Category Archives: Aparat Hero

Bripka Toni Purwanto, Anggota Polda DIJ Yang Nyambi Jualan Cilok (Bukan Nyamar Lo)

 
  Menjadi abdi negara tidak harus terfokus di satu bidang. Inilah yang dilakoni Bripka Toni Purwanto, 37. Di balik sosok tegas seorang polisi, ia ternyata juga berjualan cilok. Tidak hanya sekadar menyambung hidup, namun juga mengenalkan nilai-nilai kepolisian.

DWI AGUS, Sleman

Sosok polisi tengah sibuk bekerja ketika Radar Jogja memasuki ruang Bidang Humas Polda DIJ, kemarin siang (10/7). Personel polisi bernama Bripka Toni Purwanto ini tampak fokus di depan komputernya. Sesekali dia menoleh ke arah kertas di sisi kirinya. Satu persatu data dia masukkan ke dalam computer itu.

Tak selang berapa lama, pria kelahiran Jakarta, 2 Februari 1981, ini mendatangi koran ini. Senyum ramah mengembang saat Radar Jogja menyatakan maksud tujuan kedatangannya. Dia segera mengiyakan setelah sebelumnya izin dulu kepada sang atasan.
“Monggo Mas. Kalau jualan biasanya sore sepulang dari Mapolda. Berjualannya di depan Kantor BRI Maguwoharjo,” kata Toni  memulai percakapan.

Awal mula persinggungan Toni dengan dunia cilok pada Maret 2017. Kala itu, bapak dua anak ini memutuskan untuk terjun ke dunia kuliner. Cilok dipilih karena dia sangat menggemari kuliner berbahan baku tepung tapioka atau kanji ini.

Sebelum benar-benar terjun, Toni terlebih dahulu berburu cilok. Sepulang bertugas, dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi mencari para penjual cilok di pinggiran jalan. Dia menjajal satu per satu cilok yang dia temui.

Dari perburuan ini ada berbagai temuan yang mendasar. Terkadang cilok pas, namun bumbu kurang mantab. Begitu juga sebaliknya. Saat menemukan ramuan yang pas, Toni berlangganan. Berawal dari tanya-tanya, akhirnya dia bertanya resep pembuatan cilok.

“Kuncinya di bumbu dan bahan bakunya, baik cilok atau kuah bumbunya. Bahan bakunya sebenarnya sederhana, seperti tepung kanji, tepung terigu, dan bumbu dapur lainnya. Tapi cara pengolahan dan adonannya harus pas agar nikmat,” ujarnya.

Dalam meracik Toni mengandalkan kejujuran. Seluruh bahan baku segar dan berkualitas. Terutama untuk bumbu sebagai campuran cilok dan kuahnya. Contohnya sambal, menggunakan racikan cabai asli, bukan perasa.


“Pedasnya itu jegrak, benar-benar asli dan terasa. Kalau pemanisnya kan pakai kecap. Kalau pedas itu pasti enak dan laris. Di dalam cilok juga saya kasih tetelan daging sapi. Sehari dengan bahan baku kanji 8 kilogram dan tepung satu kilogram, bisa membuat 2.000 butir cilok,” ungkapnya.

Awal mula kecintaannya pada cilok saat bertugas di Polda Metro Jaya. Penjual cilok ibarat jamur di musim penghujan karena saking banyaknya. Hingga akhirnya dia mendapat tugas pengawalan mobil bank. Saat mampir di anjungan tunai mandiri (ATM), dia menyempatkan diri untuk membeli sebungkus cilok.

Kala itu Toni belum bisa mempraktikkan minat berjualan cilok. Terlebih dia telah menggeluti jual beli ayam potong. Maklum saja untuk terus menyambung hidup, Toni memilih mencari sampingan. Dia berburu ayam potong untuk membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai pedagang.

Hingga akhirnya Toni dipindahtugaskan ke Polda DIJ Januari 2017. Dari sinilah ide untuk mendalami dunia percilokan timbul kembali. Satu lagi yang membuat Toni keukeuh berjualan adalah untuk mencukupi biaya pengobatan anak sulungnya.

“Kebetulan anak pertama saya, Lugna, 7, anak berkebutuhan khusus. Harus berobat rutin dengan terapi. Kalau hanya mengandalkan dari gaji kepolisian belum tentu cukup, jadi harus berjuang,” katanya.

