Category Archives: Teknologi

Ini Penyebab Nilai Bitcoin Tembus Rp 74 Juta per Keping

​- Sumber : Detikcom 

Nilai tukar mata uang digital atau Bitcoin per 13 Oktober 2017 menurut data Bitcoin Indonesia saat ini sudah di harga Rp 73,9 juta per kepingnya.

Menanggapi hal tersebut, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menjelaskan peningkatan harga yang signifikan terjadi karena pasar merespons positif terkait Jepang yang sudah melegalkan Bitcoin sebagai mata uang resmi.

“Faktor pertama karena di Jepang Bitcoin sudah dilegalkan 100% bahkan exchangeer yang bergerak di digital currency,” kata Oscar kepada detikFinance , Jumat (13/10/2017).

Oscar menjelaskan, faktor kedua penyebab kenaikan harga terjadi karena belakangan ini perkembangan teknologi Bitcoin makin baik dan stabil.

“Sehingga memunculkan permintaan yang besar di kalangan masyarakat,” tambah dia.

Bitcoin dikembangkan pada 2009, namun pada akhir Agustus 2013 nilai total Bitcoin yang beredar sudah melebihi US$ 1,5 miliar dengan total transaksi pertukaran bernilai jutaan dolar setiap harinya.

Sedangkan di Indonesia berdasarkan laman resmi bitcoin.co.id ada sekitar 149 toko baik online maupun offline yang sudah menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran. Lokasi tersebar di seluruh Indonesia. Toko juga bervariasi mulai dari restoran, rental mobil, layanan isi ulang pulsa sampai toko souvenir. 

BI Tetap Larang Penggunaan Bitcoin di RI

Jakarta – Bank Indonesia (BI) melarang penggunaan Bitcoin sebagai alat tukar di Indonesia. Penggunaan bitcoin sebagai alat transaksi dilarang di dalam Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP).

“Kita melarang Bitcoin untuk ditransaksikan di PJSP, Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran. Artinya ya kalau di luar PJSP dia melakukan at their own risk ,” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, Eny V Panggabean, di sela seminar Indonesia Banking Expo 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Eny menambahkan, transaksi Bitcoin biasanya dilakukan oleh kedua belah pihak yang sama-sama mengoleksi Bitcoin. Hanya saja Bitcoin tidak masuk ke dalam alat transaksi yang sah diatur oleh BI.

“Itu kan biasanya untuk transaksi bersifat bilateral dan investasi masing-masing, kaya emas aja. Kalau kamu perlakukan dia seperti itu kan boleh saja kamu mau simpan uangmu di situ,” tutur Eny.

Dilarangnya penggunaan Bitcoin sebagai alat transaksi yang sah resmi diatur dalam undang-undang. Transaksi yang diperbolehkan dilakukan di Indonesia hanya rupiah.

Berbeda dengan mata uang asing yang bisa ditukar nilainya di money changer , sebab penerbitan uang asing dilakukan oleh bank sentral. Sedangkan Bitcoin tidak memiliki regulator yang mengatur.

“Kan tidak ada regulatornya kalau Bitcoin. Bitcoin sifatnya hanya adalah bilateral. Makanya negara-negara lain kebanyakan juga menganggap itu komoditas masing-masing,” tutur Eny.

Dilarang di China, Bitcoin ‘Kabur’ ke Jepang
Tokyo – Otoritas China melarang semua transaksi yang berkaitan dengan Bitcoin mulai Oktober 2017. Mata uang virtual alias cryptocurency itu akhirnya ‘kabur’ ke negara tetangga, yaitu Jepang.

Sekarang Negeri Sakura itu menjadi pasar terbesar Bitcoin dengan pangsa 50,75% dari seluruh transaksi Bitcoin dunia. Analis sekaligus Komisaris BitFury, George Kikvadze, menyatakan para trader Bitcoin yang biasa berdagang di China kini hijrah ke Jepang.

Seperti dikutip dari Reuters, Senin (18/9/2017), pekan lalu dua pasar Bitcoin terbesar China menyatakan berhenti beroperasi mulai akhir September 2017.

Tak lama setelah kabar tersebut, nilai tukar mata uang virtual itu langsung jatuh ke kisaran US$ 2.900 atau Rp 38 jutaan. Dan ini terjadi hanya dalam jangka waktu 3 hari saja.

Baca juga: Harga Bitcoin Jatuh dari Rp 54 Juta ke Rp 38 Juta Dalam 3 Hari

Setelah itu, otoritas China akhirnya menginzinkan OKCoin dan Huobi untuk melayani transaksi Bitcoin hingga akhir Oktober 2017.

