Category Archives: Bahasa Budaya

Michael Wolf, Hidayah Turun Usai Melihat Muslim Shalat di Pesawat

​Stasiun televisi terkemuka CNN mewawancarai seseorang bernama Michael Wolfe tak lama setelah terjadi insiden saat pelaksanaan lontar jumrah, beberapa tahun lalu. Meski memiliki nama Barat, namun nyatanya Wolfe mampu memberikan penjelasan secara gamblang dan panjang lebar terkait ibadah haji, maupun peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

Wolfe juga memaparkan dengan rinci segala hal menyangkut penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari rukun haji, tata cara, hingga makna pada setiap ibadah yang dilakukan. Tapi, siapakah Michael Wolfe? Sejatinya, Wolfe adalah penulis buku berjudul One Thousand Roads to Mecca : Ten Centuries of Travelers Writing About the Muslim Pilgrimage . Selain itu, dia pernah membuat film dokumenter tentang ibadah haji untuk stasiun televisi yang sama.

Jadi, bila ditilik dari curriculum vitae-nya ini, tak salah jika stasiun televisi tersebut memilih Wolfe sebagai nara sumbernya. Dia juga dikenal sebagai produser, penulis, serta cendekiawan. Selain menghasilkan karya buku dan film, dia kerap memberikan kuliah umum mengenai agama Islam di sejumlah universitas kondang di AS.

Kiprah pria kelahiran 3 April 1945 itu dalam agama Islam merupakan wujud komitmennya sebagai seorang Muslim, setelah ia mengikrarkan dirinya sebagai pemeluk Islam (mualaf). Michael Wolfe menjadi Muslim pada tahun 80-an, dan sejak itu dia berkhidmat bagi kemajuan agama Islam dan umat Muslim di seluruh dunia.

Bermula pada akhir tahun 70, Wolfe yang kala itu sudah menjadi seorang penulis, ingin mencari pencerahan dalam hidupnya. Dia berupaya melembutkan perasaan sinisnya dalam melihat kondisi lingkungan di sekelilingnya.

Terlahir dalam keluarga yang mempunyai dua pegangan agama, ayahnya adalah keturunan Yahudi, sementara sang ibunda penganut Kristen. Situasi tersebut menyebabkan Wolfe agak tertekan apabila harus membicarakan isu agama dan kebebasan.

Hingga kemudian dia menemukan satu momen berkesan. Suatu ketika dia menempuh perjalanan menuju Brussels, Belgia. Begitu selesai makan malam, Wolfe pergi ke toilet. Pada waktu bersamaan, sejumlah penumpang pesawat yang beragama Islam melaksanakan shalat di bangku masing-masing karena sudah masuk waktu shalat Isya.

Wolfe yang keluar dari toilet, terkesima melihat peristiwa itu. Dirinya terus mencermati ibadah yang dilakukan umat Muslim. Dia lantas menyadari, di manapun dan kapan pun, orang-orang Islam yang beriman tidak akan pernah melalaikan kewajiban ibadahnya kepada Tuhan.

“Saya hanya berdiri dan mencermati, Saya melihat sebagian mereka memegang sebuah buku sebesar telapak tangan yang kemudian meletakkannya di dada sambil memuji Tuhannya,” ungkap Wolfe. Kejadian ini membawa Wolfe ingin lebih mengenal Islam. Dia ingin menemukan agama yang tidak hanya sebatas ritual atau pemujaan, serta tidak ada keraguan di dalamnya. Wolfe lantas memutuskan mengembara ke Afrika Utara, dan menetap di kawasan tersebut selama lebih kurang tiga tahun.

Di sana, dia berinteraksi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda. Wolfe bertemu dengan banyak etnis, suku dan agama, termasuk dengan kalangan keturunan Arab dan Afrika yang beragama Islam. Itulah untuk kali pertama perkenalannya yang benar-benar intens dengan Islam. Dan segera saja, dia merasakan suasana yang lebih akrab, santun dan tenggang rasa. Umat Muslim menerimanya dengan tangan terbuka.