Bukan tidak mudah Toni berjualan cilok. Di awal memulai bisnis, suami Ade Nasibah ini harus berjibaku. Pagi hingga siang harus bertugas sebagai sosok polisi. Sore hingga malam hari berjualan cilok. Sementara untuk meracik bumbu dan cilok dini hari hingga pagi hari.

Pernah suatu saat Toni mendapat teguran dari sang atasan. Penyebabnya telat mengikuti apel pagi. Tidak ingin berbohong, Toni menceritakan kisahnya apa adanya. Untungnya kala itu sang bintara polisi ini hanya mendapat teguran lisan saja.

“Cilok itu kecil tapi buatnya capek, karena harus telaten saat nguleni bumbu. Ditambah ukurannya harus konsisten dan sama besar. Pada awalnya saya sendiri yang mengerjakan, sekarang akhirnya memperkejakan orang untuk membuat ciloknya,” ujarnya.

Setiap hari Toni berjualan cilok di depan kantor BRI Maguwoharjo. Letak lapaknya tidak begitu jauh dari kediamannya, Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Uniknya, dia tidak hanya berjualan cilok, namun turut mengenalkan nilai-nilai kepolisian.

Pada awalnya tidak banyak yang mengetahui profesi asli sang penjual cilok. Hingga ada pembeli yang penasaran dengan penamaan Cilok 86. Identitasnya terbongkar justru membuat semangatnya surut. Dia semakin getol berjualan makanan olahan tepung ini.

“Sekalian edukasi kepada pembeli, misal ada yang tidak pakai helm atau perlengkapan kendaraan tidak lengkap, saya kasih tahu. Kadang ada yang tanya tentang jadwal SIM keliling, syarat masuk polisi hingga tugas-tugas kepolisian,” jelasnya.

Malu? Tidak ada dalam kamus kehidupan Toni. Bahkan secara jenjang pendidikan sangatlah membanggakan. Sebelum mendaftar kepolisian, Toni adalah lulusan S1 Hubungan Internasional UMY. Berlanjut jenjang pendidikan Pasca Sarjana di Magister Manajemen (MM) Mercu Buana Jakarta.

“Motivasi bekerja untuk mencari rejeki. Terkadang kalau sudah capek, lihat anak-anak jadi semangat lagi. Semua harus dilakoni dengan ikhlas, tapi juga harus tetap berjuang,” ujarnya.

Sumber : Jawapos.com

Advertisements

Jejak Karir Jenderal Gatot

 

   Gatot Nurmantyo resmi pensiun dari keanggotaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Pada 1 April 2018. Berpangkat terakhir sebagai bintang empat alias Jenderal, Gatot memiliki jejak karier yang panjang.

Pria kelahiran Tegal, 13 Maret 1960 ini adalah lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Darat tahun 1982. Dia menduduki posisi Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai ia jabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman.

Dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (1/4/2018), di awal karier Gatot pernah menjabat sebagai Komandan Peleton MO 81 Kompi Bantuan Batalyon Infanteri 315/Garuda, Komandan Kompi Senapan B Batalyon Infanteri 320/Badak Putih, dan Komandan Kompi Senapan C Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana.

Kemudian dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Urusan Dalam Detasemen Latihan Tempur, ADC Panglima Kodam III/Siliwangi, PS Kepala Seksi-2/Operasi Korem 174/Anim Ti Waninggap, Komandan Batalyon Infanteri 731/Kabaresi, Komandan Kodim 1707/Merauke, hingga Komandan Kodim 1701/Jayapura. Selain itu dia juga pernah menjadi Sekretaris Pribadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Komandan Brigade Infanteri 1/PIK Jaya Sakti, Asisten Operasi Kepala Staf Kodam Jaya, serta Komandan Resimen Induk Daerah Militer Jaya.

Gatot juga tercatat pernah menduduki posisi penting di TNI. Posisi-posisi tersebut yakni Danrem 061/Suryakencana (2006-2007), Kasdivif 2/Kostrad (2007-2008), Dirlat Kodiklatad (2008-2009), Gubernur Akmil (2009-2010), Pangdam V/Brawijaya (2010-2011), Dankodiklat TNI AD (2011-2013), Pangkostrad (2013-2014), sampai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (2014-2015) dan naik pangkat menjadi Jenderal.