Berita ini direspons positif oleh para pengguna Bitcoin sehingga nilainya kembali naik ke kisaran US$ 3.850 atau sekitar Rp 50 jutaan.

Pekan lalu China masih menguasai 24% transaksi Bitcoin dunia. Sekarang ini pangsanya turun menjadi hanya 6,4% saja menjelang pelarangan total bulan depan.

Baca juga: Mengapa China Larang Transaksi Bitcoin?

Beijing – Salah satu uang virtual alias cryptocurrency yang sedang populer, Bitcoin, sedang mengalami penurunan nilai tukar. Kebijakan China jadi alasannya.

Pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang melarang transaksi initial coin offerings (ICO). Larangan tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/9/2017), ada beberapa alasan Negeri Tirai Bambu melarang transaksi Bitcoin.

Mata uang virtual susah dikontrol

Nilai tukar Bitcoin naik dan turun murni mengikuti mekanisme pasar. Pemerintah tidak bisa mengontrol nilai Tukarnya. 

tidak seperti yuan terhadap dolar AS. Pemerintah tidak suka sesuatu yang tidak bisa diatur.

Mudah dipakai untuk penipuan

Bagi beberapa orang yang mengerti pergerakan Bitcoin, bisa jadi investasi yang menguntungkan. Namun bagi yang tidak mengerti bisa jadi ikut-ikutan dan menitipkan uangnya untuk beli Bitcoin lewat sembarang tempat sehingga bisa terjadi penipuan.

Merusak dunia investasi

Bitcoin berpotensi bubble dan pecah setelah banyak makin populer dan banyak orang ingin punya. Terbukti dengan nilainya yang meroket dari

Rp 10 juta menjadi Rp 60 juta hanya dalam waktu 8 bulan saja. Ketika gelembung pecah dan harga jatuh, investor akan dirugikan.

China jadi pusat transaksi mata uang virtual

Dua pasar Bitcoin terbesar dunia ada di China. 

Bayangkan berapa kerugian yang diderita China ketika terjadi bubble dan pecah.

China ingin bikin uang virtual sendiri

Bukan tidak mungkin China ingin membuat cryptocurrency sendiri yang dapat legalitas pemerintah. Selama ini banyak hal dilarang di China, ujung-ujungnya mereka bikin sendiri.

Dipakai transaksi ilegal

Transaksi Bitcoin sulit dilacak. Hal itu dimanfatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk pencucian uang, penjualan narkoba, penyelundupan, dan aktivitas ilegal lainnya. 

Advertisements

No HP akan divalidasi dengan Nomer KTP

​*No HP akan divalidasi dengan Nomer KTP*

JawaPos.com – Demi peningkatan perlindungan hak pelanggan jasa telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika akan memberlakukan registrasi nomor pelanggan yang divalidasi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Aturan itu akan mulai diberlakukan tanggal 31 Oktober 2017.

Penetapan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 Tahun 2016, Tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi yang terakhir telah diubah dengan Permen Kominfo Nomor : 14 Tahun 2017, tentang Perubahan atas Peraturan Menkominfo Nomor 12 Tahun 2016 ihwal Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi.

Registrasi ini merupakan upaya pemerintah dalam mencegah penyalahgunaan nomor pelanggan terutama pelanggan prabayar.

“Kebijakan ini sebagai komitmen Pemerintah dalam upaya memberikan perlindungan kepada konsumen serta untuk kepentingan nasional single identity,” kata Kabiro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Noor Iza. 

Proses Registrasi

Tahapan pertama dimulai dengan proses registrasi. Beberapa poin penting pelaksanaan registrasi pelanggan jasa telekomunikasi adalah,

Pertama, diberlakukan validasi data calon pelanggan dan pelanggan lama berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK), yang terekam di database Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil).

Kedua, registrasi dapat dilakukan langsung oleh calon pelanggan yang membeli kartu perdana, serta registrasi ulang bagi pelanggan lama.

Ketiga, dampak dari tidak dilakukannya registrasi sesuai ketentuan ini adalah calon pelanggan tidak bisa mengaktifkan kartu perdana dan pemblokiran nomor pelanggan lama secara bertahap.

Keempat, pelanggan dapat menghubungi layanan pelanggan masing-masing penyelenggara jasa telekomunikasi seputar info registrasi atau ke Ditjen Dukcapil untuk info data kependudukan.

