Category Archives: Bahasa Budaya

Makna Lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ Menurut Panglima TNI

Jenderal Gatot Nurmantyo memiliki pengertian sendiri tentang lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ yang ditonton. Lakon itu bercerita tentang kerajaan Hastinapura, yang dipimpin Pandawa setelah perang Baratayuda.

“Setelah perang Baratayuda, banyak yang gugur dan Parikesit membangun negara lagi. Karena istri Abumayu mengandung, kemudian melahirkan (Parikesit). Anak-cucu dilatih secara khusus ditugaskan, ada yang menjadi kepala staf angkatan darat, laut, dan udara, panglima TNI dalam satu negara yang baru,” ucap Gatot kepada wartawan di kawasan Kota Tua Jakarta, Tamansari, Jakarta Barat, Jumat (29/9/2017).

Panglima TNI pun menyoroti kondisi negara yang kacau balau pasca-perang Bharatayudha. Bagi dia, lebih baik menjaga persatuan daripada berperang.

“Perang menyakitkan, menang atau kalah pasti rugi. Menata perlu waktu, tenaga, dan biaya. Maka utamakanlah persatuan,” ucap Gatot.

Baca juga: Arti Lakon ‘Parikesit Jumeneng Nata’ yang Ditonton Panglima TNI

Lakon wayang yang dimainkan dalam pergelaran malam ini, Jumat (29/9/2017), adalah ‘Parikesit Jumeneng Noto’ atau Parikesit Menjadi Pemimpin. Parikesit adalah cucu Arjuna, panengah Pandawa. Dia putra Abimanyu dengan Dewi Utari dari negeri Wirata.

Parikesit diangkat menjadi Raja Hastinapura setelah Pandawa, yakni Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, memenangi perang Baratayuda melawan Kurawa. Yudhistira sebagai putra tertua sempat menjadi raja Hastina selama 15 tahun.

Lima belas tahun memimpin Hastinapura, Yudhistira dan empat saudaranya ingin mengundurkan diri dan bertapa ke gunung. Mau tidak mau takhta Hastina Pura harus dilepaskan. Namun, karena para putra Pandawa, termasuk Abimanyu, tewas dalam perang Baratayuda, takhta Hastinapura diserahkan kepada cucu salah satu Pandawa.

Pilihan kemudian jatuh ke cucu Arjuna, si Parikesit, yang juga putra Abimanyu. Di masa mudanya, Abimanyu pernah mendapatkan Wahyu Tjakraningrat. Barang siapa yang bisa mendapatkan Wahyu Tjakraningrat, anak keturunannya akan menjadi raja.

Arti Lakon ‘Parikesit Jumeneng Noto’ yang Ditonton Panglima TNI

Advertisements

Bursa Naskah hinggaJualan Hak Cipta, AgendaPenting di IIBF 2017

​Jakarta– 

Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 punya sejumlah agenda penting bagi penulis, penerbit maupun pecinta buku. Mulai dari bursa naskah sampai persoalan jualan hak cipta atau rights yang biasa terjadi di pameran buku tahunan.

Hal tersebut diungkapkan oleh
Ketua Panitia IIBF 2017, Husni
Syawie, saat temu media di
Paviliun Indonesia, Senayan City
Jakarta, Jumat, (18/8/2017)


Baca juga: Bekraf Siapkan Stan
Khusus Bagi Penerbit Indie


“Seperti semua pameran buku, ada
menjual dan membeli. Di sini kami
juga memperjualbelikan hak cipta.
Jadi ada rights yang dijual ke luar
juga,” kata Husni.


Tahun ini pula, pihak penyelenggara IIBF mengadakan sesi ‘bisnis making’. Ini jadi ajang bagi penerbit-penerbit untuk dipertemukan dengan penerbit asing. “Kita mempertemukannya lebih spesifik lagi, dipertemukan dengan minat yang sama. Transaksi setelah pameran juga nggak jadi soal.”