Gatot dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Panglima TNI pada 8 Juli 2015 di usia 55 tahun. Pada hari yang sama, Sutiyoso dilantik menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Baca juga: Metamorfosis Jawaban Jenderal Gatot Soal Jadi Capres 2019

Pada saat Jokowi akan melantik Gatot, Ketum Gerindra yang juga mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto mendukungnya. Menurut Prabowo, Gatot adalah perwira yang baik.

“Kami menilai dua-duanya (Gatot dan Sutiyoso) perwira yang baik,” kata Prabowo usai menghadiri acara Golkar di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2015).

Saat menjadi Panglima TNI, Gatot menggantikan Jenderal (Purn) Moeldoko yang memasuki masa pensiun. Moeldoko kini menjadi Kepala Staf Kepresidenan.

Jabatan Gatot di luar TNI antara lain adalah Ketum PB FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) pada tahun 2014-2018. Pada tahun 2016, TNI di bawah kepemimpinan Gatot juga pernah menggelar kompetisi sepakbola bertajuk Piala Jenderal Sudirman.

Jendral Gatot pun pernah memberi instruksi kepada para prajurit TNI untuk melakukan salat istisqa guna memohon hujan di tahun 2015. Pada tahun itu, terjadi kebakaran hutan di banyak titik di Indonesia.

“Kodam Jaya dan jajaran Korem, Kodim, Koramil melaksanakan salat istisqa meminta hujan. Ini sesuai instruksi Panglima TNI,” ujar Kapendam Jaya Kolonel Inf Heri Prakosa dalam perbincangan dengan detikcom , Rabu (28/10/2015). 

Mari melihat rekam jejak Gatot yang sebelumnya menjabat Panglima TNI itu.

Jenderal Gatot dikenal sebagai sosok yang cukup tegas dan sensasional. Gatot pernah menimbulkan kontroversi saat menduga adanya penyelundupan 5.000 senjata ilegal oleh lembaga negara lain. Gatot juga dikagumi umat Islam karena dianggap selalu membela, terutama saat dirinya memutuskan muncul di aksi-aksi Bela Islam berjilid-jilid.

Beberapa pernyataannya juga sempat menuai kontroversi. Gatot pernah mengungkit isu PKI bangkit. Meski demikian, Gatot dikenal sebagai Panglima TNI yang membuat gebrakan membatalkan pengadaan helikopter AgustaWestland-101 (AW 101) oleh Mabes TNI AU.

Berikut sekilas sepak terjang Gatot saat menjabat panglima TNI:

1. Membatalkan Pengadaan Heli AW 101.

Pada 29 Juli 2016, Mabes TNI AU menandatangani kerja sama pengadaan AW 101 dengan PT Diratama Jaya Mandiri. Proyek ini sebelumnya telah diminta Presiden Joko Widodo untuk ditunda karena dianggap terlalu mahal–memakan dana Rp 738 miliar.

Baca juga: Jenderal Gatot Yakin Marsekal Hadi Tak Setop Kasus Heli AW101

Gatot, pada 14 September 2016, meminta KSAU untuk membatalkan pembelian AW 101. Pada 29 Desember 2016, dia menerbitkan surat perintah tentang tim investigasi pengadaan pembelian heli AW 101, dilanjutkan dengan menjalin kerja sama tanggal 24 Februari 2017 dengan Polri, BPK, PPATK, dan KPK untuk proses pengusutan.

Pada akhirnya, proyek itu dinyatakan terindikasi korupsi. Meski demikian, helikopter itu sudah mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

2. Mengadakan Nobar G30S/PKI

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pernah memerintahkan jajaran internalnya untuk mengadakan nonton bareng film G3OS/PKI. Perintah Gatot ramai dibahas lantaran beberapa pihak menyatakan film itu berat sebelah dan hanya untuk kepentingan rezim Orde Baru.

Sang Jenderal rupanya tidak ambil pusing atas polemik pemutaran film G30S/PKI di lingkup internal institusinya. Dia menegaskan acara nonton bareng film kontroversial itu memang perintahnya.

“Iya itu memang perintah saya, mau apa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah,” kata Jenderal Gatot saat ditemui seusai ziarah di Makam Bung Karno (MBK), Bendogerit, Blitar, Senin (18/9/2017).

Baca juga: Panglima TNI Senang Banyak yang Gelar Nobar Film G30S/PKI

Gatot pada akhirnya menjelaskan mengapa dirinya kerap berbicara isu PKI. “(Soal isu PKI) bukan dibangkit-bangkitkan. Tapi, manakala ada indikasi ada seorang tokoh Parpol yang berkata  ‘saya bangga jadi anak PKI‘, itu kan warning seharusnya. Jangan sampai kejadian itu terulang,” sebut Gatot, Kamis (22/3/2018).

