Category Archives: Catatan 2016

Om Telolet Om

​*Bahagia itu Sederhana*

OM Telolet OM 

Oleh: Denny JA

=======

40 hari sudah

Dua purnama telah merekah

Bayu menyendiri tetirah

Menanti datangnya berkah

Apa gerangan akar derita?

Bagaimana agar bahagia?

Merenung, menyendiri

Dilakukan Bayu berkali kali

Ia mencari jawaban

Menyelam ke akar persoalan

Haruskah kutunggu Wahyu?

Agar datang jawab yang tak ragu?

Ditahannya itu dahaga

Kadang seharian ia berpuasa

Pencarian yang tak mudah

Jawab tak kunjung tiba

Tiba tiba datang cahaya

Kunang-kunang hinggap di pikirannya

Membisikannya sebuah mantra

Bacalah realita

Bayu tak tahu artinya apa

-000-

Dua tahun berlalu

Aneka buku dibaca selalu

Filsafat hingga agama

Sejarah hingga sastra

Direnungkan berkali oleh Mona

Apa gerangan akar derita?

Bagaimana agar bahagia?

Problem utama manusia

Baca dan membaca

Hingga matanya merah

Ia mencari solusi

Kepada hidup punya inti

Haruskah kubaca lagi beribu buku?

Agar jumpa solusi baku?

Menyendiri Ia selalu

Hatinya mulai beku

Tiba tiba datang cahaya

Dari mata, di hati kini bertahta

Tanamkan sebuah mantra

Bacalah realita

Mona tak mengerti itu apa

-000-

Suatu ketika tiada sengaja

Bayu dan Mona membaca berita

Om telolet OM

OM telolet OM

Menjadi trending dunia

Anak anak itu

Di pinggir jalan berdiri lugu

Menanti bus antar kota

Dengan hati terbuka

Ketika bus datang

Mereka riang

Sambil teriak Om telolet Om

OM TELOLET OM

Supir Bus yang dipanggi Om

Segera memainkan klakson

Telolet, Telolet

Anak anak melompat girang

Hati mereka senang

Mereka tertawa

Mereka bahagia

Mona dan Bayu terdiam

Om telolet OM memukulnya dalam

Bahagia ternyata mudah

Bahagia itu sederhana

Tak seperti yang ia duga

Bahagia bukan buah beribu buku

Bahagia bukan olah tapa brata

Bahagia itu OM Telolet OM

Sikap hati riang terbuka

Hati yang menikmati segala

Bayu dan Mona berguru

Pada anak anak di pinggir jalan itu

Cahaya yang datang pada Mona dan Bayu

Ternyata dari mata anak anak itu

Advertisements

Bisakah Donald Trump diimpeachmen sebelum Pelantikan (inagurasi)

​sejak diumumkannya Donald Trump terpilih sebagai presiden AS berikutnya,publik yang marah sudah mulai mencari cara untuk mencegah dia memasuki kantor kepresidenannya.

Beberapa jam setelah hasil diumumkan,di mesin pencari Google melonjak kata “impeachment” diketikkan para pemakai internet dan setidaknya satu profesor hukum percaya mungkin ada cukup bukti mendakwa Trump untuk dugaan penipuan dan pemerasan.
Pasal II dari Konstitusi Amerika Serikat menyatakan bahwa presiden dapat diberhentikan jika mereka dihukum karena “pengkhianatan, penyuapan atau kejahatan berat lainnya dan ringan.” Menurut Mic, proses ini dimulai dengan Voting oleh DPR dan diikuti dengan uji coba impeachmen resmi di Senat.
Seperti diberitakan setelah Pemilu Presiden, Trump menghadapi sejumlah tuntutan hukum (LawSuits), termasuk satu dugaan penipuan yang melibatkan Trump University.Profesor hukum University of Utah Christopher Lewis Peterson mengaku sebelum pemilu ada pelanggaran hukum yang bisa dijadikan dasar mengimpeach Trump. 