Kelima, ketentuan baru ini berlaku mulai 31 Oktober 2017. Proses registrasi dimaksud meliputi verifikasi atau penyesuaian data oleh petugas penyelenggara jasa telekomunikasi, validasi ke database Ditjen Dukcapil dan aktivasi nomor pelanggan.

Cara registrasi kartu perdana dilakukan dengan mengirimkan SMS ke 4444 dengan format NIK#NomorKK#.

Informasi tersebut harus sesuai dengan NIK yang tertera di Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP–el) dan KK, agar proses validasi ke database Ditjen Dukcapil dapat berhasil.

Validasi Registrasi

Proses registrasi dinyatakan berhasil apabila data yang dimasukkan oleh calon pelanggan dan pelanggan lama prabayar tervalidasi.

Namun jika data yang dimasukkan calon pelanggan dan pelanggan lama tidak dapat tervalidasi meskipun telah memasukan data yang sesuai dengan yang tertera pada KTP-el dan KK, maka pelanggan wajib mengisi Surat Pernyataan (sesuai lampiran pada Peraturan Menteri ini).

Surat ini menyatakan bahwa seluruh data yang disampaikan adalah benar, sehingga calon pelanggan dan pelanggan lama prabayar bertanggung jawab atas seluruh akibat hukum yang ditimbulkan.

Pelanggan juga secara berkala melakukan registrasi ulang sampai berhasil tervalidasi. Setelah proses validasi, penyelenggara jasa telekomunikasi mengaktifkan nomor pelanggan paling lambat 1×24 jam.

Batas Akhir Masa Registrasi

Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menyelesaikan registrasi ulang pelanggan prabayar yang datanya belum divalidasi paling lambat tanggal 28 Februari 2018.

Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menyampaikan laporan kemajuan proses registrasi ulang pelanggan prabayar setiap 3 (tiga) bulan kepada Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), selama jangka waktu registrasi ulang.

Perpanjangan batas waktu penyesuaian pelaksanaan registrasi pelangan jasa telekomunikasi ini mempertimbangkan kesiapan dan kehandalan sistem, untuk melakukan validasi data pelanggan dan mempertimbangkan perlindungan terhadap kepentingan pelanggan jasa telekomunikasi.

Deteksi Kuman TB dengan Ponsel

Sumber : Jawapos 

​DIPATENKAN: Dewi Nur Aisyah PhD mewakili Tim Garuda 45 mempresentasikan TB DeCare di depan Wali Kota Tri Rismaharini dan jajarannya di Balai Kota, Kamis (28/9) 

SURABAYA – Mengenali bakteri tuberculosis akan lebih mudah hanya lewat telepon seluler (ponsel). Hal ini bisa dilakukan dengan penemuan TB DeCare atau Tuberculosis Detect and Care karya Tim Garuda 45 yang meraih beasiswa dari Presiden RI untuk kuliah di Inggris pada tahun 2014 lalu. Mereka adalah lulusan University College London dan University of Edinburgh.

Mereka adalah Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, PhD, 28 (University)

College London), Ali Akbar Sptiandri, ST, MSc, 26 (University of Edinburgh),

Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, ST, 24 (King’s College London), Muhammad Rezqi,

Berita Terkait

Museum Virtual 3D, Museum Tidak Lagi Membosankan

SKom, MSc, 25 (University of Edinburgh), Vani Virdyawan, 24, dan Dwi

Mahendro, ST, 25 (Imperial College London).

Kemarin (28/9), karya mereka ini dikenalkan kepada orang nomor satu di Surabaya, yakni Wali Kota Tri Rismaharini. Dua perwakilan dari Tim Garuda 45 yakni Ali Akbar Sptiandri dan Dewi Nur Aisyah mempresentasikan software TB DeCare ini kepada Risma dan jajarannya di ruang sidang wali kota di Balai Kota Surabaya.

Dalam presentasinya, Dewi mengatakan bahwa TB DeCare merupakan alat yang akan mempermudah kerja tim medis dalam mendeteksi bakteri tuberculosis. Paramedis tak perlu repot lagi mengintip dari lensa mikroskop untuk mendeteksi bakteri tuberculosis. Cukup melihat layar telepon genggam, kuman TB ini sudah bisa diketahui dengan jelas.

“Alat ini menggunakan aplikasi TB DeCare yang dipasang di dalam ponsel. Dengan menggunakan digital image processing, kita bisa mengetahui jumlah bakteri TB yang dideteksi dari sputum (dahak, Red) pasien,” kata Dewi.

Mendengar penjelasan tersebut, Risma mengaku siap mendukung penemuan tersebut. Menurut Risma, kalau pun tidak untuk di Surabaya, alat tersebut bisa bermanfaat untuk daerah lain.