3. Penyelundupan 5.000 Senjata Ilegal

Eks Panglima TNI itu pernah mengeluarkan pernyataan isu pembelian 5.000 pucuk senjata di luar instansinya yang kemudian menimbulkan polemik.

Isu mengenai penyelundupan senjata ini bermula dari pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam acara internal. Pernyataan Gatot bukan untuk dipublikasikan secara luas. Dalam pernyataanya itu, Gatot mengatakan ada institusi di luar TNI dan Polri yang hendak membeli 5.000 senjata.

Baca juga: Panglima TNI Tolak Disebut Berpolitik soal Isu 5.000 Senjata

Mengenai isu penyelundupan 5.000 senjata ilegal, Menko Polhukam Wiranto sudah angkat suara. Ia memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut hanyalah masalah miskomunikasi.

Ia membenarkan ada institusi yang membeli senjata, namun tidak ilegal. Wiranto mengatakan BIN hanya membeli 500 senjata untuk pendidikan intelijen.

4. Muncul di Aksi 411 dan 212

Selain tegas, Gatot dikenal dan dikagumi karena kedekatannya dengan massa umat Islam di saat ada aksi bela Islam berjilid-jilid. Yang jadi tanda tanya adalah ketidakhadiran Presiden Joko Widodo di aksi 411. Disebut-sebut Gatot sengaja mengaturnya agar bisa ‘manggung’.

Gatot membantah,”Saya tampil di mana? Tidak, Pak JK yang nerima (perwakilan massa). Jadi hebat sekali saya mengendalikan Presiden,” kata Gatot di acara Blak-blakan detikcom, Kamis (22/3/2018).

Baca juga: Kesaksian Jenderal Gatot di Tengah Aksi 411 dan 212

Setelah 411, ada aksi 212. Jokowi menemui massa yang berkumpul di Monas.

Gatot mengenakan kopiah putih saat itu. Kala itu, muncul tafsiran Gatot dekat dengan massa ormas Islam. Apa kata Gatot?

“Saya saat itu Panglima TNI, dalam situasi masyarakat jutaan, Presiden di tengahnya, blank saya, bagaimana kalau ada apa-apa, Presiden selamat, itu taruhan, keselamatan Presiden di tangan saya. Saya harus berikan kode, saya bagian dari umat,” tuturnya. 

Eks Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bercerita soal Aksi Bela Islam jilid I dan II yang dikenal dengan sebutan ‘411’ dan ‘212’, yang merujuk pada waktu aksi. Presiden Jokowi tidak menemui massa aksi 411, tapi menemui massa 212.

Muncul isu bahwa Jokowi tidak menemui massa 411 merupakan setting- an Gatot agar Gatot-lah yang tampil. Gatot membantah tafsiran itu.

“Saya tampil mana? Tidak, Pak JK yang nerima (perwakilan massa). Jadi, hebat sekali saya kalau mengendalikan Presiden,” kata Gatot di acara Blak-blakan detikcom, Kamis (22/3/2018).

Gatot menegaskan aksi 411 merupakan aksi damai. Dia membantah bila ada yang menyebut 411 sebagai aksi intoleransi.

“(Aksi) 411 itu saya katakan bahwa yang kumpul di Monas semua berangkat dari masjid, itu orang baik-baik dong, habis (salat) Jumat. Faktanya, ada pasangan yang mau menikah di Gereja Katedral (diberi jalan/dikawal peserta aksi) umat bersihkan jalannya, adakah rumput yang rusak, adakah sampah yang tersisa, apakah itu intoleransi?” ujarnya.

Aksi 212 sendiri berlangsung dengan aman dan damai. Tidak ada tindakan anarkis seperti yang dikuatirkan sejumlah pihak yang tidak sepaham.Malah Presiden Jokowi dan jajarannya juga ikut salat Jumat bersama massa di Monas.

Dakwaan Novanto Dibacakan, Ketua KPK: Lega dan Salut untuk Tim IDI

Jaksa penuntut umum pada KPK akhirnya membacakan berkas dakwaan terdakwa dugaan korupsi proyek e-KTP Setya Novanto. Ketua KPK Agus Rahardjo mengaku lega.