“Atas tindakan ilegal Trump pada seminar-seminar yang diselenggarakannya,maka Hakim federal ditunjuk berdasarkan Pasal III dari Konstitusi AS untuk memutuskan dugaan tindakan penipuan Trump, jika benar merupakan penipuan dan pemerasan, “tulis Peterson dalam sebuah esai. [Sebelum pelantikan Trump] ,”maka Kongres sebaiknya berpegang teguh pada aturan bahwa seorang presiden yang dilantik bukanlah seorang penipu atau pemeras sebagaimana didefinisikan dalam konstitusi.”

Dalam Sejarah AS, dua presiden telah menjalani proses impeachment di DPR, yaitu Andrew Johnson dan Bill Clinton. Namun, Johnson dan Clinton dibebaskan oleh Senat dan tetap masuk kantor. Sementara itu, Richard Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974 menjelang impeachment karena tersandung skandal Watergate.

.

Upah Minimum Nasional

Dari Facebook

Fajar Sodiq

buruh Indonesia harus duduk bersama lintas organ utk bersama2 DPR MEMBAHAS SISTEM PENGUPAHAN INDONESIA yg lebih baik dan layak. saya pikir sdh saatnya negri ini punya UPAH MINIMUM NASIONAL yg menjamin keadilan upah buruh seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke . miris kalo melihat upah buruh Jateng disparitas nya hampir separo dg upah buruh di Jabar atau Jateng.. contoh upah minimum di ibukota jateng Semarang hampir sama dg UMK Jombang. Disparitas UMK ini jd modus perusahaan pindah ke daerah yg UMK rendah

Suka · 1 · Balas · Sunting · 1 jam yang lalu

Daeng Wahidin

Masalahnya anggota DPR RI saat ini apakah pro buruh atau pengusaha..???

Suka · Balas · Laporkan · 54 menit yang lalu

Fajar Sodiq

organ buruh harus berinisiatif bung mengajukan proposal Upah Minimum Nasional yg Layak dan berkeadilan. mereka pasti mencermati karena UMN itu jg demi kemaslahatan bersama ya Pekerja,ya pengusaha.. yg dikeluhkan pengusaha bkn hny pungli atau ketidakstabilan harga komoditas tp juga aturan UMP/UMK yg tdk adil..mencederai prinsip Persaingan Usaha yg sehat

Fajar Sodiq

pengusaha di Jateng sangat diuntungkan dg UMK JATENG yg rata2 rendah,, sementara saingan bisnis mereka dari Jabar/Jatim terbebani Upah Buruh yg lebih tinggi

kalo UpahMinimumNasional sama/disparitas tdk terlalu jauh, tdk ada lagi modus perusahaan menakut2i Pekerja memindahkan pabrik ke daerah yg UMKnya rendah

Rute Gerak Jalan MojoSuro 2016

​RENCANA PENUTUPAN JALAN UNTUK GERAK JALAN PERJUANGAN MOJOKERTO – SURABAYA 56KM
Sabtu, (12/11/2016) mulai pukul 16.00-01.00WIB jalur Mojokerto-Surabaya di #TUTUP_SEMENTARA sampai rombongan peserta gerak jalan perjuangan mojokerto surabaya terakhir sampai mendekati taman Sidoarjo.
Arus lalulintas Mojokerto-Surabaya akan dialihkan menuju TOL Mlirip – Legundi – blok kiri kawasan Gresik dan kendaraan bisa melajutkan perjalanan ke Surabaya.
Sedangkan untuk pengendara motor bisa melewati lokasi yang di lewati peserta gerak jalan perjuangan mojokerto – surabaya.
Perlu diketahui, Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto – Surabaya 2016, dijadwalkan akan berangkat dari Lapangan Surodinawan Kota Mojokerto Sabtu (12/11/2016) pukul 16.00 WIB dan finish di Tugu Pahlawan Kota Surabaya.
Dan berikut rute yang akan dilalui para peserta Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya:
#Start : Lap. Surodinawan Kota Mojokerto – JL Brawijaya – JL Bhayangkara – JL Gajah Mada – Desa Mlirip (depan Ajinomoto) – Bypass (depan Tjiwi Kimia) – Pasar Krian (Pos 1)-Trosobo-Kletek- Sepanjang (Pos2) – Karang Pilang – JL Gunungsari – Terminal Joyoboyo- KBS – JL Diponegoro- JL Pasar Kembang – JL Kedung doro – JL Blauran – JL Bubutan – JL Pahlawan – JL Kebun Rojo- #Finish : Tugu pahlawan Kota Surabaya