Dari pengamatannya, seperti dikutip dari laman Islamfortoday , umat Islam tidak pernah membedakan seseorang berdasarkan etnis ataupun warna kulit. Siapa pun dipandang sama serta setara, baik miskin, kaya, tua, muda, dan sebagainya. Islam hanya membedakan orang per orang berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hal ini jelas sangat kontras dengan kehidupannya dulu. Misalnya, dalam pergaulan antarsesama, justru kerap timbul diskriminasi karena perbedaan warna kulit, etnis atau keyakinan. “Ini terjadi setiap hari di masyarakat padahal mereka mengaku punya keyakinan agama. Sungguh memprihatinkan,” paparnya.

Dia pun menemukan kedamaian dalam Islam. Dalam hati, dia membenarkan pernyataan tokoh Muslim AS, Malcolm X, yang berkata bahwa orang Amerika perlu memahami Islam karena Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan saling menghormati dan menghargai antarmanusia secara tulus. Penulis artikel berjudul  Islam: The Next American Religion? ini pun berpendapat, Islam merupakan agama yang sesuai bagi kondisi Amerika. Ada beberapa alasan, antara lain, Islam memiliki semangat demokrasi, egaliter, serta toleran terhadap keyakinan lain.

Wolfe tercatat dua kali mengadakan perjalanan ke Maroko, yakni pada tahun 1981 dan 1985. Pada akhirnya dia berkesimpulan bahwa Afrika Utara merupakan wilayah yang bisa menghadirkan keseimbangan baru dalam hidupnya. Hatinya tertambat di Afrika Utara. Dan tak hanya tertambat pada Afrika Utara, hatinya mulai terkesima dan takjub dengan Islam. Semakin banyak mendalami Islam, semakin kuat keyakinan dalam dirinya. Michael Wolfe akhirnya memutuskan menjadi Muslim.

Keputusannya ini disayangkan oleh rekan-rekannya yang terdiri dari kalangan akademisi Barat. Sebagian mereka masih mengaitkan Islam dengan masyarakat yang terbelakang dan agama kekerasan. Mereka pun meminta Wolfe untuk mengurungkan keputusan tersebut.

Akan tetapi, Wolfe yang kemudian berganti nama menjadi Michael Abdul Majeed Wolfe, tidak goyah. Wolfe menilai rekan-rekannya keliru menilai Islam. Islam, dari pengamatannya, selama ini banyak disalahartikan dan diputarbalikkan dari kenyataan yang sebenarnya. “Pendeknya, Islam adalah agama damai,” tegas Wolfe.

Dirinya kian mantap memeluk Islam, dengan segala konsekuensinya, karena dia melihat kebaikan dan keutamaan dalam agama ini. Menurutnya, agama Islam justru menekankan pada persaudaraan dan cinta kasih, baik kepada sesama manusia juga alam semesta.

Lebih jauh, tokoh ini melihat, dalam beberapa tahun ke depan, Islam akan menjadi agama dengan perkembangan paling pesat di Eropa dan Amerika. Dari tahun ke tahun, jumlah pemeluk Islam mengalami pertumbuhan, termasuk mereka yang menjadi mualaf, dan antara lain dipicu oleh semakin banyaknya orang yang memahami esensi sejati ajaran Islam tadi.

Wolfe semakin antusias mengikuti ibadah dan kegiatan keislaman. Dia membaca banyak buku tentang Islam dan melibatkan diri dengan aktivitas Masjid di dekat kediamannya di California. “Setiap tahun umat Islam berpuasa sebulan penuh dan diikuti dengan pelaksanaan haji kira-kira selama 40 hari. Itulah kemuliaan agama Islam,” katanya.

Dijelaskan, Islam berasaskan pada lima rukun utama. Salah satunya adalah haji. Wolfe percaya, bila telah mampu secara materi dan fisik, seseorang wajib hukumnya melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci, sekurang-kurang sekali seumur hidup.