“Lega dan salut untuk tim IDI, yang tegak menjaga integritas dengan dedikasi yang sangat tinggi, yang hari ini seharian mendampingi jaksa KPK,” ucap Agus melalui pesan singkat kepada detikcom , Rabu (13/12/2017).

Baca juga: Jaksa KPK: Novanto Dapat Jatah 5 Persen dari Nilai Proyek e-KTP

Seperti diketahui, sebelumnya sempat dilakukan skors untuk memeriksa kondisi kesehatan Setya Novanto. Tidak hanya itu, Novanto juga beberapa kali tidak menjawab pertanyaan hakim. Padahal empat dokter dari KPK dan IDI menyatakan kondisi Novanto baik.

Disebutkan dalam dakwaan, Setya Novanto menerima duit USD 7,3 juta. Selain itu, Novanto disebut menerima jam tangan Richard Mille, yang kini harganya setara dengan USD 135 ribu.

Baca juga: Dakwaan Dibacakan, Pengacara Setya Novanto Sebut Praperadilan Gugur

Duit itu diterimanya dari sejumlah pengusaha penggarap proyek e-KTP, antara lain Andi Agustinus alias Andi Narogong, Johannes Marliem, Anang Sugiana Sudihardjo, dan Paulus Tannos. Pertemuan di antara pengusaha itu menghasilkan kesepakatan

commitment fee untuk Novanto sebagai Ketua Fraksi Golkar dan anggota DPR RI sebesar 5 persen melalui orang ‘perwakilan’ Novanto, Made Oka Masagung.

Novanto dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kapolda soal Tingkat Kepastian 2 Terduga Peneror Novel: 90 Persen

Jakarta – Polisi menunjukkan sketsa terbaru dua terduga pelaku teror terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis menyebut keduanya hampir dipastikan menjadi pelaku teror penyiraman air keras.

“Kalau dari hasil keterangan saksi mengatakan sudah 90 persen bahwa kedua (orang) itu diduga terlibat di dalam penyerangan Saudara Novel,” ujar Irjen Idham dalam jumpa pers bersama Ketua KPK Agus Rahardjo di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (24/11/2017).

Sketsa terduga pelaku teror didapat polisi dari keterangan dua saksi berinisial S dan SN. Pada sketsa pertama, tampak seorang berambut cepak dengan kulit agak gelap. Sedangkan pada sketsa kedua, tampak seseorang dengan kulit lebih terang serta rambut yang lebih panjang.

Baca juga: 167 Penyidik Dikerahkan Tangani Kasus Teror Novel Baswedan

“Kalau motif tunggu saja kalau sudah ketangkap . Karena proses penyelidikan juga kita lakukan 2 langkah. Langkah pertama, induktif, kita mulai dari TKP (tempat kejadian perkara). Lalu deduktif menyangkut motif. Kalau motif banyak yang bisa mungkin,” papar Idham.

Terkait penyelidikan teror ke Novel, tim kepolisian sudah memeriksa 66 saksi dalam waktu 3 bulan. Tim Polda Metro juga mendapatkan petunjuk dari penajaman gambar CCTV yang dilakukan Australian Federal Police (AFP).

Penyelidikan ini diawasi langsung tim audit investigasi Mabes Polri. Tim audit investigasi ini dipimpin langsung oleh Kabid Propam Polri dan dibantu sejumlah jenderal bintang 1 dari Irwasum dan Bareskrim Polri.

Baca juga: Kapolda Metro Tunjukkan Sketsa Terbaru 2 Terduga Pelaku Teror Novel

“Kenapa ada tim audit investigasi dari Mabes Polri? Ini untuk mengawasi, mengontrol apakah penyelidikan yang dilakukan sudah tepat,” ujar Idham.

Novel Baswedan mengalami teror penyiraman air keras setelah menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya pada 11 April 2017. Novel kini tengah menjalani perawatan di Singapura. 

Makna Lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ Menurut Panglima TNI

Jenderal Gatot Nurmantyo memiliki pengertian sendiri tentang lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ yang ditonton. Lakon itu bercerita tentang kerajaan Hastinapura, yang dipimpin Pandawa setelah perang Baratayuda.

“Setelah perang Baratayuda, banyak yang gugur dan Parikesit membangun negara lagi. Karena istri Abumayu mengandung, kemudian melahirkan (Parikesit). Anak-cucu dilatih secara khusus ditugaskan, ada yang menjadi kepala staf angkatan darat, laut, dan udara, panglima TNI dalam satu negara yang baru,” ucap Gatot kepada wartawan di kawasan Kota Tua Jakarta, Tamansari, Jakarta Barat, Jumat (29/9/2017).