OPINI: Pilkada DKI dan Bradley Effect

​Liputan6.com, Jakarta – Politik identitas adalah persoalan menarik untuk Pilkada DKI 2017. Bagaimanakah pengaruh etnis dan agama terhadap keputusan pemilih dalam menentukan pilihannya pada hari pemungutan suara nanti?

Ini pertanyaan penting mengingat salah satu calon kuat memiliki etnis dan agama yang berbeda dengan mayoritas pemilih. Asumsi umum mengindikasikan bahwa pengaruh kedua faktor ini akan kecil.

Alasannya, para pemilih DKI adalah pemilih yang lebih rasional, terdidik, dan lebih kritis. Memang, dari segi pendidikan, pemilih Jakarta sekitar 45-50 persen berpendidikan SLTA dan sekitar 20-25 persen berpendidikan perguruan tinggi.

Profil pendidikan ini jauh lebih baik dibanding rata-rata daerah lain. Akses pemilih Jakarta kepada informasi juga jauh lebih besar karena relatif tak ada bagian Jakarta yang sulit diakses.

Anggapan umum mengatakan, pemilih yang rasional, terdidik, dan kritis memiliki kecenderungan memilih dengan alasan-alasan yang tidak terkait identitas.

Berbagai survei yang sudah dirilis ke publik juga relatif mengindikasikan bahwa faktor etnis dan agama mungkin tak terlalu berpengaruh. Hampir semua survei menunjukkan Ahok unggul dibanding nama-nama lain yang mungkin jadi pesaingnya.

Jawaban atas pertanyaan soal pengaruh kedua faktor ini juga menunjukkan hal yang sama. Misalnya, survei Populi Center yang dirilis Februari lalu menemukan bahwa sekitar 73 persen pemilih tidak mempersoalkan etnis dan hampir 50 persen tidak mempersoalkan agama sang calon gubernur.

Namun, sejumlah asumsi dan data umum tersebut belum dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa faktor etnis dan agama tidak akan berpengaruh dalam Pilkada DKI nanti.

Identitas, terutama etnis dan agama adalah faktor yang bersifat laten. Ia ada di hampir semua masyarakat, terutama masyarakat yang multi-kultur seperti DKI. Akan digunakan atau tidak, akan berpengaruh atau tidak, tergantung pada sejumlah kondisi.

Teori umum politik identitas dan berbagai hasil penelitian menunjukkan, ada dua faktor pokok yang membuat etnis dan agama menjadi menarik dan muncul (salient) untuk dipakai dan berpengaruh dalam proses politik.

Pertama, ketika etnis dan agama menjadi faktor yang dipertaruhkan. Ada semacam keperluan untuk mempertahankan atau membela identitas yang dimiliki suatu kelompok.

Kedua, ketika proses politik tersebut berlangsung secara kompetitif. Artinya, proses politik itu menyebabkan kelompok-kelompok identitas saling berhadapan dan tidak ada yang dominan, sehingga tidak begitu jelas siapa yang akan menjadi pemenang sejak jauh-jauh hari.

Pemilihan umum, termasuk pilkada, adalah proses politik di mana berbagai faktor seperti identitas menjadi pertaruhan. Tinggal sekarang bagaimana aktor-aktor yang terlibat di dalamnya mengelola isu-isu seperti etnis dan agama, menjadi hal yang masuk pertaruhan.

Di Pilkada DKI 2017 nanti, kedua isu etnis dan agama jelas menjadi mudah dikelola untuk dijadikan bagian penting dalam pertaruhan.

Kita juga sudah mafhum bahwa banyak aktor, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama sudah mulai menggunakan isu ini. Hal yang lumrah saja dalam suatu pertarungan politik, seperti juga di berbagai wilayah lain di Indonesia maupun negara lain.