Usai menunaikan ibadah haji sekitar awal tahun 1990, Wolfe memberikan sumbangan terbaiknya berupa buku berjudul Mecca: The Hadj yang diterbitkan pada 1993, dan One Thousand Roads to Mecca (1997). “Sekarang saya berharap dapat mendalami keyakinan agama yang sudah tersemai sejak sekian lama,” ujar Wolfe.

Melanjutkan kegiatan menulisnya, lulusan sarjana muda Seni Klasik di Universitas Wesleyan ini mendirikan penerbitan Tombouctou Books di Bolinas, California. Salah satu prestasinya yakni saat mengedit koleksi esai para penulis Muslim Amerika dalam buku bertajuk Taking Back Islam: American Muslims Reclaim Their Faith . Buku ini memenangi Anugerah Wilbur pada 2003 dalam kategori buku agama terbaik.

Wolfe juga pernah menjadi pembawa acara sebuah program film pendek tentang perjalanan haji ke Makkah untuk acara Ted Koppel’s Nightline di stasiun televise ABC. Program tersebut juga berhasil meraih penghargaan media dari Muslim Public Affair Council.

Berdakwah Lewat Media Film

Kecintaan Michael Wolfe tak perlu diragukan lagi. Hari-harinya senantiasa diisi dengan berbagai kegiatan keislaman. Di sela-sela kesibukannya menulis, yang ia jadikan sebagai media dakwah, Wolfe melebarkan syair Islam pada masyarakat luas, terutama non-Muslim melalui media lain. Pada Februari 2003, dia bekerjasama dengan wartawan televisi CNN, Zain Verjee, untuk membuat program film dokumenter tentang ibadah haji.

Pada tahun 1999, bersama dengan rekan sesama sineas, Alex Kronemer, Wolfe mendirikan sebuah yayasan pendidikan media yang diberi nama Unity Productions Foundation (UPF). Kolaborasi Wolfe dan Alex dalam UPF kemudian menghasilkan karya film dokumenter televisi mengenai kisah hidup Nabi Muhammad SAW berjudul Muhammad: Legacy of a Prophet .

Terkait film tersebut, Wolfe mengungkapkan mereka ingin menyasar dua audiens sekaligus. Pertama, kalangan terpelajar serta masyarakat awam Barat. Sebagian besar mereka belum banyak mengetahui tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya, sehingga kerap memberikan persepsi negatif. Sedangkan kedua, masyarakat Muslim sendiri agar mereka lebih mengenal sosok Nabi SAW yang mulia.

Film ini mengambil lokasi di tiga negara, Arab Saudi, Yordania dan Amerika Serikat. Sejumlah tokoh agama, sejarawan dan cendekiawan semisal Syekh Hamza Yusuf, Karen Armstrong, Cherif Basiouni, Sayyid Hossen Nasr, serta banyak lagi, yang tercatat menjadi narasumbernya. Untuk menambah keakuratan, bersama dengan Kronemer, Wolfe mempelajari sirah (sejarah) serta buku-buku tentang hadis Rasulullah SAW.

Sumber : Republika 

https://translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&ie=UTF8&nv=1&prev=_m&rurl=translate.google.co.id&sl=en&sp=nmt4&tl=id&u=https://en.m.wikipedia.org/wiki/Michael_Wolfe&usg=ALkJrhhcCX5dhHWLtwi91v4UL-59_kiMdw

Pola Pikir

​Berpikir cerdas..

Pola pikir cerdas

Perampok berteriak kepada semua orang di bank :

” Jangan bergerak! Uang ini semua milik Negara. Hidup Anda adalah milik Anda ..”

Semua orang di bank kemudian tiarap.

Hal ini disebut “Mind changing concept – merubah cara berpikir“.

Semua orang berhasil merubah cara berpikir dari cara yang biasa menjadi cara yang kreatif.