Panglima TNI pun menyoroti kondisi negara yang kacau balau pasca-perang Bharatayudha. Bagi dia, lebih baik menjaga persatuan daripada berperang.

“Perang menyakitkan, menang atau kalah pasti rugi. Menata perlu waktu, tenaga, dan biaya. Maka utamakanlah persatuan,” ucap Gatot.

Baca juga: Arti Lakon ‘Parikesit Jumeneng Nata’ yang Ditonton Panglima TNI

Lakon wayang yang dimainkan dalam pergelaran malam ini, Jumat (29/9/2017), adalah ‘Parikesit Jumeneng Noto’ atau Parikesit Menjadi Pemimpin. Parikesit adalah cucu Arjuna, panengah Pandawa. Dia putra Abimanyu dengan Dewi Utari dari negeri Wirata.

Parikesit diangkat menjadi Raja Hastinapura setelah Pandawa, yakni Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, memenangi perang Baratayuda melawan Kurawa. Yudhistira sebagai putra tertua sempat menjadi raja Hastina selama 15 tahun.

Lima belas tahun memimpin Hastinapura, Yudhistira dan empat saudaranya ingin mengundurkan diri dan bertapa ke gunung. Mau tidak mau takhta Hastina Pura harus dilepaskan. Namun, karena para putra Pandawa, termasuk Abimanyu, tewas dalam perang Baratayuda, takhta Hastinapura diserahkan kepada cucu salah satu Pandawa.

Pilihan kemudian jatuh ke cucu Arjuna, si Parikesit, yang juga putra Abimanyu. Di masa mudanya, Abimanyu pernah mendapatkan Wahyu Tjakraningrat. Barang siapa yang bisa mendapatkan Wahyu Tjakraningrat, anak keturunannya akan menjadi raja.

Arti Lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ yang Ditonton Panglima TNI

Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA (2)

​05:05 WIB

Setelah mengamuk dan membisanakan seluruh orang Jepang di dalam dan luar Kota Blitar, pasukan pemberontak berpencar menjadi tiga ke arah pegunungan dan membentuk benteng pertahanan.

Supriyadi memimpin pasukan di timur dan membuat perbentengan di Kali Putih-Kali Menjangan Kalung. Suparjono ke Barat dan Muradi ke Utara. Keduanya kemudian bertemu di Candi Panataran.

Markas Militer Jepang yang mengetahui adanya pemberontakan langsung mengerahkan seluruh kekuatan militernya ke Blitar. Namun mereka tidak langsung menggempur pertahanan pemberontak.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah memblokade pintu keluar bagi para pemberontak agar tidak bisa melarikan diri. Daidan-daidan yang ada di sekitar Blitar langsung dikerahkan.

Daidan Kediri diperintahkan menjaga perbatasan di Blitar-Tulungagung dan Sungai Brantas di Lodoyo, Kademangan dan Ngunut. Daidan Malang di perbatasan Blitar-Malang dan Kali Lohor.

Operasi militer Jepang ini dipimpin langsung oleh perwira-perwira Jepang yang tangkas di medan perang, dibantu Gyugun Sidubo, Syodanco Yugetikai, dan disaksikan Somubuco Yamato Shojo.

Meski pasukan pemberontak melawan mati-matian, mereka akhirnya bisa dilumpuhkan. Kelompok yang pertama ditumpas adalah pasukan Supriyadi, disusul dengan pasukan Suparjono dan Muradi.

Para pemimpin pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian diseret ke Pengadilan Militer Jepang. Dalam sidang di Jakarta, pada 14-16 April 1945, para pemimpin pemberontak dijatuhi vonis mati.

Mereka yang diadili dan divonis mati dengan jalan dipenggal kepalanya berjumlah enam orang, tanpa Supriyadi, terdiri dari Dr Ismail, Muradi, Suparjono, Sunanto, Sudarno, dan Halir.

Sejumlah pemberontak juga dikabarkan tewas dalam penjara Cipinang dan Sukamiskin. Mereka yang tewas tanpa diadili itu berjumlah empat orang, yakni Sumardi, Sunardjo, Atmadja, dan Sukaeni.