Tinggal faktor kedua, soal kompetitif atau tidaknya pertarungan. Secara kelembagaan atau peraturan perundangan, Pilkada DKI memungkinkan untuk selalu kompetitif. Berbeda dengan daerah lain, Pilkada DKI mensyaratkan perolehan suara lebih dari 50 persen bagi seorang kandidat untuk ditetapkan sebagai pemenang.

Bila tidak didapat, maka harus ada putaran kedua pilkada. Ini berarti akan ada dua pihak yang saling berhadap-hadapan, kalau tidak di putaran pertama, maka di putaran kedua.

Bila kandidat yang saling berhadapan ini memiliki perbedaan etnis dan agama yang sangat jelas—terutama calon gubernur—maka faktor identitas menjadi faktor yang mungkin berpengaruh.

Selain faktor peraturan perundangan, sejumlah data temuan berbagai survei menunjukkan, kemungkinan faktor etnis dan agama berpengaruh dan membuat pilkada menjadi kompetitif.

Pertama, secara umum, semua survei menunjukkan tingkat popularitas yang sangat tinggi (hampir 100 persen) dan tingkat kepuasan yang juga tinggi (60–85 persen) terhadap petahana.

Di pilkada daerah lain, bila popularitas dan tingkat kepuasan kinerja petahana mencapai level tersebut, biasanya petahana menjadi kandidat yang dominan.

Namun angka elektabilitas spontan (top of mind ) dari petahana DKI maksimal di angka 50-an persen. Meskipun ini angka yang cukup aman bagi petahana bila bisa bertahan sampai akhir, namun tetap menunjukkan ada gap yang besar dengan popularitas dan tingkat kepuasannya.

Muncul spekulasi: jangan-jangan ini ada kaitannya dengan faktor identitas.

Seperti di kebanyakan daerah lain, umumnya pemilih Jakarta tidak mempersoalkan etnis calon kepala daerah (70 persen). Namun, untuk etnis yang berbeda dengan etnis mayoritas, kita harus berhati-hati membaca data ini.

Di Amerika Serikat, para peneliti perilaku memilih (voting behavior) mengenal teori atau fenomena “Bradley Effect .”

Ini soal para kandidat non-kulit putih dalam Pemilu Amerika Serikat yang seringkali unggul dalam survei, tapi kalah dalam pemilu sesungguhnya.

Fenomena ini mulai jadi perhatian ketika Tom Bradley, kandidat berkulit hitam, bertarung dalam pemilihan Gubernur California tahun 1982. Dia diprediksi sangat kuat akan memenangkan kursi gubernur, karena semua survei menunjukkan hal tersebut.

Kenyataannya dia kalah. Pemenangnya adalah kandidat berkulit putih. Diduga kuat penyebabnya adalah, para pemilih kulit putih dalam survei mengaku tidak mempersoalkan warna kulit kandidat, padahal mereka mempersoalkannya.

Dalam survei, mereka tidak ingin dianggap rasis atau kurang liberal/demokratis. Bisa saja fenomena yang sama terjadi dalam Pilkada DKI.

Yang mungkin menunjukkan juga adanya pengaruh identitas adalah elektabilitas petahana yang masih rendah di kalangan Muslim (19 persen – SMRC, Oktober 2015), dan hampir 50 persen pemilih yang menginginkan gubernur beragama Islam (Populi Center, Februari 2016).

Sejumlah indikasi ini seolah menjelaskan mengapa ada gap yang cukup besar antara popularitas dan kepuasan kinerja petahana dengan elektabilitas (terutama top of mind ), padahal pesaing yang jelas belum ada.

Posisi Ahok sebagai petahana, mungkin dapat mengurangi kemungkinan pengaruh faktor etnis dan agama tersebut. Argumen yang bisa diajukan mungkin adalah argumen kinerja, yang mungkin akan diterima oleh pemilih Jakarta yang dianggap lebih rasional, terdidik dan kritis.