Selain itu, program bursa naskah
juga bakal ada di IIBF. Bagi
penulis-penulis muda yang ingin
terkoneksi dengan penerbit, bisa
mendatangi sesi tersebut.
“Kami ingin di bursa naskah ini
timbulnya pengarang-pengarang
baru. Bursa naskah diharapkan
dapat menjembatani tujuan
tersebut,” pungkasnya.
IIBF 2017 sendiri berlangsung di
Assembly Hall Jakarta Convention
Center pada 6-10 September 2017.
Tahun ini juga ditargetkan akan
ada 70 ribu pengunjung yang
memadati gelaran selama lima hari
berturut-turut.


Baca juga: Najwa Shihab akan
Buka Indonesia International
Book Fair 2017

Michael Wolf, Hidayah Turun Usai Melihat Muslim Shalat di Pesawat

​Stasiun televisi terkemuka CNN mewawancarai seseorang bernama Michael Wolfe tak lama setelah terjadi insiden saat pelaksanaan lontar jumrah, beberapa tahun lalu. Meski memiliki nama Barat, namun nyatanya Wolfe mampu memberikan penjelasan secara gamblang dan panjang lebar terkait ibadah haji, maupun peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

Wolfe juga memaparkan dengan rinci segala hal menyangkut penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari rukun haji, tata cara, hingga makna pada setiap ibadah yang dilakukan. Tapi, siapakah Michael Wolfe? Sejatinya, Wolfe adalah penulis buku berjudul One Thousand Roads to Mecca : Ten Centuries of Travelers Writing About the Muslim Pilgrimage . Selain itu, dia pernah membuat film dokumenter tentang ibadah haji untuk stasiun televisi yang sama.

Jadi, bila ditilik dari curriculum vitae-nya ini, tak salah jika stasiun televisi tersebut memilih Wolfe sebagai nara sumbernya. Dia juga dikenal sebagai produser, penulis, serta cendekiawan. Selain menghasilkan karya buku dan film, dia kerap memberikan kuliah umum mengenai agama Islam di sejumlah universitas kondang di AS.

Kiprah pria kelahiran 3 April 1945 itu dalam agama Islam merupakan wujud komitmennya sebagai seorang Muslim, setelah ia mengikrarkan dirinya sebagai pemeluk Islam (mualaf). Michael Wolfe menjadi Muslim pada tahun 80-an, dan sejak itu dia berkhidmat bagi kemajuan agama Islam dan umat Muslim di seluruh dunia.

Bermula pada akhir tahun 70, Wolfe yang kala itu sudah menjadi seorang penulis, ingin mencari pencerahan dalam hidupnya. Dia berupaya melembutkan perasaan sinisnya dalam melihat kondisi lingkungan di sekelilingnya.

Terlahir dalam keluarga yang mempunyai dua pegangan agama, ayahnya adalah keturunan Yahudi, sementara sang ibunda penganut Kristen. Situasi tersebut menyebabkan Wolfe agak tertekan apabila harus membicarakan isu agama dan kebebasan.

Hingga kemudian dia menemukan satu momen berkesan. Suatu ketika dia menempuh perjalanan menuju Brussels, Belgia. Begitu selesai makan malam, Wolfe pergi ke toilet. Pada waktu bersamaan, sejumlah penumpang pesawat yang beragama Islam melaksanakan shalat di bangku masing-masing karena sudah masuk waktu shalat Isya.

Wolfe yang keluar dari toilet, terkesima melihat peristiwa itu. Dirinya terus mencermati ibadah yang dilakukan umat Muslim. Dia lantas menyadari, di manapun dan kapan pun, orang-orang Islam yang beriman tidak akan pernah melalaikan kewajiban ibadahnya kepada Tuhan.