Karena lolos dari hukuman mati dan dianggap masih hidup, Supriyadi diangkat Menteri Keamanan Rakyat pada 6 Oktober 1945 dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 20 Oktober 1945.

Tetapi karena sosoknya tidak pernah terlihat, maka posisi Panglima TKR diserahkan kepada Jenderal Soedirman. Tidak diketahuinya keberadaan Supriyadi membuat sosoknya misterius.

Pada Juni 1965, salah satu laporan pers menyebutkan pada 28 Mei 1965 Letnan R Sain kesurupan roh Supriyadi dan menceritakan bahwa dia sudah mati dan kepalanya dipenggal oleh Jepang.

05:05 WIB

Namun kabar itu tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Pencarian terhadap diri Supriyadi mulai dilakukan. Jika sudah mati, di mana kuburnya? Jika masih hidup, di mana keberadaannya.

Saat pencarian dilakukan, sedikitnya sudah lima orang lebih yang mengaku sebagai Supriyadi. Di antaranya bahkan telah menemui ayah Supriyadi, mantan Bupati Blitar 1945-1956 Darmadi.

Adik tiri Supriyadi, Ki Utomo Darmadi mengaku pernah ditelepon Wakil Presiden Try Sutrisno yang mengatakan ada orang tua di Yogyakarta mengaku sebagai Supriyadi dan diminta menemuinya.

Setelah ditemui, ternyata orang itu bukan Supriyadi. Dia tidak bisa bahasa Belanda dan Jepang. Supriyadi pernah bersekolah di MULO dan MOSVIA, serta ikut dalam latihan militer Jepang.

Untuk memutus mata rantai pencarian itu, pada 9 Agustus 1975 Presiden Soeharto secara resmi mengangkat Supriyadi sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan surat keterangan No 063/TK/Tahun 1975.

Diangkatnya Supriyadi sebagai pahlawan nasional, gelar yang kerap diberikan kepada orang yang telah meninggal, tidak serta merta memutus pencarian terhadap Supriyadi.

Foto yang dimiliki Supriyadi semasa hidup dan tersebar di publik juga hanya satu. Itu pun mulai mengundang tanda tanya, apakah benar orang yang ada dalam foto itu Supriyadi, tidak jelas.

Sampai di sini ulasan Cerita Pagi tentang Supriyadi dan Pemberontakan Tentara PETA di Blitar, pada 14 Februari 1945 diakhiri. Semoga memberikan manfaat kepada pembaca.

Sumber Tulisan

* Baskara T Wardaya, Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno, Galang Press, Cetakan I, 2008.

* Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Penerbit Pustaka Pena, Juli 2000.

* Anton Lucas, Radikalisme Lokal, Oposisi dan Perlawanan Terhadap Pendudukan Jepang di Jawa 1942-1945, Syarikat, 2012.

* Ben Anderson, Revoloesi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, Pustaka Sinar Harapan, jakarta 1988.

* Soehoed Prawiroatmodjo, Perlawanan Bersendjata Terhadap Fasisme Djepang, Jakarta, Merdeka Pres, 1965, dikutip dalam Sidik Kertapati.

Misteri Hilangnya Supriyadi dan Pemberontakan PETA (1)

​PEMBERONTAKAN tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, pada 14 Februari 1945, memiliki nilai historis yang sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan fasisme Jepang.

Dalam peristiwa itu, sejumlah tentara PETA yang dipimpin tiga orang perwira dan seorang bintara, terdiri dari Muradi, Supriyadi, Suparjono, dan Sunanto melakukan gerakan bersenjata.
Gerakan ini pada awalnya akan dilakukan secara serempak oleh Daidan Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Namun rencana itu diketahui oleh Jepang dan pemberontakan akhirnya dibatalkan.

Tetapi informasi itu tidak sampai ke Daidan Blitar. Sulitnya komunikasi masa itu, membuat para pemimpin PETA di Blitar tetap melanjutkan rencana mereka untuk melakukan pemberontakan.

Percakapan para pemimpin pemberontak di ruang jaga Kesatrian Daidan Blitar sesaat sebelum pemberontakan di bawah ini membuktikan tidak sampainya informasi tentang rencana pembatalan itu.

“Jadikah malam ini?” tanya Muradi yang langsung dijawab oleh Supriyadi, “Menunggu apalagi? Penderitaan rakyat sudah sampai dipuncak dan sudah tidak tertahankan lagi.”