Namun ini tergantung pada bagaimana komunikasi sang petahana, dan tingkat resistensi pemilih terhadapnya. Jangan lupa, masih ada faktor lawan petahana yang sampai hari ini masih belum jelas. 

Sumber : Liputan6.com

Pilpres Amerika Serikat dan Implikasi Globalnya

Sebenarnya Pilpres AS yang digelar pada 8 November 2016 diikuti empat calon Presiden yaitu Hillary Clinton (Partai Demokrat), Donald Trump (Partai Republik), Gary Jhonson (Partai Libertarian) dan Jill Stein (Partai Hijau). Namun ketatnya kontestasi hanya dipertunjukkan antara Clinton (69 tahun) dan Trump (70 tahun).
Sebanyak 225,8 juta warga AS menjadi pemilih pada Pilpres AS, namun sudah ada lebih dari 30 juta pemilih yang sudah melakukan pencoblosan di beberapa negara bagian dengan beragam alasan. Mereka akan memilih 538 electoral-college, dan mengingat sistem Pemilu di AS memberlakukan prinsip winner-takes all, maka kandidat Presiden yang sudah mendapatkan 270 electoral-college akan menjadi Presiden AS ke-45, di mana kita akan mengetahuinya pada 17 Januari 2017 mendatang.

Peta kekuatan calon presiden Amerika Serikat bergerak signifikan pada hari-hari terakhir, seiring bergulirnya (kembali) isu sensitif, terutama di kubu kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Rodham Clinton. Setelah sejak 23 Mei 2016 Hillary terus mengungguli kandidat presiden dari Partai Republik, Donald John Trump, berdasar hasil polling yang dilakukan lembaga-lembaga survei di AS dengan selisih rata-rata 5-6 poin.

Namun, perlahan prosentase kemenangan Clinton berdasarkan survei terakhir terus merosot, seperti ditunjukkan Reuters/Iphos yang memperlihatkan keunggulan Clinton berkurang 5% dari Trump. Langkah Biro Investigasi Federal (FBI) menyelidiki surat elektronik (email) pribadi Hillary disebut-sebut menjadi penyebab meredupnya dukungan publik terhadap mantan ibu negara AS tersebut.

Setidaknya, ada 15 swing states yang menjadi kunci penentu penghuni baru Gedung Putih, pengganti Barack Hussein Obama. Negara bagian itu adalah Arizona, Colorado, Florida, Georgia, Iowa, Maine Distrik Ke-2, Michigan, Nebraska Distrik Ke-2, Nevada, New Hampshire, North Carolina, Ohio, Pennsylvania, Virginia, dan Winscosin. Hingga sepekan usai debat ketiga Hillary-Trump 19 Oktober 2016, Hillary masih unggul di delapan swing state, Trump hanya memimpin di Georgia. Di 6 swing state sisanya, dukungan bagi Hillary maupun Trump relatif seimbang (loss up).

Peta kekuatan (dukungan) khususnya di 15 swing states antara capres Donald Trump dan Hillary Clinton cenderung seimbang. Peluang kedua kandidat untuk menang di 15 swing states sama kuat. Selisih kemenangan oleh salah satu capres di negara-negara bagian tersebut diperkirakan bakal sangat tipis. Apalagi sekarang ini masih terdapat 15 persen pemilih mengambang yang tidak kunjung memutuskan pilihan. Jumlah pemilih mengambang ini tercatat tiga kali lipat dibanding pemilih mengambang pada Pilpres November 2012.

Diperkirakan suara basis massa Partai Demokrat yang terdiri dari kaum minoritas dan anggota/simpatisan Partai Demokrat dari kalangan perempuan, diperkirakan akan solid memberikan dukungan ke Clinton, terutama di:

California (55 electoral-college)

Minnesota (10 electoral-college)

Wisconsin (10 electoral-college)

Illinois (20 electoral-college)

Michigan (16 electoral-college)

New York (29 electoral-college)

Vermont (3 electoral-college)

Massachussets (11 electoral-college)

Maryland (10 electoral-college)

Washington DC (3 electoral-college)

Sedangkan Trump dengan basis pendukung Partai Republik yaitu pekerja kulit putih dan kelas menengah diperkirakan solid memberikan suaranya di:

North Dakota (3 electoral-college)

Wyoming (3 electoral-college)

Idaho (4 electoral-college)

Nebraska (4 electoral-college)

Oklahoma (7 electoral-college)

Arkansas (6 electoral-college)

Missouri (10 electoral-college)

Alabama (9 electoral-college)

Kentucky (8 electoral-college)

West Virginia (5 electoral-college).