“Kami siap bantu dengan membentuk tim untuk men-support ini. Saya kira ini akan sangat bermanfaat. Karena itu, kami siap support untuk bantu karena ini merupakan sumbangsih untuk bangsa,” ujar Risma.

Risma pun memerintahkan Kepala Dinas Perdagangan Arini Pakistyaningsih untuk membantu pengurusan hak paten TB DeCare. Arini pun menyambut baik dan mengatakan bahwa untuk pengajuan hak paten harus ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Di antaranya, foto alat penemuan, uraian penemuan, deskripsi abstraksi penemuan, dan membayar biaya permohonan paten. Lalu, ada pemeriksaan substantif bahwa produknya harus dijelaskan detailnya, difoto, kemudian mengajukan dalam bentuk badan hukum. Persyaratan mengurus hak paten itu kemudian diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM.

“Kami segera mengajukan administrasi. Begitu mengajukan, kita dianggap punya hak untuk sementara. Ada petugas yang akan memeriksa apakah merek yang diajukan sudah ada atau belum. Kalau sama, akan dikembalikan dan diperbaiki,” jelas Arini.

Komentar lain disampaikan oleh Ketua IDI Kota Surabaya, dr Brahmana Askandar SpOG. Dia menekankan bahwa pentingnya menyikapi penemuan di bidang medis ini. “Yang perlu dikedepankan bukan sekadar kecanggihan. Tapi juga tepat guna di Indonesia. Kami siap menfasilitasi karena ini luar biasa. Mudah-mudahan penemuan ini jadi kebanggaan kita untuk Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ali Akbar Sptiandri menjelaskan bahwa timnya ingin mempermudah kerja tim medis dalam mendeteksi bakteri tuberculosis. “Kamera ponsel bisa menjadi mikroskop dengan perbesaran hingga seribu kali. Dengan alat ini, pendeteksian bakteri TB pada sputum pasien tidak lagi memerlukan kinerja evaluasi laboran dan mikroskop di laboratorium. Cukup menggunakan ponsel yang lebih mudah, efisien, dan dengan hasil yang akurat,” beber Ali.

Dari hasil penelitian, alat ini mampu mendeteksi keberadaan kuman TB sampai 90 persen.

Dia menceritakan bahwa dirinya bersama tim mengembangkan alat ini sejak 2014. Saat itu, mereka sering kumpul ketika masih kuliah di Inggris. Awalnya tim hanya beranggotakan empat orang. Dari kumpul-kumpul, timbul ide untuk mengikuti Microsoft Imagine Cup 2015 di London dan mereka berhasil memenangi dengan temuan TB DeCare tersebut.

“Awalnya kita ingin menciptakan alat pendeteksi HIV AIDS. Tapi berubah ke tuberkolosis karena saya pernah jadi anggota LSM yang meneliti TB di Jakarta,” kata Ali.

Akhirnya mereka bekerja keras menciptakan alat ini. Kendala berupa perbedaan tempat kuliah tak jadi hambatan. Mereka menggunakan media sosial Skype untuk mendiskusikan proyek penelitian itu. “Memang banyak ributnya karena kami kuliah di kampus yang beda. Dua orang kuliah di London, yang dua kuliah di Skotland. Kami yang di London yang mengerjakan hardware, yang di Skotland mengerjakan softwarenya,” terang Ali.

Akhirnya, tim dengan nama Garuda 45 ini bisa menyelesaikan dan berhasil menjadi Pemenang Imagine Cup 2016 tingkat nasional kategori World Citizenship. “Kami terus mengembangkan alat. Yang sekarang ini merupakan versi kedua,” kata Ali.

Ali berharap timnya bisa bekerjasama dengan dinas kesehatan dan puskesmas di seluruh Indonesia. “Dengan menggunakan alat ini, bisa menyingkat waktu dan lebih banyak pasien yang diperiksa. Bisa 20 orang lebih dalam sehari,” ungkapnya.

Ali mengaku tidak menutup kemungkinan aplikasi hasil timnya akan dibisniskan. “Tapi kami belum memikirkan sampai ke situ. Kalau pun menjual aplikasi, pasti tidak akan mahal,” pungkasnya.

E-tilang Mulai Diuji Coba, Langgar Lalin Langsung Terekam CCTV

MONITOR CCTV: Petugas menunjukkan rekaman CCTV yang merekam plat nomor setiap pengendara yang melintas. (BAEHAQI ALMUTOIF/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sepertinya serius meredam pelanggar lalu lintas. Wacana penerapan e-tilang dengan menggunakan close circuit television (CCTV) pun sedang dilakukan uji coba.