Salah satu nasabah yang sexy mencoba merayu perampok menawarkan “main” agar dia dilepas . Tetapi malah membuat perampok marah dan berteriak, 

” Yang sopan mbak! Ini perampokan bukan perkosaan!”

Hal ini disebut ” Being professional – bertindak professional“. Fokus hanya pada pekerjaan sesuai prosedur yang diberikan.

Setelah selesai merampok bank dan kembali ke rumah, perampok muda yang lulusan MBA dari universitas terkenal berkata kepada perampok tua yang hanya lulusan SD

 ” Bang, sekarang kita hitung hasil rampokan kita”.

Perampok tua menjawab. ” Dasar bodoh, Uang yang kita rampok banyak, repot menghitungnya. Kita tunggu saja berita TV, pasti ada berita mengenai jumlah uang yang kita rampok.”

Hal ini disebut “Experience – Pengalaman“. Pengalaman lebih penting daripada selembar ijazah dari universitas.

Sementara di bank yang dirampok, si manajer berkata kepada kepala cabangnya untuk segera lapor ke polisi. Tapi kepala cabang berkata, ” Tunggu dulu, kita ambil dulu 8 milliar untuk kita bagi dua. Nanti totalnya kita laporkan sebagai uang yang dirampok.”

Hal ini disebut “Swim with the tide – ikuti arus“. Mengubah situasi yang sulit menjadi keuntungan pribadi.

Kemudian kepala cabangnya berkata,” Alangkah indahnya jika terjadi perampokan tiap bulan.”

Hal ini disebut “Killing boredom – menghilangkan kebosanan“. Kebahagiaan pribadi jauh lebih penting dari pekerjaan Anda.

Keesokan harinya berita di TV melaporkan uang yang dirampok dari bank sebesar 10 M. Perampok menghitung uang hasil perampokan dan perampok sangat murka.

 “Kita susah payah merampok cuma dapat 2 milliar,orang bank tanpa usaha dapat 8 milliar. Lebih enak jadi perampok yang berpendidikan rupanya.”

Hal ini disebut sebagai “Knowledge is worth as much as gold – pengetahuan lebih berharga daripada emas“.

Dan di tempat lain manajer dan kepala cabang bank tersenyum bahagia karena mendapat keuntungan dari perampokan yang dilakukan orang lain.

Hal ini disebut sebagai “seizing opportunity – berani mengambil risiko“

Jargon

​Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang profesi/kehidupan (lingkungan/organisasi) tertentu. Jargon biasanya tidak dipahami oleh orang dari bidang  yang lain. Misalkan “jargon komputer” berarti istilah-istilah yang berhubungan dengan komputer secara khusus dan hanya dipahami oleh orang-orang yang berhubungan dengan bidang komputer.

Dalam organisasi ,Jargon sangat dibutuhkan selain dana. apa itu Jargon…?

Jargon adalah kata atau kalimat atau Singkatan yang menggambarkan tujuan umum/misi  suatu organisasi.

Selain organisasi butuh bendera dan semboyan,jargon adalah Keyword bersama,soal tujuan bersama yg hendak diraih. Oleh pengurus terus disiar ulang. Digaung-gaungkan Contohnya seperti “Ganyang PKI”.”Lawan Kapitalis “,”Bela Kebhinekaan”,”Bela Agama” dan lain-lain
Jargon adalah bahasa yang menghidupkan organisasi dan juga bisa membuat seorang pengurus organisasi bisa hidup berkecukupan karena lihai “menjual” jargon organisasinya. 

Dengan modal Teriakkan Jargon dan jumlah massa, duit pun mengalir ke kantong pribadi. 

Jargon pun digunakan suatu perusahaan untuk meningkatkan jumlah perdagangan produknya contohnya seperti “Pasti Enak”,”Josss”,”Gurihnya tuh Disini”,”Travel dulu, Mati Kemudian”.

Begitulah sistem bekerja. Tanpa ada kata-kata sistem apa pun tak berfungsi (bekerja).