“Saya hanya berdiri dan mencermati, Saya melihat sebagian mereka memegang sebuah buku sebesar telapak tangan yang kemudian meletakkannya di dada sambil memuji Tuhannya,” ungkap Wolfe. Kejadian ini membawa Wolfe ingin lebih mengenal Islam. Dia ingin menemukan agama yang tidak hanya sebatas ritual atau pemujaan, serta tidak ada keraguan di dalamnya. Wolfe lantas memutuskan mengembara ke Afrika Utara, dan menetap di kawasan tersebut selama lebih kurang tiga tahun.

Di sana, dia berinteraksi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda. Wolfe bertemu dengan banyak etnis, suku dan agama, termasuk dengan kalangan keturunan Arab dan Afrika yang beragama Islam. Itulah untuk kali pertama perkenalannya yang benar-benar intens dengan Islam. Dan segera saja, dia merasakan suasana yang lebih akrab, santun dan tenggang rasa. Umat Muslim menerimanya dengan tangan terbuka.

Dari pengamatannya, seperti dikutip dari laman Islamfortoday , umat Islam tidak pernah membedakan seseorang berdasarkan etnis ataupun warna kulit. Siapa pun dipandang sama serta setara, baik miskin, kaya, tua, muda, dan sebagainya. Islam hanya membedakan orang per orang berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hal ini jelas sangat kontras dengan kehidupannya dulu. Misalnya, dalam pergaulan antarsesama, justru kerap timbul diskriminasi karena perbedaan warna kulit, etnis atau keyakinan. “Ini terjadi setiap hari di masyarakat padahal mereka mengaku punya keyakinan agama. Sungguh memprihatinkan,” paparnya.

Dia pun menemukan kedamaian dalam Islam. Dalam hati, dia membenarkan pernyataan tokoh Muslim AS, Malcolm X, yang berkata bahwa orang Amerika perlu memahami Islam karena Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan saling menghormati dan menghargai antarmanusia secara tulus. Penulis artikel berjudul  Islam: The Next American Religion? ini pun berpendapat, Islam merupakan agama yang sesuai bagi kondisi Amerika. Ada beberapa alasan, antara lain, Islam memiliki semangat demokrasi, egaliter, serta toleran terhadap keyakinan lain.

Wolfe tercatat dua kali mengadakan perjalanan ke Maroko, yakni pada tahun 1981 dan 1985. Pada akhirnya dia berkesimpulan bahwa Afrika Utara merupakan wilayah yang bisa menghadirkan keseimbangan baru dalam hidupnya. Hatinya tertambat di Afrika Utara. Dan tak hanya tertambat pada Afrika Utara, hatinya mulai terkesima dan takjub dengan Islam. Semakin banyak mendalami Islam, semakin kuat keyakinan dalam dirinya. Michael Wolfe akhirnya memutuskan menjadi Muslim.

Keputusannya ini disayangkan oleh rekan-rekannya yang terdiri dari kalangan akademisi Barat. Sebagian mereka masih mengaitkan Islam dengan masyarakat yang terbelakang dan agama kekerasan. Mereka pun meminta Wolfe untuk mengurungkan keputusan tersebut.

Akan tetapi, Wolfe yang kemudian berganti nama menjadi Michael Abdul Majeed Wolfe, tidak goyah. Wolfe menilai rekan-rekannya keliru menilai Islam. Islam, dari pengamatannya, selama ini banyak disalahartikan dan diputarbalikkan dari kenyataan yang sebenarnya. “Pendeknya, Islam adalah agama damai,” tegas Wolfe.

Dirinya kian mantap memeluk Islam, dengan segala konsekuensinya, karena dia melihat kebaikan dan keutamaan dalam agama ini. Menurutnya, agama Islam justru menekankan pada persaudaraan dan cinta kasih, baik kepada sesama manusia juga alam semesta.

Lebih jauh, tokoh ini melihat, dalam beberapa tahun ke depan, Islam akan menjadi agama dengan perkembangan paling pesat di Eropa dan Amerika. Dari tahun ke tahun, jumlah pemeluk Islam mengalami pertumbuhan, termasuk mereka yang menjadi mualaf, dan antara lain dipicu oleh semakin banyaknya orang yang memahami esensi sejati ajaran Islam tadi.