Kepala Bidang Lalu lintas Dinas Perhubungan (Kabid Lalin Dishub) Surabaya Robben Rico mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan uji coba terkait rencana penerepan e-tilang yang nantinya akan di pasang dibeberapa titik.

“Sekarang lagi diuji coba di perempatan Terminal Bratang,” kata Rico, Selasa (29/8).

Dia melanjutkan, uji coba tersebut bakal dilakukan selama dua minggu lamanya. Setelah itu dilakukan evaluasi terkait hal ini.

Sumber : jawapos 

“Kalau settingannya sudah pas. Lalu kami terapkan disejumlah titik,” jelasnya.

Disebutkannya, tujuan dari pemasangan e-tilang adalah untuk mendidik warga agar taat aturan tanpa ditunggui petugas. Diakuinya, CCTV untuk e-tilang ini berbeda dengan yang biasa digunakan untuk pemantauan lalu lintas.

Alat yang dipakai kali ini mampu melakukan analisa terhadap pelanggaran pengendara. Dengan merekam plat nomor kendaraan dalam data base. Begitu juga dengan jenis pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan raya.

“CCTV ini bisa melakukan tindakan dan analisa. Misalkan ada pelanggaran, akan di capture. Jadi beberapa foto terekam dan ketahuan. Misalkan melebihi batas batas garis saat lampu merah,” tegasnya.

Soal sanksi pelanggar, Rico mengungkapkan, Dishub Surabaya masih berkordinasi dengan jajaran terkait. Seperti kepolisian dan kejaksaan. “Sanksi kami belum bisa dijelaskan. Karena akan kami adakan rakor terlebih dahulu dengan jajaran terkait,” tuturnya.

Diakuinya, pihaknya hanya sebatas menyiapkan peralatan. Sementara kewenangan tilang ada di jajaran lainnya. “Semua jaringan, kamera, Pemkot tanggung jawab,” ungkapnya.

Uji coba untuk penerapan sistem pengawasan lalu lintas dengan memasang sejumlah kamera dengan terintegrasi di Surabaya Intelengence Transport System (SITS). Hal itu untuk memonitor pelanggaran lalu lintas dengan berbasis IT.

Lokasi uji coba baru diletakkan di satu titik yaitu di persimpangan Bratang. Tepatnya di Jalan Nginden arah ke Taman Flora. Di sana, diberikan satu pemasang kamera tambahan. Terdapat dua kamera resolusi tinggi yang dipasang. Bukan di atas traffict light seperti biasanya. Melainkan agak mundur sekitar empat meter sebelum traffict light .

Di titik tersebut ada dua kamera yang dipasang. Satu mengarah ke utara dan lainnya ke barat. Kamera ini dapat memonitor pelanggaran lalu lintas mulai kendaraan yang melaju di atas batas kecepatan, yang berhenti melewati batas garis stop, juga kendaraan yang melawan arus.

Selain itu dengan kamera ini juga akan bisa mendeteksi jenis kendaraan dan nomor polisi kendaraan bermotor di titik tersebut. Sehingga pengawasan lebih optimal.

‘Iron Man’: Kecerdasan Buatan Bisa Picu Perang Dunia III

Sumber : Detikcom 

Elon Musk kembali menyerukan bahaya teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Dia mengatakan, teknologi tersebut bisa mengancam manusia di masa depan dan memicu Perang Dunia III.

“China, Rusia, dan negara lain segera menyusul dengan ilmu komputer yang kuat. Persaingan untuk keunggulan AI di masing-masing tingkat nasional akan memicu Perang Dunia III,” tulis Musk melalui akun Twitter @elonmusk.

Cuitan pria yang kerap disebut sebagai Iron Man di dunia nyata tersebut merupakan tanggapannya terhadap pidato Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai kecerdasan buatan yang disebut sebagai masa depan umat manusia.

“Kecerdasan buatan adalah masa depan, tak hanya bagi Rusia, tapi juga untuk seluruh umat manusia. Hadir dengan peluang besar, tapi juga ancaman yang sulit diprediksi. Siapapun yang menjadi pemimpin di bidang ini akan menjadi penguasa dunia,” kata Putin dalam pidatonya di depan para pelajar Rusia.

Bulan lalu, Musk bergabung bersama lebih dari 100 ahli AI. Mereka menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melarang persenjataan robot. Dikutip detikINET dari Cnet, Selasa (5/09/2017), Musk sangat percaya pada ancaman AI. Dia pun menjalankan program Open AI yang mendorong pengembangan AI agar dapat diawasi publik.