“Bagaimana bapak-bapak dan saudara-saudara lainnya?” sambung Muradi menyangsikan persiapan yang dilakukan daidan lainnya. “Mereka sudah mengetahui semuanya,” timpal Suparjono cepat.

“Kalau kita mulai, mereka akan dengan sendirinya mengikuti gerakan kita. Harus ada yang berani memeloporinya,” terang Suparjono meyakinkan para pemimpin pemberontakan untuk bergerak terus.

“Dalam perang Bratayuda, Sang Kresna memuji para kesatria yang berani mengorbankan jiwa-raganya dengan tidak menanyakan lebih dahulu, untuk apa?” tambah Supriyadi dengan bersemangat.

“Kresna, Arjuna dan seluruh Bratayuda tidak ada hubungannya dengan kita ini. Bagaimana rencana yang sesungguhnya,” sela Sunanto menenangkan suasana yang mulai emosional itu.

“Kita bunuh semua orang Jepang yang ada di sini. Selanjutnya bersama dengan daidan lainnya menyerang tiap pasukan tentara Jepang yang digerakkan untuk menindas kita,” terang Supriyadi.

“Apakah daidan lainnya akan mengikuti kita dan mengetahui apa yang kita mulai?” sela yang lainnya dengan cemas. “Tentu!” jawab Supriyadi dengan sangat yakin.

“Kita sudah mengadakan hubungan dengan mereka. Kita harus mengambil siasat yang terbaik, ialah siasat mendahului menyerang,” tegas Supriyadi. “Risikonya terlalu besar,” sela yang lainnya.

“Risiko apa? Apakah kita mau disamakan dengan orang-orang yang mengaku dan menamakan diri sebagai pemimpin rakyat, tetapi hanya bisa bicara saja?” tanya Supriyadi. “Kita tidak mengetahui bagaimana kekuatan musuh kita,” tanya yang lainnya.

“Lebih baik begitu! Sejarah perang penuh dengan contoh yang membuktikan bahwa dalam keadaan yang jelek sekalipun dapat juga dicapai kemenangan-kemenangan,” timpal Supriyadi lagi.

“Tanah Air menunggu kapan kita mulai memenuhi kewajiban,” katanya menutup pertemuan rahasia itu.

Setelah percakapan itu, masing-masing pemimpin pemberontakan langsung bergerak ke gudang senjata dan misiu, serta peluru-pelurunya dibagi-bagikan kepada masing-masing pasukan pemberontak.

Pembagian senjata pada masa itu merupakan hal yang biasa bagi daidan, karena sering melakukan latihan perang dengan peralatan dan perbekalan lengkap hingga tidak mencurigakan.

Akhirnya, pada 14 Februari 1945 pukul 03.00 Wib, saat Kota Blitar tengah tertidur lelap, para tentara PETA Blitar melakukan sejumlah serangan terhadap orang-orang Jepang.

Warga yang mengetahui adanya suara letusan di pagi buta itu awalnya mengira berondongan senapan yang datang dari timur kesatriyan dan terus mendekat ke Hotel Sentrum sebagai latihan perang.

Namun saat terdengar teriakan “Merdeka! Merdeka!” perkiraan warga langsung berubah. Apalagi setelah terdengar suara lonceng lima kali, warga langsung keluar berhamburan ke luar rumah.

“Salah seorang tetangga mendekat dengan nada setengah berbisik. Di Hotel Sakura ada Jepang yang terbunuh. PETA-PETA menyerukan Merdeka, ikut Jepang atau ikut PETA,” cerita salah seorang saksi.

Di sepanjang jalan raya terdapat mayat-mayat tergeletak. Mereka adalah para serdadu Jepang yang tewas dibunuh saat tengah mabuk sake dan mereka yang dianggap sebagai mata-mata Jepang.

Dari Hotel Sakura, para tentara PETA bergerak menuju rumah penjara. Sebanyak 285 narapidana yang terdiri dari para kriminal dibebaskan. Mereka teriak kegirangan “Merdeka! Merdeka!”

Selain menyasar para tentara Jepang dan mereka yang dituduh mata-mata dan kaki tangan Jepang, serangan tentara PETA juga mengarah kepada orang-orang Tionghoa dan orang-orang Indo Belanda.

Dari alun-alun, para tentara PETA bergerak ke kecamatan-kecamatan. Saat di Kecamatan Nglegok, para tentara PETA menemui rakyat yang telah berkumpul dan menyampaikan tujuannya untuk merdeka.