Wolfe semakin antusias mengikuti ibadah dan kegiatan keislaman. Dia membaca banyak buku tentang Islam dan melibatkan diri dengan aktivitas Masjid di dekat kediamannya di California. “Setiap tahun umat Islam berpuasa sebulan penuh dan diikuti dengan pelaksanaan haji kira-kira selama 40 hari. Itulah kemuliaan agama Islam,” katanya.

Dijelaskan, Islam berasaskan pada lima rukun utama. Salah satunya adalah haji. Wolfe percaya, bila telah mampu secara materi dan fisik, seseorang wajib hukumnya melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci, sekurang-kurang sekali seumur hidup.

Usai menunaikan ibadah haji sekitar awal tahun 1990, Wolfe memberikan sumbangan terbaiknya berupa buku berjudul Mecca: The Hadj yang diterbitkan pada 1993, dan One Thousand Roads to Mecca (1997). “Sekarang saya berharap dapat mendalami keyakinan agama yang sudah tersemai sejak sekian lama,” ujar Wolfe.

Melanjutkan kegiatan menulisnya, lulusan sarjana muda Seni Klasik di Universitas Wesleyan ini mendirikan penerbitan Tombouctou Books di Bolinas, California. Salah satu prestasinya yakni saat mengedit koleksi esai para penulis Muslim Amerika dalam buku bertajuk Taking Back Islam: American Muslims Reclaim Their Faith . Buku ini memenangi Anugerah Wilbur pada 2003 dalam kategori buku agama terbaik.

Wolfe juga pernah menjadi pembawa acara sebuah program film pendek tentang perjalanan haji ke Makkah untuk acara Ted Koppel’s Nightline di stasiun televise ABC. Program tersebut juga berhasil meraih penghargaan media dari Muslim Public Affair Council.

Berdakwah Lewat Media Film

Kecintaan Michael Wolfe tak perlu diragukan lagi. Hari-harinya senantiasa diisi dengan berbagai kegiatan keislaman. Di sela-sela kesibukannya menulis, yang ia jadikan sebagai media dakwah, Wolfe melebarkan syair Islam pada masyarakat luas, terutama non-Muslim melalui media lain. Pada Februari 2003, dia bekerjasama dengan wartawan televisi CNN, Zain Verjee, untuk membuat program film dokumenter tentang ibadah haji.

Pada tahun 1999, bersama dengan rekan sesama sineas, Alex Kronemer, Wolfe mendirikan sebuah yayasan pendidikan media yang diberi nama Unity Productions Foundation (UPF). Kolaborasi Wolfe dan Alex dalam UPF kemudian menghasilkan karya film dokumenter televisi mengenai kisah hidup Nabi Muhammad SAW berjudul Muhammad: Legacy of a Prophet .

Terkait film tersebut, Wolfe mengungkapkan mereka ingin menyasar dua audiens sekaligus. Pertama, kalangan terpelajar serta masyarakat awam Barat. Sebagian besar mereka belum banyak mengetahui tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya, sehingga kerap memberikan persepsi negatif. Sedangkan kedua, masyarakat Muslim sendiri agar mereka lebih mengenal sosok Nabi SAW yang mulia.

Film ini mengambil lokasi di tiga negara, Arab Saudi, Yordania dan Amerika Serikat. Sejumlah tokoh agama, sejarawan dan cendekiawan semisal Syekh Hamza Yusuf, Karen Armstrong, Cherif Basiouni, Sayyid Hossen Nasr, serta banyak lagi, yang tercatat menjadi narasumbernya. Untuk menambah keakuratan, bersama dengan Kronemer, Wolfe mempelajari sirah (sejarah) serta buku-buku tentang hadis Rasulullah SAW.

Sumber : Republika 

https://translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&ie=UTF8&nv=1&prev=_m&rurl=translate.google.co.id&sl=en&sp=nmt4&tl=id&u=https://en.m.wikipedia.org/wiki/Michael_Wolfe&usg=ALkJrhhcCX5dhHWLtwi91v4UL-59_kiMdw

Pola Pikir

​Berpikir cerdas..