Bos Tesla dan perusahaan teknologi luar angkasa Space X ini juga memiliki proyek sampingan seperti Neuralink, yang bertujuan untuk menciptakan interface otak komputer untuk membuat manusia lebih kompetitif dalam menghadapi AI yang baru muncul.

Pada Agustus lalu, lewat akun Twitternya, Musk juga menyebutkan bahwa teknologi AI adalah ancaman yang lebih berbahaya ketimbang Korea Utara.

Lanjut baca Link :

https://fajarzone2015.wordpress.com/2017/09/12/bahaya-robot-pembunuh-terminator-bisa-jadi-kenyataan/

Bahaya, Robot Pembunuh ‘Terminator’ Bisa jadi Kenyataan

Paris- Sepertinya kekuatan jahat robot di film-film kini kian nyata, ketika robot manusia itu akhirnya menyerang manusianya itu sendiri seperti layakanya di film Terminator.

Hal tersebut diperingatkan oleh tokoh teknologi terkemuka, termasuk ilmuwan Inggris Stephen Hawking dan pendiri Apple Steve Wozniak, Selasa(28/7/2015).

Mereka mengeluarkan peringatan keras terhadap pengembangan robot pembunuh. Senjata mandiri menggunakan kecerdasan buatan untuk memilih sasaran tanpa campur tangan manusia itu digambarkan sebagai “revolusi ketiga dalam peperangan, setelah bubuk mesiu dan senjata nuklir”, kata sekitar 1.000 pakar teknologi terkemuka dalam surat terbuka.

“Pertanyaan kunci bagi kemanusiaan saat ini adalah apakah akan memulai lomba senjata AI (kecerdasan buatan) global atau mencegah permulaannya,” kata mereka.

“Jika kekuatan militer utama terus mendorong pengembangan senjata AI, perlombaan senjata global pada hakekatnya tak terelakkan lagi,” kata surat itu.

Ide mesin pembunuh otomatis –yang dipopulerkan oleh Arnold Schwarzenegger dalam film “Terminator”– berubah dengan cepat dari sekadar rekaan ilmiah menjadi kenyataan, kata ilmuwan tersebut.

“Pengembangan sistem semacam itu –secara praktis jika tidak secara hukum– dimungkinkan dalam hitungan tahun, bukan dasawarsa,” kata surat tersebut.

Para ilmuwan tersebut melukiskan skenario Hari Kiamat jika senjata otomatis itu jatuh ke tangan teroris, diktator, atau panglima perang, yang ingin melakukan pemunahan suku.

“Banyak cara untuk AI membuat medan perang lebih aman bagi manusia, terutama warga, tanpa menciptakan peralatan baru untuk membunuh manusia,” kata kesimpulan surat tersebut.

Surat terbuka itu dibacakan dalam pembukaan Konferensi Internasional Kecerdasan Buatan 2015 di Buenos Aires.

KOMPAS.com – Lebih dari 100 ahli robot terkemuka mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah untuk mencegah pengembangan “robot-robot pembunuh”.

Sepucuk surat kepada PBB dikirimkan para ahli terkemuka bidang teknologi informasi itu, menegaskan bahwa dunia makin dekat pada ‘revolusi ketiga perangkat perang’ yang sangat berbahaya: robot pembunuh.

Dalam surat yang melibatkan antara lain multi miliuner yang merupakan pendiri dan pemimpin Tesla, Elon Musk, serta pendiri Google DeepMind, Mustafa Suleyman, disebutkan bahwa ‘teknologi otonom yang mematikan’ adalah sebuah ‘kotak Pandora,’ yang berbahaya dan bahwa kita sedang berpacu dengan waktu.

Sebanyak 116 ahli meminta larangan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intellegent, AI) dalam pengembangan persenjataan.

“Sekali dikembangkan, maka konflik bersenjata akan meningkat ke suatu skala besar yang tak pernah terjadi sebelumnya, dan bisa melesat jauh lebih cepat dari yang dapat dipahami manusia,” bunyi surat tersebut.

BACA JUGA :

2025, Manusia Diramalkan Menikah dengan Robot

3 Pekerjaan Ini Bakal Digantikan Robot dalam 5 Tahun

Restoran Ini Pekerjakan 3 Robot untuk Bikin Pizza

“Hal itu bisa menjadi senjata untuk teror, senjata yang digunakan teroris dan ancaman terhadap warga biasa, dan senjata yang diretas untuk berperilaku dengan cara yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Apa itu ‘robot pembunuh’?