Ada Bukti Musafir Muslim Menemukan Amerika Sebelum Colombus

​Kebanyakan masyarakat tahu dari buku sejarah, Amerika ditemukan oleh seorang Christoper Colombus melalui pelayarannya ke daerah yang disebut “The New Word”. Namun sejarah tersebut patut dipertanyakan kembali. Sebab, belakangan ini banyak fakta baru yang ditemukan terkait penemuan Amerika oleh umat Islam jauh sebelum Colombus.

70 tahun sebelum Colombus menapakkan kakinya, Laksamana Muslim Cina, Cheng Ho, telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad-abad sebelum itu, para pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah tinggal dan membuat kampung-kampung dan berasimilasi dengan penduduk lokal Amerika dengan damai.

Telah ditemukan sebuah peta pelayaran bangsa Muslim Cina ke Amerika lebih dari 70 tahun sebelum Colombus. Dokumen ini konon merupakan salinan dari peta tahun 1418, yang dibuat oleh Laksamana China Cheng Ho, menunjukkan “The New Word” atau Amerika dengan detail. Seorang sejarawan dan ahli kapal selam, Gavin Menzies, pada 2003 menggunakannya sebagai bukti untuk bukunya yang berjudul 1421: The Year When China Nearly Discoveres America and The World .

Ditemukan juga sebuah dokumen Cina kuno yang dikenal sebagai dokumen Sung, mencatat perjalanan pelaut Muslim ke tanah yang dikenal sebagai Mu-Lan-Pi (Amerika). Fakta lainnya, dalam tulisan Dr. Youssef Mroueh, Precolumbian Muslims in America menunjukkan bahwa Muslimin dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Colombus.

Pada pemerintahan Khalifah Umayyah, oleh Abdurrahman III pada 929-961 M berlayar dari pelabuhan Delbra di Spanyol, melewati samudra gelap dan berkabut hingga sampai di negeri tak dikenali. Hingga akhirnya beberapa dari mereka bermukim di daerah yang kemudian disebut dengan Amerika.

Colombus sendiri mengaku dalam surat-suratnya, bahwa pada 21 Oktober 1942, ketika kapalnya berlayar dekat Gibara di pesisir timur-laut Kuba, ia melihat sebuah masjid di atas sebuah gunung yang indah. Juga telah ditemukan reruntuhan masjid dan menara dengan tulisan ayat Alquan di Kuba, Meksiko, Texas, dan Nevada.

Bukti jelas lainnya yang dapat kita lihat hingga kini, pada sekujur Benua Amerika terdapat kota-kota dengan nama islami atau berakar dari bahasa Arab, bahkan dengan nama Mecca dan Medina. Dr Youssef Mroueh menyebutkan, terdapat kota di Amerika bernama Mecca di Indiana. Serta banyak kota-kota bernama Medina, di antaranya di Idaho, Hazen, North Dakota, Tennesse, Texas, Ontario Kanada, dan kota-kota lainnya.

Bukti-bukti yang telah ditemukan telah mengubah sejarah, dan setidaknya telah mengajak kita membuka mata, untuk melihat dunia lebih jauh, menelusuri sejarah Islam lebih dalam. Hal ini yang membuat Maxima Pictures berkolaborasi dengan Falcon Pictures memproduksi film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 yang rencananya akan tayang tanggal 8 Desember nanti.

Produser dan penulis naskah ‘BTDLA 2’, Rangga Almahendra mengungkapkan, ia bersama Hanum Rais selalu konsisten membuat novel atau film yang mencoba mengangkat kembali kepingan fakta sejarah Islam. “Yang tenggelam atau mungkin sengaja ditenggelamkan, dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa sampai Bulan Terbelah di Langit Amerika, ” kata Rangga

Sumber : Republika.co.id

Toleransi Agama menurut Cak Nun

Menarik menyimak pencerahan dari Cak Nun:

TIDAK USAH MEMPERHATIKAN ISTRI TETANGGA…                    

Sexy atau Tidak.