Pola pikir cerdas

Perampok berteriak kepada semua orang di bank :

” Jangan bergerak! Uang ini semua milik Negara. Hidup Anda adalah milik Anda ..”

Semua orang di bank kemudian tiarap.

Hal ini disebut “Mind changing concept – merubah cara berpikir“.

Semua orang berhasil merubah cara berpikir dari cara yang biasa menjadi cara yang kreatif.

Salah satu nasabah yang sexy mencoba merayu perampok menawarkan “main” agar dia dilepas . Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, 

” Yang sopan mbak! Ini perampokan bukan perkosaan!”

Hal ini disebut ” Being professional – bertindak professional“. Fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan.

Setelah selesai merampok bank dan kembali ke rumah, perampok muda yang lulusan MBA dari universitas terkenal berkata kepada perampok tua yang hanya lulusan SD

 ” Bang, sekarang kita hitung hasil rampokan kita”.

Perampok tua menjawab. ” Dasar bodoh, Uang yang kita rampok banyak, repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok.”

Hal ini disebut “Experience – Pengalaman“. Pengalaman lebih penting daripada selembar ijazah dari universitas.

Sementara di bank yang dirampok, si manajer berkata kepada kepala cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata, ” Tunggu dulu, kita ambil dulu 8 milliar untuk kita bagi dua. Nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.”

Hal ini disebut “Swim with the tide – ikuti arus“. Mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan pribadi.

Kemudian kepala cabangnya berkata,” Alangkah indahnya jika terjadi perampokan tiap bulan.”

Hal ini disebut “Killing boredom – menghilangkan kebosanan“. Kebahagiaan pribadi jauh lebih penting dari pekerjaan Anda.

Keesokan harinya berita di TV melaporkan uang yang dirampok dari bank sebesar 10 M. Perampok menghitung uang hasil perampokan dan perampok sangat murka.

 “Kita susah payah merampok cuma dapat 2 milliar,orang bank tanpa usaha dapat 8 milliar. Lebih enak jadi perampok yang berpendidikan rupanya.”

Hal ini disebut sebagai “Knowledge is worth as much as gold – pengetahuan lebih berharga daripada emas“.

Dan di tempat lain manajer dan kepala cabang bank tersenyum bahagia karena mendapat keuntungan dari perampokan yang dilakukan orang lain.

Hal ini disebut sebagai “seizing opportunity – berani mengambil risiko“

Jargon

​Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang profesi/kehidupan (lingkungan/organisasi) tertentu. Jargon biasanya tidak dipahami oleh orang dari bidang  yang lain. Misalkan “jargon komputer” berarti istilah-istilah yang berhubungan dengan komputer secara khusus dan hanya dipahami oleh orang-orang yang berhubungan dengan bidang komputer.

Dalam organisasi ,Jargon sangat dibutuhkan selain dana. apa itu Jargon…?

Jargon adalah kata atau kalimat atau Singkatan yang menggambarkan tujuan umum/misi  suatu organisasi.

Selain organisasi butuh bendera dan semboyan,jargon adalah Keyword bersama,soal tujuan bersama yg hendak diraih. Oleh pengurus terus disiar ulang. Digaung-gaungkan Contohnya seperti “Ganyang PKI”.”Lawan Kapitalis “,”Bela Kebhinekaan”,”Bela Agama” dan lain-lain
Jargon adalah bahasa yang menghidupkan organisasi dan juga bisa membuat seorang pengurus organisasi bisa hidup berkecukupan karena lihai “menjual” jargon organisasinya. 

Dengan modal Teriakkan Jargon dan jumlah massa, duit pun mengalir ke kantong pribadi. 

Jargon pun digunakan suatu perusahaan untuk meningkatkan jumlah perdagangan produknya contohnya seperti “Pasti Enak”,”Josss”,”Gurihnya tuh Disini”,”Travel dulu, Mati Kemudian”.

