolda mengatakan, secara aturan memang tidak ada, anggota TNI menembak pelaku curanmor. “Tapi kalau (pelaku) melawan dan tertangkap tangan, boleh-boleh saja,” jelasnya.

Sebelumnya, pelaku curanmor tewas tertembak saat melakukan aksinya di Jalan Simorejo 102 A, Kecamatan Sukomanunggal. Korban, Mayor Laut (P) Tunggul Waluyo-menjabat Paopsjar Sekopaska memergoki pelaku mencuri motornya.

Karena pelaku mempersenjatai senjata tajam dan pistol dan melakukan perlawanan, hingga korban mengeluarkan tembakan. Satu pelaku tersungkur dan dua pelaku lainnya kabur.

Mayor Tunggul: Kami Membela Diri dan Amankan Keluarga dari Bahaya

​Surabaya – Mayor Laut (P) Tunggul Waluyo nekat mengeluarkan senjata api dinasnya untuk menembak pelaku curanmor, untuk membela diri dan mengamankan keluarganya dari bahaya.

“Kami hanya untuk membela diri, mengamankan keluarga dari bahaya yang mungkin tidak bisa dilawan dengan tangan kosong,” kata Tunggul usai menerima penghargaan dari Kapolrestabes di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (6/7/2017).

Dirinya juga mengaku berterima kasih kepada TNI AL yang sudah memberi kepercayaan kepada anggotanya untuk membawa pulang senjata api.

“Kami juga terima kasih pada TNI AL yang memberi kepercayaan inventaris senjata yang bisa kami manfaatkan sesuai prosedur untuk melindungi kami, keluarga dan lingkungan serta membantu polisi di lapangan,” imbuh anggota Kopaska ini.

Sementara Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M Iqbal membenarkan dan mendukung tindakan tegas Mayor Tunggul. Menurutnya, ketiga pelaku merupakan kelompok ranmor yang sangat meresahkan warga.

“Bayangkan jika Mayor Tunggul tidak mengantisipasi dengan tindakan tegas. Walaupun Mayor Tunggul tidak paham tindakan tegas akibat mematikan tapi dibenarkan. Memang kelompok tiga ini, kelompok sadeng ini meresahkan, terbukti kasat reskrim sudah identifikasi sepeda motor di TKP hasil kejahatan. Dan ini kesuksesan yang luar biasa,” ungkap Iqbal.

Ini Cerita Mayor Tunggul Tembak Mati Pelaku Curanmor
Tidak pernah terbayang oleh Mayor Laut (P) Tunggul Waluyo jika rumahnya di Jalan Simorejo Surabaya, jadi sasaran pelaku curanmor yang berujung tembakan, Rabu (5/7) dini hari. Tiga anak dan istrinya, Murningsih syok akibat pencurian tersebut.

Tunggul pun menceritakan peristiwa mulai pencongkelan pintu hingga terjadinya penembakan pelaku.

“Saya terbangun ada perusakan pintu lalu bangunkan istri. Bu kelihatan ada maling jaga anak-anak, saya naik ambil pistol. Saat pantau dari atas ada bobol pintu bawa sepeda motor. Saat kejadian jarak 2 meter anak anak tidur disitu. Kalau masuk lewat bawah mungkin korban kekuarga saya selesaikan biar anak istri saya tidak terlibat,” kata Mayor Tunggul kepada wartawan usai menerima penghargaan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (6/7/2017).

Tunggul pun memutuskan mengamati dari lantai dua dan sempat memberikan tembakan peringatan pada pelaku. Namun pelaku ikut mengacungkan senjata.

“Kasih peringatan masih tetap membawa lari motor, akhirnya kami lumpuhkan. Dan tidak kami arahkan ke kepala intinya hanya hambat tapi kejadian malam jarak lumayan situasi mengancam. Saya keluarkan 3 kali tembakan sisa 7 butir saya arahkan 3 pelaku yang kena 2, 1 kabur. Karena sempat ada pengejaran dan lari 100 meter. Sudah kena tembakan baru warga muncul,” pungkas Tunggul.

Usai peristiwa itu dirinya mendatangi anak dan istrinya, sebelum didatangi petugas kepolisian. “Yang agak syok istri, saat kejadian selama proses pembobolan sepeda motor sampai dibawa keluar ke jalan secara langsung istri saya yang melihat,” tambahnya.

Begini Sepak Terjang dan Sosok Maling yang Tewas di Tangan Anggota Kopaska,Mayor TW
Abdul Aziz adalah salah satu gembong pencurian L300 yang menjadi anak buah Sadeng. Sadeng sendiri sudah ditembak mati Tim Puma Jatanras Polrestabes Surabaya, September tahun lalu di dekat Mapolsek Simokerto. “Wajahnya memang identik. Tapi masih butuh ditelusuri lagi,” kata seorang sumber internal polisi.

Selain wajah, kemiripan itu juga dilihat dari senjata yang dibawa oleh pelaku yang ditembak mati. Antara lain Air soft gun dan parang. “Selama mengincar L300 dulu, Sadeng dkk kan memang bawa air soft gun,” lanjutnya.

Berita Terkait

Polisi Pastikan Mayor TW Lakukan Tembakan Peringatan

Ini Sosok TW, Perwira Kopaska Penembak Maling di Mata Tetangganya

Selama ini Abdul Aziz jadi buronan utama Polrestabes Surabaya. Dia tinggal di Jeddih Madura. Beberapa kali polisi hendak menangkapnya, namun berhasil lolos.

Track record Abdul Aziz memang akrab dengan kejahatan 3C (curat, curas, curanmor). Sebelum bergabung dengan Sadeng, Aziz memang spesialis curanmor. “Dia direkrut Sadeng. Setelah pimpinannya mati, kembali lagi “main” roda dua,” ungkapnya.

Hingga kini, polisi belum memberikan statement resmi soal identitas pelaku yang menyatroni rumah tentara itu. Saat dikonfirmasi, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga masih belum mau menjelaskannya. “Kami sedang gelar. Nanti akan kami sampaikan analisisnya,” tegas Shinto.

Rencananya siang ini, Polrestabes Surabaya akan memberikan keterangan resmi soal peristiwa ini. Seperti diketahui, 3 orang pencuri motor beraksi di rumah Mayor TW yang merupakan anggota Kopaska. TW tahu bahwa motornya dicuri. Dia kemudian menembak dua orang pelaku. Salah satunya tewas di lokasi. Pomal Lantamal V juga sedang menyelidiki kasus ini.