Robot pembunuh adalah senjata yang sepenuhnya mandiri atau otonom yang dapat memilih dan mengincar sasaran tanpa campur tangan manusia. Sampai saat ini robot-robot itu tidak ada tapi kemajuan teknologi membuatnya bisa terwujud dalam waktu dekat.

Mereka yang setuju pada robot pembunuh menyebut bahwa undang-undang perang saat ini bisa memadai untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul jika robot-robot itu dikerahkan dalam penugasan perang.

Menurut mereka yang bisa dilakukan sekarang adalah moratorium, bukan larangan langsung.

Namun, mereka yang menentang penggunaannya menyebut bahwa robot jenis ini adalah ancaman bagi kemanusiaan dan karenanya robot pembunuh dan jenis mesin pembunuh ‘otonom’ lainnya harus dilarang.

Ada nada mendesak dalam pesan dari pemimpin teknologi itu, berupa peringatan bahwa “waktu kita untuk bertindak sama sekali tidak lama.”

“Setelah kotak Pandora ini dibuka, akan sulit ditutup lagi.”

Para ahli meminta apa yang mereka anggap sebagai teknologi ‘yang salah secara moral’ itu untuk ditambahkan ke daftar senjata yang dilarang berdasarkan Konvensi PBB tentang Senjata Konvensional Tertentu (CCW).

Sebuah kelompok PBB yang berfokus pada persenjataan otonom dijadwalkan bertemu pada hari Senin (21/8/2017) namun pertemuan tersebut telah ditunda ke bulan November.

Kemungkinan larangan pengembangan teknologi ‘robot pembunuh’ telah dibahas sebelumnya oleh beberapa komite PBB.

Pada tahun 2015, lebih dari 1.000 pakar teknologi, ilmuwan dan peneliti menulis sepucuk surat peringatan tentang bahaya persenjataan mandiri.

Penandatangan surat itu antara lain ilmuwan Stephen Hawking, pendiri Apple Steve Wozniak dan Elon Musk.

Editor: Reza Wahyudi

Sumber: BBC Indonesia

Mantan Eksekutif Facebook Sembunyi di Hutan, Paranoid dengan teknologi robot yang mempengaruhi Politik di masa depan

Martinez. Foto: Facebook

Jakarta – Namanya Antonio Garcia Martinez, mantan Product Manager Facebook yang mengundurkan diri. Setelah keluar dari jejaring sosial terbesar dunia itu, dia juga memilih bersembunyi di hutan terpencil. Apa alasannya?

Martinez rupanya paranoid bahwa masyarakat di masa depan akan kolaps dan kacau balau. Itu karena pesatnya perkembangan teknologi. Martinez yakin robot di masa depan akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia.

“Dalam 30 tahun, separuh manusia tidak akan memiliki pekerjaan. Masa itu bisa menjadi kacau, bisa ada revolusi,” kata dia yang dikutip detikINET dari Sunday Express.

Tak menutup kemungkinan akan ada konflik bersenjata besar-besaran. “Kalian tak menyadarinya, tapi kita sedang dalam perlombaan antara teknologi dan politik, dan teknologi menang. Teknologi berada jauh di depan,” papar dia.

“Mereka akan menghancurkan pekerjaan dan mengganggu ekonomi bahkan sebelum kita bisa beraksi sehingga kita harus benar-benar waspada soal itu,” tambah Martinez.

Opini Martinez itu agaknya cukup pantas didengar karena dia sudah cukup berpengalaman di jagat teknologi. Sebelum bekerja di Facebook, dia adalah penasihat di Twitter. “Aku melihat akan seperti apa dunia ini dalam 5 sampai 10 tahun ke depan,” ujar Martinez.

Maka Martinez pun memilih menyepi di hutan wilayah Seattle dan meninggalkan hingar bingar teknologi. Ia tinggal di sana dan membekali diri dengan senjata api, mengantisipasi segala kemungkinan di masa depan.

Ketakutan terhadap perkembangan robotika dan kecerdasan buatan memang sudah disuarakan beberapa sosok pintar, di antaranya Elon Musk sampai Stephen Hawking. Tapi ada pula yang membelanya seperti Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook.

Uji Coba Aspal Plastik, Stabilitas Jalan Lebih Kuat 40 Persen

​DENPASAR, KompasProperti – Beragam inovasi telah dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).


Setelah Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), Balitbang berinovasi dalam pengembangan teknologi pemanfaatan limbah plastik untuk material perkerasan infrastruktur jalan berupa aspal plastik.