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?”

Dijawab serentak, “Tentu punya”

“Punya istri enggak tetangga Anda ?”

“Yaa, punya doong”

“Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?”

“Secara khusus tak pernah melihat” kata hadirin di forum,

“Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?”

“Tidak pernah memperhatikan”

“Body-nya sexy atau enggak ?” 

Hadirin tertawa lepas.

Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka,  “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan ?”

Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. 

Biarkan saja.

Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain. 

Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apa pun. 

Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.

Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. 

Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. 

Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi non-Islam ? 

Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah. 

Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Tapi, sebagaimana istri tetangga.  Itu disimpan saja di dalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan atau

dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.

Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya.

Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. 

Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU mau pun yang Muhamadiyah. 

Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.

Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial,

kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.

Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama.

Bisa ngumpul nge WA, BB-an & Facebookan,.. & media sosial lainnya,.. bersama.

Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco atau apa pun.

Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah. 

Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.

Semoga… kita makin sadar akan pentingnya Toleransi… Solidaritas & Kerukunan.  

Bahwa semuanya itu indah nan Fitri… !!!

Damai dihati…damai di bumi

Boso Suroboyoan

​Ciri-cirine AREK Suroboyo nek ngomong iku khas banget, gak onok sing madani, to the point, terbuka, tanpa tedeng aling-aling (bloko suto). Ini menunjukkan bhw AREK Suroboyo terkenal sbg masrakat yg terbuka, ramah, apa adanya dan sangat suka akan humor.

 #ArekSuroboyo lek tukaran mesti ngomong “Awas kon yo, delok’en. molehmu” <– lapo? Ditraktir mangan ta?

 #Lek ngilokno uwong “Wuih, wenak kon suarane arek iki, kok gak mbecak ae”

#Sing lanang, lek ngamuk langsung ngomong –> “Njaluk tak pancal’a ndasmu”. Sepeda bek’e dipancal ?

 #Lek onok wedok’an ayu, endel, langsung dikomen “Mboook, mentolo tak gowo moleh ae”?

 #Lek nyebut uaakeh –> “Sak taek ndayak”. Koyok ngerti2o taeke dayak ae

 #Lek di sindir karo koncone, langsung ngomong “Sakjane, kon iku ngenyek, ta ngetrek-etrek?!?”

#Lek ngomong, ngarepe biasane ditambahi huruf U.. –> uaaakeh, ueeendel, ueeenak, uaaasssuu kok!

 #Lek janjian ~ “Wis teko ndi kon?” “wes nang dalan iki, diluk maneh”, padahal sik nang omah!

 Lek mari di ilokno, langsung mbales “ndasmu, gundulmu, taekmu, pokoke sing onok mu-mu ne.

 #Lek suwi gak ketemu konco, langsung ngomong “Wah, si urip ta kon? Tak pikir wis pitung dinone”

#Lek irunge gatel trus kudu wahing, munine —> Ha..ha..ha..hancookkk!!

 #Lek onok wong pamer “eh aku tuku mobil anyar iki” langsung dijawab “SOPO??.. SING! TAKOK!”

#Senengane muring2 nggawe awalan ‘jam’.. >> Jamput,, jambret, jambu, dst

 #Lek ndelok wedok ayu, langsung ngomong: “Cuk, ayune, bpk’e sunat nangdi iku?”

#Lek onok wedok’an ayu langsung komentar “Ojok mbuk gudo lho jon, wes tak kapling iku!” 

#Lek onok koncone ngomong gak jelas, langsung disauti “Kon iku ngomong ta kemu?!?”

#Lek ngomong, mesti dike’i akhiran A –> ndasmuA, matamuA, makmuA, mbokmuA..

 #nek ketemu konco lawas ngomong ngene:

“Diancuk..!! koen nang endi ae cuk kok gak tau ketok raimu …”

AREK SUROBOYO CUK


Selamat Hari Pahlawan 10 Nov 2016