Negara bagian lainnya masih akan diperebutkan kandidat Presiden seperti:

Georgia (16 electoral-college)

Florida (29 electoral-college)

Virginia (13 electoral-college)

North Carolina (15 electoral-college)

Pennsylvania (20 electoral-college)

Ohio (18 electoral-college)

Colorado (9 electoral-college)

Arizona (11 electoral-college)

New Hamsphire (4 electoral-college)

Iowa (6 electoral-college)

Nevada (6 electoral-college)

Maine (4 electoral-college)

Implikasi Global

Terus terang, khalayak hanya mendapatkan “pelajaran demokrasi yang sehat” dari Pilpres AS sangat sedikit, karena selama masa kampanye dan debat Presiden, Clinton dan Trump cenderung melakukan black and negative campaign daripada mengemukakan pendapatnya terkait isu internal di AS ataupun kebijakan luar negeri yang akan ditempuh jika terpilih sebagai Presiden.

Jika Clinton memenangi Pilpres, maka kebijakannya tidak akan berubah banyak dibandingkan dengan kebijakan yang dilakukan Obama, karena satu partai walaupun Clinton kemungkinan tidak akan menyetujui konsep Trans Pasific Partnership (TPP). Namun, jika Trump yang memenangkannya, maka dinamika global akan berkembang menarik karena diwarnai “tingkah polah politik” Trump yang unpredictable, walaupun tetap tidak menghilangkan ciri ultranasionalismenya.

Trump berencana berunding empat mata dengan pemimpin Korut sekaligus menekan China, sekutu utama Korut, sehingga merupakan perubahan kebijakan AS yang signifikan terhadap Korut. Terkait Rusia, Trump mengutarakan ketidaksetujuannya atas aksi militer Presiden Rusia Vladimir Putin di bagian timur Ukraina.

Trump jika menjadi Presiden AS, mengaku akan menyerukan perundingan ulang kesepakatan Paris. Dalam kesepakatan tersebut, lebih dari 170 negara berikrar untuk mengurangi emisi karbon.

Masyarakat AS sebenarnya agak khawatir dengan sikap Trump yang cenderung anti-Muslim, bahkan sikapnya juga dikritik beberapa tokoh seperti mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengkritik usulan Trump untuk melarang umat Muslim datang ke Amerika Serikat sebagai usulan yang “memecah, bodoh, dan salah”. Sedangkan, Wali Kota London yang baru, Sadiq Khan, juga menyindir Trump yang menyatakan Khan akan diberikan pengecualian apabila ingin berkunjung ke AS.

Berkaca pada sikap Trump yang anti Islam, maka WNI atau warga negara lainnya yang beragama Islam akan menjalani pemeriksaan imigrasi lebih lama dan ada kemungkinan mereka atau komunitas Muslim juga akan “dilihat secara lebih tajam” di AS. Di samping itu, implikasi global lainnya adalah kemungkinan “perang ISIS vs AS” akan semakin memanas dan berkepanjangan, termasuk kemungkinan terjadinya perang nuklir juga akan terjadi, termasuk kemungkinan PD ke-3 dengan indikasi kenaikan biaya belanja militer, semakin banyak negara yang membuat pangkalan militer, adanya perintah Putin agar warga Rusia di luar negeri segera kembali ke negaranya, termasuk implikasi perang ekonomi dan perebutan pengaruh di titik-titik strategis global seperti Jalur Sutera, Laut China Selatan, Asia Pasifik dan Afrika.

Sumber :

*) Toni Ervianto , adalah alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia (UI).

m.detik.com