Begitulah sistem bekerja. Tanpa ada kata-kata sistem apa pun tak berfungsi (bekerja).

Ada Bukti Musafir Muslim Menemukan Amerika Sebelum Colombus

​Kebanyakan masyarakat tahu dari buku sejarah, Amerika ditemukan oleh seorang Christoper Colombus melalui pelayarannya ke daerah yang disebut “The New Word”. Namun sejarah tersebut patut dipertanyakan kembali. Sebab, belakangan ini banyak fakta baru yang ditemukan terkait penemuan Amerika oleh umat Islam jauh sebelum Colombus.

70 tahun sebelum Colombus menapakkan kakinya, Laksamana Muslim Cina, Cheng Ho, telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad-abad sebelum itu, para pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah tinggal dan membuat kampung-kampung dan berasimilasi dengan penduduk lokal Amerika dengan damai.

Telah ditemukan sebuah peta pelayaran bangsa Muslim Cina ke Amerika lebih dari 70 tahun sebelum Colombus. Dokumen ini konon merupakan salinan dari peta tahun 1418, yang dibuat oleh Laksamana China Cheng Ho, menunjukkan “The New Word” atau Amerika dengan detail. Seorang sejarawan dan ahli kapal selam, Gavin Menzies, pada 2003 menggunakannya sebagai bukti untuk bukunya yang berjudul 1421: The Year When China Nearly Discoveres America and The World .

Ditemukan juga sebuah dokumen Cina kuno yang dikenal sebagai dokumen Sung, mencatat perjalanan pelaut Muslim ke tanah yang dikenal sebagai Mu-Lan-Pi (Amerika). Fakta lainnya, dalam tulisan Dr. Youssef Mroueh, Precolumbian Muslims in America menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Colombus.

Pada pemerintahan Khalifah Umayyah, oleh Abdurrahman III pada 929-961 M berlayar dari pelabuhan Delbra di Spanyol, melewati samudra gelap dan berkabut hingga sampai di negeri tak dikenali. Hingga akhirnya beberapa dari mereka bermukim di daerah yang kemudian disebut dengan Amerika.

Colombus sendiri mengaku dalam surat-suratnya, bahwa pada 21 Oktober 1942, ketika kapalnya berlayar dekat Gibara di pesisir timur-laut Kuba, ia melihat sebuah masjid di atas sebuah gunung yang indah. Juga telah ditemukan reruntuhan masjid dan menara dengan tulisan ayat Alquan di Kuba, Meksiko, Texas, dan Nevada.

Bukti jelas lainnya yang dapat kita lihat hingga kini, pada sekujur Benua Amerika terdapat kota-kota dengan nama islami atau berakar dari bahasa Arab, bahkan dengan nama Mecca dan Medina. Dr Youssef Mroueh menyebutkan, terdapat kota di Amerika bernama Mecca di Indiana. Serta banyak kota-kota bernama Medina, di antaranya di Idaho, Hazen, North Dakota, Tennesse, Texas, Ontario Kanada, dan kota-kota lainnya.

Bukti-bukti yang telah ditemukan telah mengubah sejarah, dan setidaknya telah mengajak kita membuka mata, untuk melihat dunia lebih jauh, menelusuri sejarah Islam lebih dalam. Hal ini yang membuat Maxima Pictures berkolaborasi dengan Falcon Pictures memproduksi film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 yang rencananya akan tayang tanggal 8 Desember nanti.

Produser dan penulis naskah ‘BTDLA 2’, Rangga Almahendra mengungkapkan, ia bersama Hanum Rais selalu konsisten membuat novel atau film yang mencoba mengangkat kembali kepingan fakta sejarah Islam. “Yang tenggelam atau mungkin sengaja ditenggelamkan, dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa sampai Bulan Terbelah di Langit Amerika, ” kata Rangga

Sumber : Republika.co.id