Pengembangan teknologi ini dilatarbelakangi jumlah sampah plastik yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hingga 2019 mendatang, limbah tak terurai ini diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada di seluruh Indonesia.

Dari jumlah ini, potensi limbah plastik yang dapat diubah pemanfaatannya menjadi jalan sepanjang 190.000 kilometer.

Estimasi ini berdasarkan asumsi plastik yang digunakan sebanyak 2 hingga 5 ton untuk setiap 1 kilometer jalan.

Kepala Balitbang Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga menuturkan, penelitian dan pengembangan teknologi pemanfaatan limbah plastik, sejatinya sudah berlangsung sejak lama. 

Namun, uji cobanya baru diimplementasikan perdana di area Universitas Udayana, Bali, dan Jalan Raya Sri Ratu Mahendradatta, pada 28-29 Juli 2017, dengan menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Uji coba terhadap jalan dengan total panjang 700 meter ini dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi daya tahan, dan seberapa kuat daya rekat aspal plastik.

Baca juga: 9,52 Juta Ton Sampah Plastik, Bisa Perkeras 190.000 Kilometer Jalan

“Hasil sementara ini, aspal dengan tambahan material sampah plastik jauh lebih lengket, secara teknis stabilitasnya pun lebih baik. Keuntungannya akan lebih tahan terhadap deformasi, dan daya lekat tinggi,” tutur Danis kepada KompasProperti , Sabtu (29/7/2017).

Dana yang dibutuhkan untuk mengaspal jalan sepanjang 700 meter tersebut sekitar Rp 600 juta untuk satu kali lapisan dengan ketebalan 4 sentimeter.

Tentu saja, kata Danis, biaya ini jauh lebih murah dengan tingkat stabilitas 40 persen lebih tinggi dibanding aspal tanpa plastik. Pasalnya, jalan dengan aspal tanpa plastik harus dilapisi berulang untuk mencapai stabilitas memadai.

“Setelah uji coba ini, Balitbang akan melakukan pengamatan secara transversal, dan longitudinal,” tambah Danis.

Selain di Bali, Balitbang Kementerian PUPR juga akan melakukan uji coba di jalan nasional di wilayah Bekasi yakni Jalan Raya Bekasi-Cikarang pada pertengahan Agustus 2017.

Panjang jalannya sekitar 2 kilometer dengan lebar 14 meter. Biaya yang dibutuhkan senilai Rp 1,5 miliar.

“Kami juga berencana mengaspal jalan di lingkungan Istana Negara. Saat ini sedang menunggu penyelesaian penataan infrastruktur termasuk drainasenya,” imbuh Danis.

Sementara itu, Deputi Bidang Sumberdaya Manusia, IPTEK, dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Safri Burhanuddin mengatakan, pemanfaatan limbah plastik sebagai material pengeras jalan merupakan solusi mengatasi sampah.

“Kami sudah punya rencana aksi nasional mengurangi limbah plastik hingga 70 persen sampai tahun 2025 mendatang,” kata Safri.

Pemanfaatan limbah plastik menjadi aspal jalan ini merupakan solusi sekaligus bagian dari aksi nasional mereduksi sampah di seluruh Indonesia.

“Kami melibatkan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI). Nantinya replikasi jalan aspal plastik ini juga akan dilakukan di 16 kota yang limbah plastiknya dapat dipasok ADUPI,” tambah Safri.

Rekomendasi

Setelah serangkaian uji coba dilakukan, Balitbang berencana menyiapkan pedoman manual, yang bisa menjadi bahan penelitian lebih lanjut oleh kalangan akademisi. 

Balitbang juga akan memberikan rekomendasi yang diterbitkan pada September-Oktober 2017 terkait masalah teknis, dan ketersediaan bahan baku.

Selain limbah plastik, Balitbang tengah mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah karet dan karet alam.

“Kami arahkan kepada pemanfaat di bidang jalan dan pintu-pintu irigasi. Kami sudah identifikasi. Cuma pengolahannya perlu waktu. Sebelum akhir 2017, kami kemas semuanya dalam satu rekomendasi untuk dapat diterapkan secara massal,” jelas Danis.

Pasalnya, tambah dia, secara teknologi Indonesia sangat mampu mengembangkannya karena itu diharapkan partisipasi aktif masyarakat yang lebih luas.

“Dengan teknologi ini, mudah-mudahan limbah plastik dan karet dapat berkurang drastis, dan masyarakat sadar untuk memanfaatkannya lebih bijak,” pungkas Danis.